Minggu, 26 Februari 2017

Perjalanan Terlama 🚌🚌🚌

Weekend..... πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ™ŒπŸ™ŒπŸ™ŒπŸ‘ΌπŸ‘ΌπŸ‘Ό
Kalau udah Sabtu bawaannya sumringah banget. Kenapa? Mau mudik soalnya, ketemu Ibu mamih, Adek ganteng, Abah cakep, Uti, saudara, tetangga, anak-anak (#eh, Cici maksudnya πŸ˜…), taneman, ketemu rumah, ketemu kamar kesayangan (meski seringnya ketiduran di depan TV πŸ˜…), ketemu dapur (tempat bereksperimen paling yahuuut menyalurkan bakat terpendam, meski seringnya gagal πŸ˜‚), dan masih banyak lagi.
Biasanya waktu tempuh dari kos sampai rumah hanya memakan waktu kurang lebih 1 jam kalau diantar Abah atau Mail, dan 1,5 jam kalau naik kendaraan umum. Nha berhubung jalan raya dari tanah rantau menuju kampung halaman lagi bagus-bagusnya (sampai-sampai kalau pas hujan bisa jadi kolam lele #eh), jadi banyak perbaikan disana-sini. Sepertinya perjalanan saya kali ini benar-benar akan memakan waktu lama. Terhitung sudah lebih dari 3 jam, saya masih betah duduk di dalam bus, sedangkan perjalanan baru separuhnya (eh ini busnya malah berhenti lagi). Untungnya sepulang sekolah tadi, saya sempat tidur siang (menstabilkan kondisi tubuh, kebetulan badan sedang agak manja πŸ˜·πŸ˜”) dan sempat isi amunisi πŸ›πŸ› (takut pingsan di jalan πŸ˜…), bawa perbekalan pula (malah udah habis).
Sebenarnya kalau kondisinya seperti ini agak membuat malas untuk pulang karena seringnya pulang hanya untuk numpang tidur saja πŸ˜‘. Tapi apa mau dikata, ternyata hasrat untuk bertemu keluarga mengalahkan rasa capeknya saya, membuat lupa lamanya perjalanan kalau pas macet begini.

Hmmm ngomong-ngomong busnya berhenti lagi πŸ˜…

Sembari membunuh waktu tunggu
#dari balik kaca

Jadi yang bisa saya simpulkan dari perjalanan pulang saya kali ini adalah:
1. Siapkan fisik sebelum bepergian
2. Jangan biarkan perut kosong saat akan bepergian
3. Bawa perbekalan (makan, minum, uang) yang cukup
4. Bawa buku bacaan (bagi yang gemar baca) biar nggak bosan di bus atau bisa juga dipakai untuk tilawah nih...
Sekiaaan...
Happy weekend... πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

PS: Jane masih pengin ngomong banyak, tapi ini daya si Leno udah limit (udah merah baterainya) πŸ˜”πŸ˜”

Selasa, 21 Februari 2017

"Sutrah"


Sutrah berarti pembatas atau penghalang. Kata "Sutrah" mulanya memang cukup asing bagi saya. Waktu itu saya sudah memasuki jenjang perguruan tinggi, seorang teman memberikan saya wejangan tentang cara sholat yang baik menurut Rasul. Dari perbincangan tersebut, saya baru tahu apa itu sutrah. Kemudian, untuk kedua kalinya saya juga menemukan kata sutrah ketika saya membaca salah satu buku pinjaman dari teman. Di dalamnya ada pokok bahasan yang membahas tata cara sholat dan adab-adabnya (Hehe... maklum... sholat saya masih banyak yang mesti dibenahi πŸ˜…).

Terus apa yang aneh dari kata "sutrah"? enggak, enggak ada yang aneh sama sekali. Yang aneh saya, masa istilah seperti itu baru ngerti setelah masuk kuliah.... ish.. ish.. ish.....πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜” . Selama ini kemana? hmmmm.... kemana yaaa? hihi... ke kelas aja yuuuuuk...... 🏠🏠🏠

Kelas, merupakan tempat belajar sekaligus tempat bermain bagi the krucilers (sebutan saya untuk anak-anak πŸ˜„). Biasanya saat jam istirahat tiba, tak sedikit krucil yang gemar berlarian di dalam kelas, berkejar-kejaran, atau sekedar duduk ngobrol di salah satu pojok ruangan. Sudah barang tentu aktivitas-aktivitas tersebut menghasilkan suara yang cukup keras. Suara hentakan kaki ke lantai, teriakan krucil saat dikejar temannya, atau suara krucil ketika memberikan aba-aba kepada pihak kawan sekelompok. Bahkan yang hobinya main bola dengan bola kecil (biasanya untuk mandi bolaaa πŸ˜…) di luar kelas pun, terdengar histerianya. Nha disaat seperti ini biasanya menjadi saat-saat yang menimbulkan banyak kegaduhan. Kebisingan yang mereka timbulkan tak jarang membuat kepala pening (apalagi kalau sedang sakit gigi), juga mengganggu konsentrasi calon-calon penghuni surga (Aamiin...) saat sedang melaksanakan sholat di kelas (#eh).

Suatu saat ketika saya sedang sholat di kelas, sekelompok anak lelaki sepertinya sedang memainkan peran polisi dan pencuri. Alhasil kejar-kejaran pun tak dapat dihindari. Beberapa memilih jalur yang aman (sepi, nggak dilalui orang), beberapa agak ehem-ehem nih, sampai-sampai jalur sholat saya (padahal udah di pojokan belakang) pun ikut dilalui. Alhasil sempat salah satu anak terduduk di depan sajadah sambil tertawa terpingkal-pingkal.

"he....ngawur, ustadzah kan lagi sholat", celetuk salah seorang krucil.

"krrrrkkkkkk", seretan kursi yang menyebabkan kaki-kakinya bergesekan dengan lantai, terdengar tidak jauh dari tempat saya sholat. Rupanya salah seorang yang mengerti (dalam tanda kutip) kalau ustadzahnya itu sedang sholat (dan mengerti, paham, kalau melewati tempat sujud orang sholat itu tidak boleh), dia meletakkan kursi yang telah diseretnya itu ke depan sajadah saya.

"Hei, untuk apa hei....", salah seorang teman bertanya heran.
"Ih... itu sutrah, biar larinya nggak nglewati ustadzah, kan nggak boleh lewat depan orang sholat", tutur si lelaki kecil penyeret kursi. Hihi... saya jadi dengerin percakapan mereka yaaaaa πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜’

Nha, dari kejadian tersebut, saya jadi berpikir ternyata pengetahuan saya emang cetek dan lambat banget yaaaa. Saya tahu istilah "sutrah" ketika saya duduk di perguruan tinggi, sedangkan lelaki penyeret kursi itu baru duduk di kelas 4 SD (Ooowww, apalah saya iniiii... 😊)

Kesempatan-kesempatan berikutnya, ketika saya sholat dan lupa tidak meletakkan sutrah di depan sajadah (lupanya hampir setiap harii πŸ˜‚), maka lelaki-lelaki kecil saya akan meletakkanya tanpa diminta. Biasanya mereka menggunakan kursi sebagai sutrahnya. Setelah itu barulah mereka berbincang kembali di seberang sutrah yang telah mereka letakkan.


Dari seberang kursi kelihatan kan kaki-kaki mungilnya krucil... πŸ˜‰

"Oooooh jadi sutrah itu kursi yaaa?", hmmmmm sisi lola saya muncul lagi nih.. 😁
Bukan, bukan bermaksud bilang kalau sutrah itu kursi, tapi kursi bisa jadi sutrah atau salah satu sutrah itu bisa berupa kursi (nha lhooo).
Selain meletakkan kursi di depan tempat sujud kita sebagai sutrah, kita juga bisa meletakkan barang-barang yang lain, misalnya tongkat, tumpukan buku (maklum, di kelas adanya buku dan buku 😁) atau bisa juga dengan menggunakan tas. Manfaat sutrah ini adalah sebagai pembatas atau penghalang. Sehingga orang lain yang ingin lewat di depan jalur sholat kita menjadi mengerti, batasan mana yang tidak boleh ia lalui, batasan mana yang boleh ia lalui. Apa tidak cukup dengan sajadah saja? Sebenarnya dengan sajadah juga sudah bisa jadi penanda, tapi kalau situasinya seperti saya (kadang sholat di tempat yang memang agak ramai, apalagi di kelas yang krucilnya hobi lari-lari muluuuu), sutrah ini sangat membantu mempertegas batasan mana yang boleh dilalui dan mana yang tidak.



Minggu, 19 Februari 2017

"Future Author"

"Future Author"....
Hehe mimpi banget yaaa? πŸ˜… tapi kata Abang (Abangnya siaapaaa? πŸ˜”) bermimpi itu wajib (mimpi; jangan dibaca bunga tidur yaaa....). Bermimpilah, maka setidaknya kamu punya tujuan dalam hidup. Seperti semboyan yang berbunyi "dare to dream" (eh, bukan semboyan yaaa? πŸ™Š), maka wahai engkau para kaum pemimpi, janganlah takut bermimpi, be brave..... !

Mimpi, terkadang menjelma menjadi kekuatan tersendiri bagi si empunya. Kekuatan tersebut menimbulkan hasrat dan tekad si empunya untuk teruuuuus berusaha agar dapat menggapai mimpinya. Sebagai contoh, bermimpi dapat nilai 100, maka si empunya akan punya kekuatan untuk belajar, mengerjakan soal dengan teliti agar hasilnya sempurna. Bermimpi punya pendamping yang soleh (#eh...πŸ™ˆ), maka si empunya akan memantaskan diri, menyolehakan diri. Bermimpi menjadi seorang dokter, maka si empunya akan berusaha untuk bisa masuk di akademi kedoketran, lulus dengan nilai memuaskan, dan mengamalkan ilmunya di dunia kedokteran. Bermimpi menjadi seorang penulis, maka si empunya pun seolah akan memiliki kekuatan untuk terus berusaha menulis (meski ngantuk-ngantuk, yang penting nuliss duluuu πŸ˜…).

"Future Author", dari mana sih saya dapat kata-kata itu? dari sini......
 
           menatap singgasana Abang                      menunggu Abang                 
         
Pagi tadi adalah pagi yang sudah saya nanti-nanti sejak dua bulan terakhir. Si Abang yang kata-katanya menyejukkan hati berkunjung ke tanah rantau saya. Sudah barang tentu kesempatan langka ini tidak mau saya sia-siakan. Meski saya harus merelakan akhir pekan saya yang seumur jagung (sepertinya lebih tepat seumur kedelai, singkat bangeet soalnyaaaa), namun rasanya terbayar sudah ketika Abang benar-benar muncul di hadapan saya. Abang, dengan kaos putih tulangnya itu tampak gagah dan menawan (kalau lihat orang pintar emang bawaanya menawan hati... πŸ˜…). Senyumnya sumringah, meski tisu tak lepas dari tangannya (sepertinya sedang flu).

Abang... Abang... Abang....
Abang siapa sih? Siapa lagi kalau bukan Abang Tere Liye ... 😊. Kali ini Abang tidak sendiri, beliau hadir bersama Sastrawan asli Banyumas, Bapak Ahmad Tohari. Beliau ini juga tidak kalah masyhurnya, beberapa cerpen dan novel sudah diterbitkan, bahkan ada satu novel yang cukup fenomenal (Ronggeng Dukuh Paruk) yang akhirnya difilmkan.

 Abang dan Bapak Ahmad sedang memberikan pemaparan materi

Pesan Abang yang dapat saya simpulkan dari talkshow kali ini adalah:

1. Untuk menjadi seorang penulis yang produktif, paling tidak ada 3 hal yang harus kita perhatikan, diantaranya:
  • Menulis itu harus dipaksakan. Menulislah sebanyak yang kamu mampu. Jangan pernah pikirkan respon yang akan orang berikan terhadap tulisan kita, jangan takut, menulislah. Kata Abang, coba menulis 1000 kata/ hari selama 6 bulan. Jika di tengah jalan gagal, ulang lagi dari awal 😊😊. Jika berhasil, maka kita sudah sama hebatnya dengan penulis-penulis lain (laku atau tidaknya tulisan kita, diabaikan lho yaaaa). Harus 1000 kata/ hari? mau nulis apa? Apapun... nulis sms kek, diari kek, cerpen kek, liputan kek, artikel kek, atau apalah, yang penting nulis (hal +).
  • Ketika kita kebingungan mau menulis apa ya kira-kira? INGAT!!!! "Apapun bisa jadi topik tulisan". Bertemu dengan anak yang bertingkah aneh, bertemu sang dermawan, binatang kesayangan, atau apapun, semua bisa jadi topik tulisan.

  • Berhenti bertanya banyak hal tentang kepenulisan. Mau mengawali cerita dari mana ya? Endingnya mau seperti apa ya? tokohnya siapa ya? sudut pandangnya gimana ya? bla..bla... bla.... Jika kamu masih seperti itu, maka "STOP, HENTIKAN!", lalu mulailah menulis lagi (ingat yaaa, apapun bisa jadi bahan tulisan).
2. Terkadang "keras kepala" itu perlu. Keras kepala yang bagaimana? keras kepala yang komit. komit untuk terus menulis meski tidak punya pembaca, komit untuk terus menulis meski pembaca mengganggap tulisan kita tidak penting.

Selain Abang, pelajaran yang dapat saya simpulkan dari Pak A.T. adalah jangan pernah lelah berusaha, jangan pernah lelah menulis, jangan pernah menyerah. Konon katanya cerpen Beliau yang dimuat pertama kali adalah cerpen ke-19nya. Namun karena kepantangmenyerahnya Beliau, akhirnya lahirlah banyak karya yang dilirik penerbit.
Satu hal yang saya ingat dari Pak Ahmad Tohari, Beliau mengatakan bahwa menulis berarti memberikan sesuatu kepada pembaca, bisa dari isinya, bisa dari gaya bahasanya, atau lainnya. Selain itu, sebagai pemula jangan pernah takut untuk mempraktikkan jurus  ATMnya (amati, tiru, modifikasi), tapi ingat "TIDAK BOLEH PLAGIAT!". Abang juga menambahkan, dalam dunia kepenulisan, kita memang sudah seharusnya mempunyai mentor (guru). Lalu kita harus berguru pada siapa? Pada penulis yang karya-karyanya sudah banyak dimuat dan menginspirasi tentunya. Berguru dengan membaca sambil teruuuus menulis, maka lama-kelamaan kita akan memiliki ciri khas tersendiri.

Terakhir, satu kalimat yang saya ingat dari Abang adalah prinsip menulis itu pada dasarnya ada 2, yaitu "convince them" or "confuse them" (kata kunci nih, diingat... diingat πŸ˜‰).


Sesi "Book Signing" yang riweuh.... πŸ˜…

Akhir dari kegiatan hari ini diakhiri dengan sesi book signing (tanpa foto-foto yaaa, Si Abang enggak mauπŸ˜‘). Alhasil saya curi-curi deh supaya difoto, wajah Abang bisa ikut terpampang 😁..

PS: Kisah lucunya Abang ketika buku "Hafalan Sholat Delisa" pertama kali terbit. Saking antusiasnya Beliau, Beliau langsung mendatangi toko buku yang waktu itu tidak jauh dari kosnya. Dipandanglah sudut yang bertuliskan "new arrival", tapi nyatanya buku Abang tidak ada disitu, kemudian Si Abang bergegas menuju bagian yang bertuliskan "novel", tapi tidak ada juga. Karena penasaran, Abang langsung menghubungi pihak penerbit dan meminta bantuan mas-mas penjaga toko, dicarilah buku Abang lewat mesin pencari. Setelah petugas mencarikan buku Abang lewat mesin pencari ternyata buku Abang diletakkan di rak bersama tumpukan buku bacaan sholat... Yasalaaaam, bacaan sholat baru, ada ya nama sholat "Delisa"? sholat tahajud, sholat dhuha mah ada kayanya, kata salah seorang pengunjung πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Oh iya, suaranya Abang ini khas sekali ketika berbicara, logatnya mengingatkan saya pada seorang motivator idola saya jugaaa, apalagi ketika bilang "Dek"... 😁😁😁


Puki.. Puki...🍐🍐🍐


Ini pohonnya Abah, yang nanem Abah, dan jadi pohon kesayangannya Abah. Nunggu pohon ini berbuah, sampai bertahuuuun....tahuuun lamanya (katanya siiih).

Raut sumringah terpancar dari wajahnya Abah yang cool (#eh 😎 kadang terkesan serem soalnya πŸ™ŠπŸ™ŠπŸ™Š) ketika pohon ini berbuah untuk pertama kalinya (sekitar beberapa bulan yang lalu). Waktu itu saya juga ikut sumringah karena bisa menyantap Si Puki dengan gratissss πŸ˜‚πŸ˜‚. Untuk yang pertama kalinya Puki bermunculan dari dahan-dahan pohon dengan malu-malu (belum banyak soalnya πŸ˜…). Kalau tidak salah ada sekitar 25 sampai 30an (mungkin juga lebih😁).

Yihaaaa... kali ini Si Puki pun berbuah kembali (untuk yang kedua kalinya). Dan masih sama seperti sebelumnya, masih malu-malu munculnya.
Puki-puki bergelantungan manja

Pukiii 😘🍐

Petik yang agak masak πŸ˜„

Terus berbuah ya Pukiii... bantu kami jadi sehat 😊😘😘🍐🍐🍐.

Ps: jadi teringat kisah lucu tentang Si Puki🍐--- Puki yang tertukar πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜…

Kamis, 16 Februari 2017

Rumah Baru Keluarga Shofia

"Mba, kelincinya lahiran lagi". Pesan singkat yang cukup bisa menarik bibir 2cm ke kanan dan ke kiri 😊. Setelah pernah beberapa kali pengalaman yang tidak mengenakan terjadi, akhirnya Shofia lahiran lagi (yeeeeee πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘). Kali ini Shofia melahirkan 6 bayi mungil yang putih bersih (ga bercorak maksudnyaπŸ˜‚). Jadi, total ada 11 bayi Shofia yang sudah lahir ke dunia. Keturunan pertamanya, Caca bersaudara kini sudah berusia kurang lebih 2 bulan, sepertinya sudah tidak menyusu. Sekarang giliran adiknya Caca bersaudara yang menggantikan peran tersebut 🍼🍼🍼.

Bertambahnya anggota keluarga berarti bertambah pula kebutuhan tempat tinggalnya. Karena ini jumlah kelinci terbanyak yang kami miliki, jadi mau tidak mau, kami harus membangunkan rumah baru ternyaman yang bisa dihuni oleh Shofia, Clover, Caca bersaudara, dan bayi-bayi baru (belum punya nama 😁). Berhubung area bagian belakang rumah kami tidak terlalu luas, maka diputuskan untuk membangun rumah susun dengan dua lantai untuk anak-anak Shofia. Lantai pertama untuk Caca bersaudara, lantai kedua untuk bayi-bayi baru dan Shofia (Clover? Di luar aja πŸ˜‚).

Kerja bakti bangun rumah (baca kandang)

Terima kasih Abah dan Adek yang sudah berdedikasi membangunkan rumah baru untuk Shofia 😊. Semoga menjadi rumah ternyaman dan layak huni bagi keluarga Shofia. Rumah tempat bernaung, berlindung dari panas, hujan, dan terhindar dari incaran mahluk bertaring tajam yang terlihat lugu (meooow... 🐱). Semoga keluarga Shofia bisa tumbuh berkembang dengan baik, mendapatkan pendidikan yang baik dan bisa hidup dengan baik #eh..
Terakhir, semoga dedikasi Abah dan Adek membangun rumah untuk Shofia terhitung sebagai amal jariyah di sisi Allah. Aamiin...

Keluarga Shofia dan rumah barunya

Setelah rumah, maka kebutuhan pangan pun harus tercukupi 

Baiti Jannati πŸ˜„

Rabu, 15 Februari 2017

Umpama Balon

Sejak awal pertunjukkan, kawanan balon-balon kuning memang sudah tertata rapi di bagian atap panggung. Digadang-gadang sebagai salah satu pemanis panggung, rupanya balon-balon ini memang manis sekali di mata krucill, menggoda mereka untuk mengambilnya. Tak terkecuali dengan seorang pria muda (mudanya pake bangeeet 😁) yang tiba-tiba berjalan ke arah saya dengan pandangan mata yang terus menerus menatap ke arah atap tenda di dekat panggung. Rupanya dia juga sangat menginginkan salah satu balon tersebut bisa diraihnya (mau digunakan untuk bermain, katanya). Setelah berbagai usaha dilakukan (kecuali, naik ke atas panggung, eitsss... saya larang), ternyata balon-balon di atap panggung masih enggan menghampiri pria muda ini (akhirnya nangkring di samping panggung deh nemenin saya πŸ™Š, lumayanlah bisa diajak ngobrol πŸ˜…). Dan akhirnyaaa setelah penantian sekian lama, balon yang diinginkan pria muda ini luluh juga, si balon terpisah dari kawanannya dan terbang (tertiup angin πŸ˜…) menuju si pria muda ini (Si pria muda langsung ambil balon ini dong.... nunggunya udah laamaaa bangeeet, hehe.....). Begitu senangnya si pria muda ini saat si balon ada di dalam gengggamannya (yeee... yeee... bisa main).


Mengintai kawanan balon di atap panggung, berharap ada yang terpisah dari gerombolannya
(pengen diambil πŸ˜‘)


Setelah penantian dan pengintaian sekian lama, akhirnyaaa dapat jugaaa....

Ternyata keberhasilan pria muda ini mendapatkan balon, mengakibatkan tertularnya teman-teman pria muda untuk mendapatkan balon juga (saya juga jadi ikut antusias pengen dapetin balon #eh).

Saya yang kebetulan mendapat jatah jaga di area samping panggung menjadi ikut sibuk mengintai balon-balon di atap panggung. Balon-balon yang tadinya bergerombol, perlahan terlihat terpisah dari kelompoknya, tertiup angin, pergi ke haluan yang berbeda-beda, sampai akhirnya satu-persatu balon ditemukan oleh teman-teman pria muda yang berada di area depan panggung (saya dapat? enggak...πŸ˜… lha wong balon pergi ke arah mana, saya ada dimana). Teman-teman pria muda juga terlihat kegirangan mendapat balon seperti pria muda (ada yang dipakai untuk tendang-tendangan, dilempar-lempar, dipegang aja, dielus-elus, dibawa jalan, de el el.).



******


 Keesokan harinya disambut dengan balon yang lebih banyak dan lebih warna-warni. 
balon yang kemarin?? udah lupa ... πŸ˜…

 ******

PS: Saya jadi mikir, apakah perempuan di mata lelaki juga umpama balon-balon itu? #eh πŸ™Š

Kamis, 09 Februari 2017

#Garing (1)

Berada diantara kerumunan orang yang sedang membicarakan suatu hal dan kamu tidak tahu apa-apa, mmmm... itu mungkin hal yang sangat membosankan sekaligus menyebalkan yaaaa... ketika terlibat dalam sebuah pembicaraan tapi kamu tidak bisa ikut berbicara (iya bener, nggak mudeng sih #mlongo), mungkin lebih baik untuk memilih diam, lalu alihkan perhatian kita. Jangan fokuskan pikiran kita ke perbincangan tersebut. Kenapa? Iya kan nggak mudeng juga. Hehe... itu yang pertama. Yang kedua membuat kita merasa terabaikan, padahal yang lagi asyik berbincang belum tentu bermaksud seperti itu (saya suka kasihan sama orang dalam situasi ini, mending kabur aja... kabur... 😁). Yang ketiga, membuang waktu dan energi secara percuma (iya dong? Ngedengerin cuit-cuitan yang kayanya gak ada pengaruhnya apa-apa ke kita, nggak ngerti juga). Terus gimana dong? Yaudah, bagi kamu yang sedang atau suatu saat akan mengalami situasi seperti ini, saran saya adalah:
1. Bergegas meninggalkan perbincangan
2. Lakukan kegiatan lain agar tidak bosan
3. Tetap berpikir positif, jangan berburuk sangka dengan segerombol orang yang sedang melakukan perbincangan tersebut
4. Jangan merasa diabaikan (karena kamu bisa memilih untuk tidak diabaikan hehe.. lihat poin 2, buat diri kamu sendiri sibuk... ✍πŸπŸ§πŸš²πŸš΄πŸš΅πŸ€πŸ“–πŸ”¬πŸ“

Minggu, 05 Februari 2017

"Bercahaya" untuk Kesekian Kalinya

"Coba diam sebentar, Ustadzah punya kabar gembira", rayu saya pada krucil (hehe salah satu jurus biar mereka bisa diam adalah dengan menyampaikan "kabar gembira"). Kalau anak putri yang dengar kata "kabar gembira", pasti deh langsung dinyanyiin... πŸ˜… (Kabar gembira untuk kita semua... kulit durian, kini ada durinya.... bla bla bla...).
"Apa Ust? Apa Ust?", suaranya langsung terdengar bersahut-sahutan.

(Hening sejenak.....)

"Besok Sabtu, Insya Allah... kita mau outdoor study ke Pabrik Kerupuk Tengiri ", jawab saya menerangkan. Tentu saja kabar tersebut langsung disambut dengan antusias oleh para krucilsss. Pertanyaan pun mulai bermunculan, dari A sampai Z, sampai-sampai saya bingung mau menjawabnya.

(tanya jawab pun berlangsung --- panjang kalau mau diceritakan πŸ˜…)
 *****

Keesokan harinya, giliran saya mengumumkan perlengkapan apa saja yang harus dibawa krucilsss (udah pada ribut banget ini disini, masalahnya armada yang akan mengangkut kami belum lengkap, belum cukup πŸ˜…).

"Ust... kalau mobilnya nggak cukup gimana? yang nggak kebagian mobil mau naik apa?", salah seorang krucil bertanya dengan ekspresi yang cukup..... ya.... bisa dikatakan bingung dan panik.

"Kalau nggak kebagian mobil ya berarti nggak ikut, tinggal di kelas, ngerjain tugasss", ledek saya. Hihi protes langsung melayang dari sana sini (ok fine, ustadzah cuma bercanda, Insya Allah diusahakan).
 ******

Masih ingat tentang keribetan krucillsss yang pernah saya ceritakan? iyaaa, keribetan itu terulang lagi malam itu. Malam sebelum keberangkatan kami ke Kota Bercahaya. Tapi saya pikir itu adalah salah satu ritual yang tidak boleh dilewatkan sebelum berkegiatan dengan krucil, kurang afdol... hehe... Mulai dari keribetan minta dipilihkan sandal, minta difotokan, tanya perlengkapan (meski sudah diumumkan dan dibagikan surat), curhat nggak sabar segera hari H, dan masih banyak lagi. Ribet? memang, tapi disitulah seninya. saya aja kadang suka ketawa-ketiwi sendiri ketika harus membalas (iya dibalas, karena malam itu tanyanya lewat sosmed) satu-persatu pertanyaan krucil. Sampai....malam yang seharusnya digunakan untuk kemas-kemas dan istirahatpun ternyata masih ada yang ngambek-ngambekan sama temannya πŸ˜“πŸ˜’. Ok baiklah kita tinggalkan keribetan yang satu ini yaaa.....
******
Hari H......
Pagi ini mobil sudah berjajar rapi di halaman gd. 1. Krucilss juga sudah siap berbaris dengan ibu negara di halaman gd. 2 (saya mampir gudang dulu, ambil bolaaa, yang ternyata setelah dibawa enggak dipakai, mmm). Sekitar pukul 07.00 WIB kami meninggalkan sekolah menuju kota "bercahaya". Mobil yang saya tumpangi adalah mobil ke-21 (total ada 26), kebetulan juga keluar gerbang agak di barisan belakang. Tapi yaaa... lagi-lagi emang rejeki anak soleha (eh, ustadzah soleha maksudnya... πŸ™ŠπŸ™ŠπŸ™Š aamiin), ternyata setelah kurang lebih 2 jam perjalanan, mobil yang saya tumpangi tiba di TKP pertama kali (yihaaaaa, istirahatnya bisa lamaan dikit).
******
Setelah semua berkumpul, the krucilers dikumpulkan dan dibariskan sesuai kelompoknya. Kunjungan pertama kami adalah ke pabrik pengolahan kerupuk tengiri. Karena jumlah krucill yang cukup banyak (sekitar 166, padahal cuma kelas 4 πŸ˜€), akhirnya kami masuk ke pabrik secara bergilir dan yang beruntung mendapat giliran pertama adalah anak putri.

#nunggu dulu deh


Murojaah dulu yaaaa

Masih nunggu antrean

Yeeeay hampir tiba gilirannya

udah di pabriknya nih, dekat kolam ikannya

ruang pengemasan sekaligus penimbangan
(Foto di pabrik nggak lengkap)

terakhir ke outletnya --- beli oleh-oleh....
(Sekaligus sebagai kegiatan penutup di pabrik)
******
*Destinasi Kedua .......
"TELUK PENYU", begitu kami masuk pintu gerbang (tempat pembayaran karcis masuknya) mata kami langsung tertuju pada tulisan tersebut. Tulisannya seolah-olah menyapa, menyambut kami dan mengatakan "Selamat Datang di Teluk Penyu"... (respsionis kali ah, menyambut). Teluk Penyu ini adalah salah satu kawasan wisata yang ada di Kota Bercahaya ini. Kebetulan jaraknya tidak jauh dari Pabrik Kerupuk yang kami kunjungi sebelumnya, sehingga kami memutuskan untuk singgah di sini sebelum melanjutkan perjalanan pulang kami (ngapain kesini? mensyukuri nikmat Allah, semoga keimanan kami bertambah, Ya Allah... aamiin).

nunggu giliran lagiii
seneng ust......
formasi anak putri lengkap

 Ini nih yang keasyikan sampai nggak denger kalau dipanggil
 Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?
(Senengeeee cah......)

 
 Buat istana pasir meski sendirian

Ngawasi krucils yang mencar mencar, agak lelah yaaa πŸ˜…

Mana cuacanya panasss sekaliiii

Ngaso dulu setelah bebersih, sembari menunggu teman yang sedang mandi

Udah keren Ust....

Lapar Ust....

Lapor dulu sama yang masih kasih kesempatan hidup
(Menuju tempat wudhu)







Selasa, 31 Januari 2017

Kemana Kaki Melangkah?

"Mba, nanti kita keluar Kos pukul 21.25an ya biar nggak telat", kata Mba Dedew mengingatkan.
"Iya mba, oke", jawabku dengan yakin dan percaya diri. Biasanya jika akan bepergian begini, saya akan melakukan banyak aktivitas supaya mata saya tetap ON. Tapi sekarang jarum jam baru menunjukkan pukul 20.15 WIB. Masih cukup lama dari waktu yang saya sepakati dengan kawan saya. Rasanya sudah berbagai trik saya lakukan agar Si Mata ini mau melek, tapi ternyata rasa kantuk saya lebih  besar dari hasrat mau meleknya. Alhasil ketiduran deh. Zzzzzz..
******
"Mba... mba.... mba... mba...", ternyata Si Mba Dedew udah ketuk-ketuk pintu dari tadi.
"Ayo siap-siap mbok telat", aduuuh ni kata "telat" nya membuat saya langsung melek terus cepet-cepet bangun (langsung nyamber jam tangan).
"OMG, 21.25 (telat ini mah telat.... ketinggalan bus beneran)", saking gugup dan kagetnya, saya pikir bus berangkat pukul 21.30 WIB (padahal mah kan 22.30 WIB 😰😰😰). Nggak pake mikir lama, saya langsung buka pintu kamar terus lari-lari ke kamar mandi untuk cuci muka (baru deh di kamar mandi inget πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘).
"Mba Dedeeew.... tak kira udah telat, ternyata jam keterlambatannya 22.30 yaaa? (Masih kelihatan muka paniknya)", lalu menghela napas. Udah deh lanjut beres-beres terus cus ke TKP.
******
Banyak orang dengan bawaannya yang banyak juga, berkumpul dengan keluarga masing-masing di tempat tunggu. Kalau saya? (Sama teman-teman lah 😰😰). Jangan tanya keluarga saya mana yaaaa? Pleaseeeee (ini pertanyaan yang kadang agak buat saya jadi krik-krik πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’ #tarik napas duluuu). Dan setelah sampai di tempat tunggu (dengan waktu sesuai instruksi yang ngasih instruksi πŸ˜€πŸ˜€), ternyata kita harus nunggu dulu sampai hampir 2 jam-an. Kenapa? Busnya belum datang. Jadilah dengerin kawan-kawan ngobrol ngalor ngidul (berhubung saya nggak ngerti dengan topik yang dibahas, yaudah diem aja, sesekali ngiya-iyain kalau ditanya).
******
"Lho ngapain masih pada disini? wong busnya udah di depan. Ditunggu sampai kapan tahun juga nggak bakal kesini", kata tetua suku (kebetulan kami menunggu di halaman tengah boarding dan ternyata busnya parkir d pinggir jalan raya).
Denger kata "bus udah di depan", kami langsung bergegas menenteng barang -barang kami ke TKP (eh, ke bus masuknya). Saya kebagian bus no.7, semua ada 12 bus. Banyak ya? Iya karena perginya dengan keluarga besar, bukan per-unit (Ini aja padahal banyak yang nggak ikut lhooo).
Begitu naik bus saya kebingungan, kok denahnya baru? (Dan kayanya saya satu-satunya yang nggak ngerti permasalahan denah tempat duduk yang diganti 😰--- jadi lebih nyaman sih... πŸ˜‚). Daaan begitu sudah naik bus semua, ternyata kita masih harus nunggu lagi (bus yang lain ada yang belum datang #oow).
#ok, fix berangkat dari Puertorico (pinjam istilahnya Usth. Ririen) akhirnya pukul 00.15an waktu di bus.
******
Agak meleset dari jadwal yang sudah disusun (kayanya gara-gara semalam berangkatnya telat). Seharusnya kami singgah di Indrayanti terlebih dahulu (jane bisa lihat sunrise), tapi akhirnya terdampar disini (#read: warung makan --- disuruh sarapan dulu ).


Tapi, ngomong-ngomong di sekitar tempat sarapan kami, pemandangannya keren lhooo... hamparan sawah yang kuning kehijauan dan pepohonan rimbun yang hijau...
Agak gelap ya, karena memang cuacanya mendung sekali 
(warna padi yang kuning kehijauannya nggak begitu nampak jelas)


Menu sarapan pagi ini adalah nasi, cah kangkung, ikan laaut goreng (nggak tahu spesies apa), dan segelas teh hangat (maap nggak kepoto πŸ˜€ padahal mah nggak ada yang nanyain foto jugaa πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…). Ini ngomong-ngomong saya belum cuci muka, belum sikat gigi, tapi udah cus makan aja... (maap bukanya jorok, masalahnya kepepet waktu πŸ˜‚ #never ending cari alasan).
******
Yeeeeee pantainya sudah terlihat.... πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘
Hamparan langit Maha Sempurna, bertahta bintang-bintang angkasa, namun ada satu yang berpijar, teruntai turun menyapaku.... (Eh... malah nyanyi, lagu siapa hayooo?).
Yaaak, sesampainya di pantai, terlihat hamparan langit yang biru, berpadu cantik dengan birunya air yang dihias riak ombak berwarna putih, serta pasir putihnya yang menawan, inilah Pantai Indrayanti. Pantai Indrayanti yang memiliki nama lain Pantai Pulang Syawal ini terletak di Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Meskipun tidak dapat melihat sunrise, tapi beruntunglah kami masih bisa menikmati keindahan Pantai Indrayanti di bawah naungan cuaca yang cukup cerah (sebelumnya sempat mendung, untungnya tidak hujan). Jika berkunjung kesini, jangan takut kepanasan yaaa... kenapa? karena banyak persewaan gazebo atau payung dan tikar di sepanjang tepian pantai. Disana juga ada spot foto yang bagus, yang sengaja dilengkapi dengan background bertanda hati yang sekarang sedang booming (yang ini maap nggak kepoto
Ini gazebonya tersembunyi di bagian belakang (nggak ke-poto)

Jane pengen buat istana pasir, tapi tak ada kawan πŸ˜…
******

Oke, mari kita tinggalkan sejenak Indrayanti. Dari Gunungkidul, perjalanan kami lanjutkan ke SKE (Sindu Kusuma Edupark) yang terletak di Jalan Jambon, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Perjalanan dari Gunungkidul ke Sleman ini kira-kira membutuhkan waktu sekitar 2,5 sampai 3 jam. Di tempat wisata ini, kira-kira ada 19 buah wahana yang dapat kita naiki dengan harga tiket beragam. Uniknya, semua wahana yang ada di SKE ini diberi nama dengan nama Jawa, seperti cleret gandhul (flying fox), roda mabur (ufo bycycle), sepur cilik (kereta kecil), sepur kluthuk (kereta besar), cakra manggilingan (bianglala), montor kuno (electric car), pit egrang (seg way), kursi mabur (flying chair), dan masih banyak lagi. Dari ke-19 wahana yang ada, cuma 6 wahana yang sempat saya coba (ini kendalanya adalah waktu yang udah mepet banget sama waktu mahgrib, jadi belum sempat coba semua wahana, eh udah dipanggil-panggil suruh kumpul di parkiran aja ). Di SKE kita dapat membeli tiket satuan (per wahana yang ingin dinaiki saja, harganya beragam, berkisar antara Rp. 5.000 - Rp. 40.000 kalau tidak salah) atau membeli tiket terusan (ini kaya tiket sakti. Nanti kita akan diberi gelang penanda yang dengan gelang ini kita bisa lolos masuk ke wahana mana saja, asaaaalllll bertuliskan "berlaku untuk tiket terusan", kurang lebih begitu lah..)
Nha, ketika sudah masuk di kawasan SKE, saya sejujurnya merasa seperti anak ilang... hehe... iya karena dari ke-5 cewe-cewe single (yang saya ikutin, karena yang lain sibuk sama keluarganya, hiks..) yang beli tiket terusan itu cuma saya, alhasil jiwa bolang saya keluar (iyakaan daripada tiket yang dibeli nggak kepakai yaudah PD ngebolang sendiri aja di dalam). Untungnya yaaaa (rejeki anak soleha 😁) ada pasangan suami-istri yang masih muda (tapi lebih dewasa dari saya siiih) yang ngajakin ngebolang bareng... hehehe (yesss akhirnya dapet partner). Tapi-tapi beberapa menit sebelum itu ......
"Assalamu'alaikum ustadzah R**** (murobi saya pas JT nih), sehat Ust?", sapa saya.
"Wa'alaikumsalam.... eh, kok sendirian aja.. temannya (ehm, pasangan maksudnya) mana??", balas Sang Murobi sambil menggandeng dan menyalami tangan saya.
"Hehe... iya lah Ust, ini sendirian, belum ada temennya ..... (langsung kabuuuuur.....πŸ˜…πŸ˜…)..

Baiklah... pasti udah nggak sabar mau tahu keseruan saya di SKE nih... (idiiiih PD banget πŸ˜‚), langsung saja disimak yaaaa


1. House of Terror
Wahana ini menyajikan film (bergenre horror) 8D yang menantang adrenalin kamu. Kenapa? ya karena efek 8D nya itu, kita seolah-olah dibawa masuk ke dalam dunia filmnya (ketemunya hantu muluuuu 😱). Kebetulan ketika saya masuk wahana ini, film yang diputar adalah "Phantom of House". Filmnya bercerita tentang ......... mmmmmmm ...... tentang...... (apa yaaa???? intinya mah rumah berhantu... hihi susah diceritain karena pas nonton sibuk jerit-jerit.. hehe). Di detik-detik terakhir pemutaran film, ini kaki saya kaya ada yang nyentuh cenderung nariik-narikk gituuuu (serupa adegan di film, ketika seseorang kakinya ditarik oleh hantu perempuan penjaga rumah hantunya. hiiiiiii...... angkat kaki dah langsung (dalam arti sebenarnya)).


Si gelang sakti pengganti tiket sakti

Narsis dulu sebelum film dimulai, boleh dong... πŸ˜„


After nonton, ngaso duluuuuu (Dari depan: saya, Usth. Yuli, Suami Usth. Yuli)
(nyari strategi, kira-kira mau ke wahana mana dulu, biar dapet banyak dengan waktu yang mefeeet)

2.Roti Mabur
Sebenernya disini kita cuma duduk di wahana berbentuk roti sembari nikmati putarannya yang syahdu, mendayu-dayu (nggak bisa teriak-teriak, karena putarannya kalem banget).

3. Roda Mabur (Ufo Bycycle) / Sepeda Mabur (Flying Bycycle)
Nha ada sedikit cerita yang ehem ehem nih disini. Jadi si roda mabur ini adalah roda yang diduduki oleh 2 orang, dimana orang-orang tersebut harus mengayuh pedal (sepeda) nya agar si roda ini mau jalan. ukuran rodanya cukup besar, lebih besar dari ukuran tubuh saya yang mini inilah. Nha karena kami masuk bertiga (saya, usth. Yuli dan suami), otomatis saya dong yang nggak kebagian pasangan. Sempet optimis sih karena biasanya saya juga gowes, paling ya gituuu caranya (udah PD banget ini ngantri lama). Nha detik-detik dapat giliran main (satu pasangan lagi, terus belakangnya saya), saya malah berubah jadi ragu-ragu. kenapa? kok kayaknya gedhe banget rodanya, takut nggak jalan, takut nggak dibolehin sama mas-mba penjaga pintunya (karena tempat duduknya berdua kan..).
It's my time......
"Sendirian mbaa??", kata si mas penjaganya.
"Iya, boleh kan ya???", langsung nyamperin roda (pink-nya), terus pasang sabuk pengaman.
Gowessss........ 1 detik, 2 detik, 5 detik, 10 detik, saya mulai panik. ini roda digowes kok nggak jalan-jalan yaaaa (muka tambah merah kayanya nih, malu kalau beneran nggak jalan, mana sendirian pulaaaa).
"Masss kok nggak mau jalan yaaaa", keluh saya sama si mas-mas yang berbadan besar juga. eh tanpa berkata-kata, si masnya langsung aja dorong roda saya... (yihaaaaa roda saya lepas dari landasan). Ini sebenarnya antara seneng (karena udah lepas landas) dan enggak seneng (takut di tengah jalan nggak mau jalan rodanya, OMG......).
Alhamdulillah... dan ternyata emang rejeki anak soleha (eh, rejeki anak sering gowes), meski dengan susah payah (harus mengerahkan seluruh tenaga) alhasil saya bisa meluncurkan roda saya. Sempat malu sih memang, gimana enggak, mas-mas dari bawah (lagi duduk-duduk) melihat ke arah saya (dan ngasih kode ke temannya supaya lihat ke arah saya sambil ngobrolin sesuatu, mungkin mereka "heran" atau lebih ke arah "aneh", lihat seorang mba berjilbab agak besar, dengan roknya lagi ngayuh roda mabur (tapi jangan khawatir, meski pakai rok atau gamis, biasanya saya selalu memakai celana panjang lagi di dalamnya, jadi auratnya Insya Allah aman.... 😁)).
Setelah bersusah payah, akhirnya satu putaran hampir selesai saya lewati (Ini orang-orang yang ada di antrean juga kayaknya agak penasaran, mbok mbok saya tepar di tengah jalan, mereka melihat ke arah saya dengan memberikan senyuman nggak percaya, kayanya 😁). Yeeee si roda sudah masuk landasan, si mas-mas yang tadi ngebantuin saya lepas landas (dengan cara di dorong), kali ini juga ngebantuin saya lagi kembali ke pacuan landas (dengan cara ditarik 😁). Alhamdulillah.... enggak penasaran... πŸ˜‚ (turun dari roda dengan kaki yang agak pegel-pegel asyik).
Ketika roda ngadat nggak mau meluncur, itu adalah saat yang tepat untuk ngasih kode minta bantuan πŸ˜…πŸ˜…

Penuh perjuangan nih fotonya (meski tak nampak muka).... takut-takut gimana gituuuu 
(foto dari ketinggian, di wahana tak berpintu)

4.Cakra Manggilingan (Bianglala)
Setelah berlelah-lelah ngayuh roda besar, alone pula, akhirnya saya request ke usth. Yuli supaya kita naik wahana yang nggak perlu pakai tenaga. Dan tara... sampailah di dalam kurungan besar ini (ini pakai tenaga juga sih, tapi nggak sebesar saat naik roda mabur). Disini kita hanya tinggal duduk manis, menikmati putaran yang sangat pelan (nunggu ada di titik teratas supaya bisa lihat pemandangan yang aduhaiiiii... Masya Allah sekali).
Ini takut sebenernya mah, makanya pegangan, kaki gemeteran
(Nggak berani lihat ke bawah, lihat ke arah yang jauh aja)

5. Kursi Mabur (Flying Chair)
Waktu semakin sore aja, rasanya cepat sekali (pengen nyobain semua, tapi waktu kayanya nggak cukup). Ya sudah, akhirnya langsung meluncur kesini (nostalgia masa kecil, maen ayunan). Berbeda dengan ayunan yang biasanya saya mainkan waktu kecil, ayunan yang ini berputarnya melingkar dan semakin lama semakin tinggi kedudukannya. Agak bikin ser sera-an juga sih, tapi menyenangkan....




6. Montor Tumbur (Bom-bom Car)
Nha ini wahana terakhir yang saya coba dan paling fenomenal. why why why? Iya... sebelumnya sempet main beginian 2 kali (seingat saya, pertama pas jaman KKL, kedua pas jaman masih kerja di Semarang) dan nggak pernah bener. Kali ini juga, diantara semua pemain (yang semuanya laki-laki, kecuali saya) mobil saya berkali-kali nabrak pembatas, terus muter-muter, tumburan dengan mobil lain (aduuuuh.... malu-maluin), tapi saya seneng banget. Saya sampai pura-pura pasang tampang polos ketika mobil saya berkali-kali nabrak pembatas, kemudian nggak mau bergerak lagi (langsung disamperin abang-abangnya, dikasih instruksi, yang sebenernya otak saya ngerti, tapi tangannya nggak mau koordinasi. Daaan abang-abangnya kayanya udah BT kasih instruksi ke saya bolak-balik tapi nabraknya bolak-balik juga... Aduuuh maapkeun).
Ngantri sama Si Ijo (Dia mainnya lebih jago daripada saya)



Gegara ngantri pengen main montor tumbur ini, alhasil saya telat kembali ke bus (karena sebelumnya saya lebih memilih untuk sholat mahgrib berjamaah terlebih dahulu, lalu jama'-qashar sholat Isya).
"Nha ini ni yang ditungguin", disambut dengan celetukan agak-agak gitu deh (hihi).
"Aku sholat dulu.....", jawabku polos.
"Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu", kayanya hampir sebis nyorakin saya (πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘)
"Ini kita, se-bus belum ada yang sholat lho", kata orang-orang di bus (gegara dilarang TLnya, katanya nanti aja sekalian makan malam. Mmmm tapi rasa-rasanya ada yang nggak bener deh, karena waktu di mushola, saya ngelihat kawan se-bus ada disana. huft, yasudahlah, resikoo jadi Princesss, #eh πŸ˜€πŸ˜‚πŸ˜…). Udah deh, selepas di-hu-huin itu, saya langsung kembali ke tempat duduk saya, mojok di dekat jendela, menatap ke luar (nelangsaaaa).
Ok, anyway inilah penghujung sore saya di SKE, Yogyakarta. Semoga lain kali bisa berkunjung kembali, saat wahananya sudah bertambah banyak (Aamiin).
*****
Jika sesuai dengan rencana awal, perjalanan kami di Jogja akan ditutup dengan kunjungan ke Malioboro. Namun, karena kondisi yang kurang memungkinkan (jalanan padat, takut macet, pulangnya tambah lama), akhirnya niat ke Malioboro kami urungkan. Jadilah kami ke kawasan Ambar Ketawang untuk makan malam dan sekedar hunting oleh-oleh (Bakpianya terkenal enak disini).
Ambar Ketawang dikenal sebagai kawasan wisata belanja.
Banyak cinderamata yang dapat kita peroleh disini.
 (After belanja, nelangsanya ilang.. CERIA lagiiiiiii πŸ˜…πŸ˜…)

Selonjoran sambil jagain tas-dompet mba-ibunya yang lagi pada sholat
******
Waktunya pulang......................... πŸ‘πŸ‘πŸ‘
Setelah berlelah-lelah ria, susah-senang, akhirnya waktu kembali datang juga. Malam itu, pukul 21.30an, kami berangkat dari Ambar Ketawang menuju ke tanah rantau tercinta, Purwokerto...................
Kabarnya bus melaju sangat kencang (tapi yang ini saya nggak ingat, tidur pules banget, akibat kelelahan). Kami tiba di Purwokerto sekitar pukul 02.05 dini hari.

Alhamdulillah...
#Terima kasih atas satu kali lagi kesempatan yang Engkau berikan.. 😌