Selasa, 07 Maret 2017

Hujan ⛈

Sewaktu saya kecil, orang tua saya selalu melarang keras kalau saya hujan-hujanan. Sehingga, seringnya, saya curi-curi kesempatan dengan kawan-kawan saya untuk bermain hujan (Asyiiik siiih 😁). Pulangnya? Kalau tertangkap basah, yaaa….sudah pasti kena omelan. Hehe…
Hal tersebut juga masih sering saya jumpai sekarang ini. Banyak orang tua yang melarang anaknya bermain hujan. Kebanyakan disebabkan karena ketakutan mereka jika bermain hujan, nanti si anak bisa sakit. Masuk anginlah, sakit kepalalah, batuk pileklah. Padahal kalau menurut Pak Ustadz (sewaktu saya ikut kajian, wuidiiih kajian 😎 #kalem ah), sebenarnya hujan itu bukan penyebab penyakit, melainkan “rahmat”. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Asy-syura (42) ayat 28 yang artinya:
 Dan Dialah Yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung, Maha Terpuji. 


Jadi, kalau ada orang yang menyalahkan hujan atas sakitnya seseorang, rasanya hal tersebut kurang tepat ya. Terus bagaimana kalau ada orang yang kehujanan terus sakit setelahnya? Nha kalau ini kita butuh penelitian lebih lanjut. Bisa jadi orang tersebut belum makan sebelum ia kehujanan. Nha bisa jadi karena belum makannnya itulah alasan sakitnya. Atau mungkin memang daya tahan tubuh si orang yang sakit tersebut memang sedang lemah, sehingga ketika terguyur hujan, dia langsung merasa sakit. Apalagi kalau sebelumnya orang tersebut panas-panasan (apaaa daaaah, panas-panasan πŸ˜†).  Suhu tubuh yang semula tinggi (karena panas-panasan), kemudian tiba-tiba terguyur hujan, maka otomatis suhu tubuhnya akan menurun. Nha jika termoregulasi tubuh si orang tersebut kurang tanggap, otomatis perubahan suhu tubuh yang drastis ini juga bisa jadi penyebab sakitnya.
Percaya kalau perubahan suhu yang drastis itu bisa membuat seseorang sakit? Coba deh buat percobaan sama ikan. Caranya?
1. Masukkan ikan 🐠 (bisa pakai ikan mas kecil) ke dalam wadah berisi air hangat
2. Kemudian tambahkan air panas, sehingga suhu airnya meningkat (kira-kira sampai airnya kalau dipegang agak “semelet” gituuu)
3. Masukkan es ke dalam wadah tersebut sehingga suhu air menurun
4. Tambahkan terus es ke dalam wadah tersebut sehingga suhu air menurun drastis 
5. Amati perubahan yang terjadi pada ikan (Kalau dulu saya pernah nyoba, ikannya langsung collapse #ups, soriii Ikan, tenang-tenang di alam sana yaaa…).

Kembali ke permasalahan hujan ya….
Ngomong-ngomong sore tadi saya memang sengaja mengunjungi kediaman salah seorang siswa sembari bersepeda. Ketika berangkat, langit memang agak mendung, tetapi tidak hujan. Saya pikir hujan mungkin baru akan turun selepas mahgrib. Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung menyambangi kediaman Si Krucil ini dengan menyusuri rute (rute yang baru bagi saya) yang sudah diberikan oleh ibunya. Karena rute baru, alhasil banyak tanya sana-sini supaya tidak salah jalan (tapi akhirnya sempat nyasar juga πŸ˜…). 


Ketika salah arah, untungnya tahu jalan pulang πŸ˜„
(Bukan lirik butiran debu)

Persimpangan yang selalu membuat galau 
(Ke kanan atau kiri ya? πŸ˜…)

Nha, sesampainya di kediaman krucil, diajaklah saya ngobrol sama ibunya. Membicarakan tetek bengek yang membuat saya lupa waktu (karena keasyikan). Dan ketika saya melirik ke arah langit, “oh noooo, mendung sekali”. Takut terjebak hujan di jalan, pamitlah saya dengan si ibu. Dan ternyata hujan memang tidak pernah ingkar janji. Sebelumnya ia memang telah memberikan pertanda (mendung), isyarat yang berarti tak lama lagi ia akan datang. Benarlah, baru empat atau lima kayuhan dari gerbang rumahnya krucil, hujan pun datang. Oow… (masa balik lagi??? πŸ˜…) saya nggak mau kalah sama hujan ah, terjaaaang…(kepala yang sebelumnya agak nyut-nyutan semoga nggak tambah parah, mmmmm). 


Tunggu sebentar, ini kenapa habis dipuji, rombongan hujannya makin banyak yang datang yaaa. Hihi...  
Di tengah perjalanan, hujan pun rasanya tak ingin mengalah dengan saya (tambah deraaassss, berteduh deh). Berteduh? Katanya hujan nggak bikin sakit? memang, bukannya takut sakit, tapi kalau hujannya bawa rombongan banyak begini kan bisa bikin baju basah, nha kalau basahnya kuyup, nanti kan jadi tak enak dipandang πŸ˜….



Sepuluh menit, dua puluh menit, hujan tak juga reda. Alhasil saya mencoba bersahabat dengan hujan yang sudah semakin sedikit jumlahnya (bersepeda di bawah guyuran hujan deh judulnya). Kepala saya apa kabarnya? Alhamdulillah nyut-nyutnya sudah tidak terasa. Mungkin karena perasaan senang (saat main hujan), membuat tubuh memproduksi endorphin lebih banyak. Nha Si Endophin inilah yang mungkin menyamarkan rasa nyut-nyutan di kepala, hehe…
Senja, hujan, langit yang mulai gelap, lampu-lampu jalanan yang sudah mulai menyala, ah, rasanya ada yang kurang lengkap.



Kembali ke “hujan”. Jadi kalau masih ada yang menyalahkan hujan atas sakitnya seseorang, saya agak kurang sepaham (ingatkan saya kalau lupa yaaaa). Terbukti, nyut-nyut di kepala saya rasanya berkurang setelah terkena guyuran hujan (yang datangnya nggak terlalu banyak bawa rombongan). Hujan itu rahmat. Hujan juga salah waktu yang mustajab untuk berdoa (buru-buru doa: "Ya Allah, kasih rezeki Ya Allah...", eits salah, yang bener itu...."Allahumma shoyyiban naafi'an - Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat - HR. Bukhari). 
Hujan, waktu yang paling asyik untuk mengenang #eh. Jadi ingat penggalan syairnya sahabat alam:
“Hujaaaan, terjadi karenaaaa…
Air laut menguap, terkena sinar mentariii….
Terbentuklah titik air pada awan
Smakin lama smakin menebal
Dan, akhirnyaaa….aawan taaak sanggup lagiii….menoopaaaang….
Titik-titik air itu…..
Turunlaaah hujan…”

Simpulan dari tulisan saya kali ini adalah:
1. Sesekali perlu main hujan (tapi pastikan dulu, kondisi badan sedang fit saat mau main hujan)
2. Kalau hujan sudah memberi tanda (mendung), bersiaplah (bawa payung atau jas hujan) 
3. Jangan pernah jadikan “hujan” sebagai “kambing hitam” atas sakitnya seseorang, karena sesungguhnya hujan itu adalah rahmat (QS 42: 28)

Minggu, 05 Maret 2017

Semesta Menjawab (Bagian 2)

Cahaya kuning keemasan nampak berpendar rapi dari ufuk barat. Satu dua kilauannya jatuh tepat di pelupuk mata, membuat kedua telapak tangan bergegas untuk menutupnya.

"Mba, sepedaan lagi yuuuk", ajak Si Adik yang lagi-lagi minta gowes. Berhubung cuaca kemarin sore cukup bersahabat dan saya pulang lebih awal dari biasanya (pulang pas asar, termasuk pulang gasik.. 😁) akhirnya saya pun menyetujui ajakan Si Adik Kecil. Karena ban Si Black agak kempis, akhirnya kami memutuskan untuk singgah ke tempat pompa ban terlebih dulu agar performa Si Black dan Si Red (Red: tunggangan Si Adik Kecil) lebih oke di jalanan.

Isi angin duluuuu

"Kita mau kemana yaaah?" pikir kami sore itu. "Nhaaaa, mumpung ada partner nih, coba rute baru yuuuk, tapi jarak dekat saja (karena kebetulan kami keluar sudah agak sore). Kita mulai dari Jl. Ovis terus ke Jl. dr. Angka ya, terus di pertigaan belok kiri lewat jl. A. Yani, naiiik terus, sampai sekuatnya (kebetulan jalannya agak menanjak, hehe)", tutur saya menambahkan.

Setelah menaiki tanjakan.. 😎

Dimanakah ini???? πŸ˜ƒ

Seberhentinya Si Black, kami beristirahat sejenak untuk melepas lelah sembari mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi tempat-tempat yang pernah kami (kami: saya dan Black) singgahi. Keringat pun mulai bercucuran. Yessss, semoga banyak kalori yang terbakar.

Selesai mengambil gambar, kami putuskan untuk kembali ke kos karena hari sudah semakin petang. Yeeeeee... jalanannya menurun, sehingga kami tak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk mengayuh sepeda. Sembribit, eh semilir angin pun seolah membasuh dahaga (eh, menguapkan keringat ding hehe).
Kayuh terusss, terus, sampai akhirnya ada seonggok (#eh) dua baris tulisan yang merayu saya untuk berhenti dan mengambil foto kembali.

Cukup Black yang nampang 😁

Akhirnya ikut nampang juga 😁

Langit terlihat semakin gelap. Gumpalan awan mendung pun nampak semakin berat saja. Sepertinya tidak lama lagi akan turun hujan. Dan benar, keesokan harinya, tepatnya pagi tadi, hujan memang benar-benar turun di waktu subuh (gagal gowes pagi deeeh πŸ˜…). Apa boleh dikata, akhirnya subuh tadi bersahabat kembali dengan selimut dan bantal sejenak, kebetulan memang sedang udzur sholat (alaaah.. alasan mulu nih mba'e... πŸ˜…).

Simpulan: jangan tunda apa yang kamu bisa lakukan sekarang. Jangan tunggu esok. Karena kita tidak pernah tahu, hal apa lagi yang akan terjadi esok hari, yang akhirnya menjadi alasan untuk menunda kembali. πŸ˜„

Sabtu, 04 Maret 2017

Semesta Menjawab

Kemarin sempat nulis kalau sedang kangen sekali ngajak jalan Si Black. Akhir-akhir ini, mendung, hujan, tugas, cucian baju, selalu saja menjadi alasan untuk mengurungkan rencana gowes. Tapi pagi hari ini tidak. Soal-soal sudah dikebut semalam (malah nyaris ganti hari, semalam sepagi berarti #eh). Cucian baju sudah diselesaikan kemarin sore. Hujan juga sepertinya ingin beristirahat sejenak pagi ini (meski akhirnya sempat jatuh butiran-butiran air yang halus, membasahi pipi). Dan memang sedari kemarin si adik kecil (teman kos) merengek minta diajak gowes (setelah hari sebelumnya gagal jogging gara-gara bangun kesiangan 😸😸😸).

Masih agak gelap, tapi ini termasuk kesiangan

Horeeee akhirnya rencana gowes hari ini terlaksana, meski rutenya pendek (mentok ke alun-alun) gara-gara ban depan Si Black agak kempis dan tempat pompa ban belum ada yang buka (harus beli pompa ini mah...). Senang karena setelah hampir dua pekan vakum, akhirnya bisa gowes lagi. Senang juga karena akhirnya punya kawan gowes (lumayan dapat tukang foto gratis πŸ˜…).

Langit masih berkabut
(Pipiiii, tolong dikondisikan)

Sayangnya pagi ini tidak ada kawanan burung yang melintas. Tapi setidaknya kami bisa menghirup udara segar pagi ini.

"Mba ternyata kesel yooo", celetuk si adik. Aduuuh setelah sebelumnya dia minta rute yang agak jauh dan saya nego gara-gara ban Si Black agak kempis, ternyata dia yang ngeluh duluan, hihi (tertawa jahat). Baru terasa kan...

Keringat pun mulai bercucuran. Semoga ada banyak kalori yang terbakar pagi ini... πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯
Semoga, esok pagi, hujan dan mendung tidak datang lagi. Ingin menyambangi burung-burung kecil yang melintas di langit saat pagi hari. Ingin membakar kalori lagi.

#salam gowes
#salam olahraga
#mens sana in corpore sano

Kamis, 02 Maret 2017

Missing gowes already.. 🚲

Senin ketemu Senin lagi, cepat sekali rasanya. Dua pekan terakhir sepertinya terlena (terlena, karena tuntutan) sekali oleh aktivitas di sekolah. Tak ada waktu untuk olahraga, sekedar membakar kalori dalam jumlah sedikit pun rasanya tak sempat ( gak mau disempetin sih). Ya badaaaan... Rasa-rasanya tambah berat saja. Terasa sekali kalau sedang jalan, apalagi naik tangga (#ngaaap). Timbunan lemak sepertinya senang sekali karena bisa lebih lama tinggal di tubuh saya. Tapi efeknya saya yang ngerasain nih, kepala mulai nyut-nyutan, leher mulai pegal-pegal, punggung apa lagi (duuuh orang tua banget siiih).

Akhir-akhir ini setiap berangkat atau pulang sekolah agak sedih rasanya. Setiap melewati garasi, Si Black tampaknya kesepian, melambai-lambai, ingin sekali diusap, diajak keliling menghirup udara segar (aduuh maaf Black, belum bisa.. 😫). Biasanya saya selalu menyempatkan 30 menit di pagi hari untuk mengajak Si Black jalan-jalan. Tapi akhir-akhir ini cuaca kurang mendukung, pagi hari seringnya hujan, sore pun demikian. Ditambah lagi deadline pembuatan soal-soal yang tak bosan-bosannya mengekor, membuat saya betah berlama-lama di dalam kamar, berduaan dengan Si Mesi πŸ’». Alhasil, setiap kali akan tidur malam, saya hanya bisa memandangi foto-foto goweser lain (di grup) yang sudah bolak-balik menaklukkan Baturaden, melanglang buana ke kota-kota sebelah (Lho memangnya saya mau ngajak Si Black kesana? Hehe enggak juga sih, setidaknya pengen bawa Si Black ke alun-alun, atau ke Taman BalKem, sekedar mengamati burung-burung yang biasanya melintas di pagi hari, sekedar menikmati udara pagi yang belum banyak bercampur polutan).

Ah.. Black, I Miss you, already....

Kaki-kaki ini rasanya sudah ingin sekali mengayuh pedal Si Black. Tangan sudah ingin menggenggam stangnya sambil sesekali memainkan bel atau mengganti gigi saat jalanan tiba-tiba naik atau turun, sesekali melempar senyum pada goweser lain, melihat dedaunan yang masih tersipu malu dibawah naungan langit yang masih gelap.

Sehat sehat terus Black, meski akhir-akhir ini jarang tersentuh (Semoga sebelum mudik bisa kencan sama Si Black).

Dengannya selalu menyenangkan πŸ˜„

Simpulan: rajin-rajin olahraga supaya badan sehat ( nggak banyak keluhan pegel dan kawan-kawannya, macam saya... 😁).