Minggu, 23 April 2017

Walking around #2



“Ayoooo lekas pulang, jam 10.30 WIB kelasnya mau dikunci lhooooo”, ujar saya pada krucils yang terlihat masih betah duduk di kelas. Kenapa buru-buru sekali? Karena hari ini, kami (para guru) akan berpetualang….. 😍👓😄🙌🙌🙌
*****
Semua peserta rihlah sudah bersiap di busnya masing-masing dan saya juga sudah bersiap, duduk manis di singgasana saya, hehe…. (total ada 3 bus). Pukul 11.15 WIB perjalanan di mulai. Kami berangkat dari Jatiwinangun, Purwokerto dengan iringan doa safar dari pemimpin bus masing-masing. Perjalanan yang cukup lama untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Diperkirakan setelah berkendara selama kurang lebih 2 jam, kami baru bisa sampai disana. Oleh karena itu, pemimpin rombongan memberikan instruksi untuk singgah di Koreaaa (eh, Kroyaaaa….😁) dan melaksanakan sholat dhuhur sekaligus jamak sholat asar.

What a sunny day….. Panasssss….. (Tapi hati saya tetap adem kok #eh 🙊)
Dari Kroya, kami masih harus menempuh perjalanan kembali selama kurang lebih 30 menit. Sebagai penumpang yang baik, saya sibuk mengamati kondisi jalan selama perjalanan (red: termenung di samping kaca jendela  sambil melihat keluar, lalu berkhayal) sambil sesekali bercerita satu dua hal dengan kawan sebangku untuk memecah kekakuan dan sesekali menanggapi cuit-cuitan lucu dari kawan-kawan.
*****
"Boooooo, what are you doing???" Melihat kebo (kerbau) sedang merumput di dekat jajaran pohon cemara menandakan bahwa lokasi tujuan kami sudah ada di depan mata... Daaaan, benar, kami sudah sampai di Pantai Congot, Cilacap. Hal pertama yang kami lakukan setelah turun dari bus adalah…. menuju tempat makaaaaaan. Makan siang kali ini, kami disuguhi ikan bakar, cah kangkung, lalaban mentimun lengkap dengan sambal terasinya, dan es teh yang tak pernah ketinggalan. Sungguh nikmatnya dunia, menyantap makanan di saat sedang lapar-laparnya… hehe (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan???--- QS. Ar-Rahman: 16).
Usai mengisi perut, kami diberi waktu sekitar 15 menit untuk menikmati keindahan Pantai Congot. Pantai Congot sering disebut juga Pantai Jetis. Ombak di pantai ini tidak terlalu besar dan bukan pantai pasir putih. Meski  tak seindah Indrayanti (menurut saya), tapi bersyukur sudah bisa sampai sini, melihat kemaha-agungan Sang Pencipta yang telah menciptakan alam sedemikian rupa, sedemikian bermanfaatnya.
Tak berselang lama, tiga armada laut (perahu maksudnya) terlihat sudah bersiap untuk mengangkut kami ke hutan mangrove di dekat pantai congot. Penumpang bus 1 naik perahu 1, penumpang bus 2 naik perahu 2, penumpang bus 3 naik perahu 3. Eits, tapi tunggu dulu, ternyata ada sedikit masalah dengan perahu 3, yap, bagian dasar perahunya ada yang sedikit bocor. Oleh karena itu, kami (penumpang bus 3) harus menunggu si abang tukang perahunya menggantinya dengan perahu lain.

Perahu 1 melaju….
Perahu 2 melaju…..
See…………perahu 3 datang, para penumpang bergegas naik dan perahu 3 pun melajuuuu. Sebelum di bawa ke hutan mangrove, kami diajak menikmati keindahan  sekeliling hutan mangrove terlebih dahulu.


Persaingan antar perahu satu dan tiga pun tak dapat dihindari….
“Kejar….kejar….kejar”, begitu sorak sorai dari penumpang yang menyemangati Si Pengendara agar tidak tertinggal. Apa yang terjadi selanjutnya? Di tengah persaingan yang cukup sengit ini, tiba-tiba perahu yang kami tumpangi berdempetan satu sama lain. Oow….. paniknyaaaa……😱😱😱
Rupanya kedua pengendara perahu berbincang lirih dari atas perahu masing-masing. Seusainya, persaingan untuk dapat sampai ke hutan mangrove terlebih dahulu pun dimulai kembali. Cipratan-cipratan kecil antar penumpang juga ikut mewarnai perjalanan ini (oh……paniknya… tak bawa baju ganti, tapi ada yang terpingkal-pingkal lho dengan kejadian ini, heheuuuu).
*****
Perahu menepiiiiii, hutan mangrove sudah di depan kami….😍

Satu persatu penumpang mulai menapaki jembatan kayu, menyusuri hijaunya mangrove, sambil satu-dua kali berhenti untuk berfoto. Selama perjalanan ini mata saya tak pernah lama berpaling dari jembatan kayu. 
 

Dengan hati-hati saya melangkah, mengamati kayu-kayu mana yang harus saya tapaki. Memang satu-dua kayunya sudah mulai rapuh dan beberapa ada yang berjarak jauh (lubangnya terlalu lebaar, jarak antar kayunya terlalu jauh). Di hutan mangrove ini kita bisa mengambil foto dengan background yang hijau atau bisa juga memancing (kebetulan beberapa dari kami ada yang sengaja membawa alat pancing).



*****
Dari hutan mangrove, perjalanan kami lanjutkan kembali ke Pantai Ayah (Kebumen). Dua pantai di dua kabupaten yang berbeda ini terasa sangat dekat sekali. Tak lebih dari 5 menit, kami bisa sampai disana dengan perahu. Turun dari perahu, kami dibekali sebuah kelapa muda yang sedang enak-enaknya dinikmati. Saya pun tak ingin buang waktu. Berbekal sebuah kelapa, saya dan kawan bergegas mencari spot yang paling bagus untuk menikmati senja.

Hari ini pun (masih) senja yang sama…

Aktivitas terakhir yang paling saya suka dari perjalanan ini adalah berlarian di pinggir pantai (sebenernya ini lari gara-gara takut ditinggal rombongan, hihi.. keasyikan foto siiih)….
Dengan berakhirnya waktu yang diberikan oleh ketua rombongan berarti habis sudah petualangan kami hari ini (semoga bersambung di lain waktu, aamiin 😄). Semua rombongan kembali ke perahunya masing-masing dan juuuuuum…. Kita kembali menyebrang ke Pantai Congot.




Senin, 10 April 2017

Walking around

What a shiny day, Piknik Jum...

Hey, universe...

Kemarin Sabtu, tepatnya tanggal 8 April 2017 pukul 14.23an WIB, saya baru saja mendarat di Jatiwinangun tercinta. Mendarat? Hehe iya habis kemah di Baturaden, bawaannya kaya terbang aja (naik, menanjak terus sih jalannya).

Kebetulan hari ini Si Mpit (temen SMP saya, partner in crime juga #eh 😁😁😁) baru saja seminar di Purbalingga, otomatis pulangnya ngelewatin Purwokerto dong. Alhasil pulang ke rumah ibu nya bareng Mpit deh... Yeeeee dapat tebengan 🙌🙌🙌 (anak kos mah seneng banget sama hal-hal yang berbau gratis, hihi.. ups🙊). Nha, terjadilah percakapan di sore itu yang akhirnya menghasilkan kesepakatan untuk walking around bersama di hari Minggunya (asyiiiik... Emang lagi butuh jalan-jalan banget). Kami memutuskan untuk berkunjung ke waduk penjalin. Sebenarnya tempat tersebut sudah terlalu sering dikunjungi, tapi kabarnya ada tampilan baru yang membuat kami penasaran ingin pergi kesana.
******
Minggu yang dinanti pun akhirnya datang juga... Pagi yang biasanya tak bosan datang dengan langit mendungnya, hari ini seolah merestui rencana kami.. yak, langitnya biruuuu, harinya ceraaah. Ah, senangnyaaaa... 😄

Rute pertama perjalanan kami dimulai dari sini:

Yaaak gerbang pertama dengan tangganya yang berwarna-warni terlihat cantik dengan segala pernak-pernik di sekitarnya. Naungan langit yang berwarna biru pun seolah memanjakan mata, membuat ingin berlama-lama menatapnya.

Satu, dua, tiga anak tangga mulai kami naiki. Daaan....sesampainya di atas, apa yang terjadi?
"Cin, naik perahu yuuuk". Eh, ada yang ngajak naik perahu... Hmmmm, takut sih sebenarnya naik perahu kecil begitu..
"Kamu mau naik perahu?", Saya hanya membalasnya dengan nada datar lalu mengajak Si Mpit ini ke taman jamur (berharap Si Mpit lupa tentang keinginannya untuk naik perahu 😁😁 #tertawa jahat).

Sesampainya di taman jamur, disana-sini terlihat banyak muda mudi, bapak ibu yang tengah asyik mengambil foto. Memang banyak spot bagus untuk mengambil foto disana, sehingga kami pun tak mau ketinggalan, kami langsung mengambil kamera (eh, HP ding), lalu memulai untuk jeprat-jepret sekitar... 📷📷📷

Foto candid yang menghasilkan foto pose galau 😅

Mpit nunggu siapa? 😁

Aku nunggu siapa? 😁

Hari makin panas, berteduh di bawah naungan jamur (buatan) dulu deh...
"Cin, yuuk naik perahu...", Hihi tiba-tiba ada yang inget perahu nih...
Mmmm meski sudah menyampaikan keengganan saya untuk naik perahu lengkap dengan alasannya, ternyata Si Mpit lebih punya kekuatan yang datangnya entah darimana​ (mungkin dari bulan) yang akhirnya membuat saya berkata iya.. huhuhu....

Perahuuuu... 😍😍😍

Nah loh ada yang seneng banget naik perahu

Dengan ragu-ragu, kaki saya pun mulai melangkah masuk ke dalam perahu. Satu dua keluhan, tiga empat rengekan pun mulai keluar dari mulut saya....
Takut 😭😭😭. Itu perasaan saya ketika menunggu perahunya dipenuhi penumpang. Bagaimana tidak takut, perahunya digoyang-goyangkan oleh air tanpa henti, seperti mau oleng saja #eh.

Sekitar 10 menit menunggu, akhirnya kuota jumlah penumpang perahu yang kami tumpangi pun sudah terpenuhi. Bismillahirrahmanirrahim... perahu mulai melaju.. 🚣🚣🚣
Tepian waduk mulai terlihat menjauh, dan lihat tangan saya... Tangan saya terlihat menggenggam erat kayu-kayu penopang atap perahu 😅😅😅 (takut jatuh).
Semilir angin, hijaunya pepohonan di seberang, putihnya awan, birunya langit pun seolah bekerja seperti morfin. Mereka memberikan rasa nyaman, mengurangi rasa gelisah, menghilangkan ketakutan saya ketika berada di atas perahu... "Yeeeee, ayooo Pak melaju yang jauh", saya pun mulai ketagihan 😅😅😅😁.
Eits tapi lihat penumpang di belakang, ada yang mengeluh perutnya mual, ada yang merengek minta turun, ada yang memohon agar perahunya segera kembali ke tepian, dan saya? Saya sedang menikmati perjalanan (singkat) ini... 😂
******
"Krucuk... Krucuk...", cacing-cacing di perut sepertinya mulai protes... Wajar sih karena memang sekarang sudah mendekati jam makan siang. Akhirnya, seturunnya dari perahu, kami pun memutuskan untuk mencoba kuliner baruuuu 😄

Taraaaa..... Sampailah kami di WM dekat waduk. Kalau dari tempat parkir, jaraknya sekitar 500 m. WM ini bisa diakses dengan jalan kaki, kendaraan roda 2 atau 4.
Menu yang bisa dicoba disini adalah betutu atau mujaer yg digoreng, dipecak, atau dioblok-oblok, cah kangkung, sayur asem, es teh, es jeruk, dan aneka macam jus.
Nha untuk makan siang kali ini kami memilih betutu pecak (kenapa bukan mujaer? Karena betutu lebih banyak dagingnya, tutur saya kepada Mpit 😁 #ketahuan nih mana yang hobi makan 🙊), cah kangkung, es jeruk, dan nasiiii....
Saking enaknya atau saking lapernya yaaa 😁 sampai-sampai kami tambah nasi #eh 🙊🙊🙊 (tapi masih ada yang tersisa di ceting kok 😸).

Sambal pecaknya enaaak 

Keunikan dari warung makan ini adalah letaknya yang di pinggir waduk (bisa makan sembari menikmati pemandangan) dan ada satu spot foto yang menarik. Nha disitu kita bisa mengambil foto diri kita dengan angle yang cukup bagus (menurut saya). Recomended deh....
Jalan di atas drum ini butuh perjuangan banget (hihi agak lebay, tapi bener, karena kita harus menjaga keseimbangan supaya tidak jatuh).

Sebenarnya masih ingin berlama-lama di waduk, ingin mengikuti rangkaian acara yang kebetulan akan di selenggarakan oleh salah satu komunitas disitu. Tapi apa daya, Si Mpit sudah dicari-cari sama Si Empunya (Ayah Ibunya, maksudnya 😁). Pulang deh...

Ps: semoga ada kesempatan baik lain untuk bisa berkunjung kesini...


Rabu, 05 April 2017

Curhat #1 - Piknik jum....



It’s been a long time yaaa since I wrote 📝 my last story…..
Kenapa sih akhir-akhir ini jarang banget nulis, padahal kata Abang apa? Coba diingat (#emot sedih 😣).
“Time flies so fast”, emang.. Emang bener kata pepatah tersebut (#eh itu ngomong-ngomong pepatah bukan yaaa?). Banyak banget cerita tapi rasanya selalu kehabisan waktu untuk bisa nulis (kecuali update status singkat, hehe). Sekalinya punya waktu luang, pasti deh dimanfaatin untuk gain energy.. hehe… bahasa kerennya mah tiduuuurrrr… Gimana enggak? akhir-akhir ini kerjaan  datang silih berganti tanpa henti seperti kerja rodi #eh (Nggak bermaksud ngeluh Ya Allah, enggak…. hanya saja hayati lelah #eh). Mata merah karena keseringan natap layar laptop 💻 dan HP📱 (ngecekin WA masuk dari klien #eh) dan parahnya sempet dikira sakit mata, sampai-sampai, sempat beberapa teman takut natap mata saya (hihi yang begini ini malah menggoda untuk ditatap….). Tapi anehnya, efek dari banyaknya kerjaan yang seolah nggak ada berhentinya ini (Alhamdulillah Zah, bersyukuuuur, bersyukuuuur!), malah mengakibatkan timbangan berat badan naik. Biasanya kalau saya nimbang berat badan, si jarum susah banget beranjak dari angka 44. Lha ini, udah hampir lewat angka 45 aja…. Huffft…
Keanehan kedua, ketika flu dan batuk hampir sebulanan nangkring di tubuh saya dan sepertinya enggan beranjak, tiba-tiba menghilang ketika agenda saya makin padat (efek terlalu sering naik turun tangga kali yaaa, latihan pernapasan unconsciously #lol).
Keanehan ketiga, satu persatu hal-hal yang secara nggak sengaja bersinggungan dengan kerjaan, seolah  menuntun jejak saya pada sang idola (membuntuti lebih tepatnya mah…😥). Saya seolah-olah dibawa dan ditunjukkan dunia sang idola, mendatangi tempat-tempat yang pernah dikunjungi sang idola, dibawa berimaji tentang keseharian sang idola (ah, mungkin ini efek baper aja 😥).
Nhaaa… balik ke topik yaaaa, efek kerjaan yang bertumpuk-tumpuk ini ternyata secara nggak langsung juga berpengaruh terhadap kerja hormon yang ada di tubuh saya. Rasa uring-uringan, kesel, seneng sebentar terus pengen marah-marah lagi (lingkungannya kadang mendukung banget buat marah-marah sih, hehe #buru-buru istighfar), rasa ingin menyerah lalu ingin berjuang lagi, rasa ingin mengeluh terus sadar lagi (inget kalau Tuhan tidak akan membebani suatu kaum di luar kemampuannya #sayapastibisaaaa). Nha efek hormon dan krooni-kroninya yang udah saya sebutin di atas itulah yang pada akhirnya membuat saya agak malas (lebih tepatnya sih nggak sempat) menulis. Hmmmm sebenarnya sih apalah arti sebuah hormon kalau kita bisa mengendalikannya. Semangat semangat Zah….!!!
Terus inti dari tulisan ini apa Zah? Intinya mah lagi suntuk dan butuh piknik atau sekedar menikmati (menikmati lhooo yaaa, bukan sekedar menyantap) es krim sembari ditiup semilir angin atau sekedar gowes dipagi hari #ngarep.