Minggu, 26 Februari 2017

Perjalanan Terlama 🚌🚌🚌

Weekend..... πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ™ŒπŸ™ŒπŸ™ŒπŸ‘ΌπŸ‘ΌπŸ‘Ό
Kalau udah Sabtu bawaannya sumringah banget. Kenapa? Mau mudik soalnya, ketemu Ibu mamih, Adek ganteng, Abah cakep, Uti, saudara, tetangga, anak-anak (#eh, Cici maksudnya πŸ˜…), taneman, ketemu rumah, ketemu kamar kesayangan (meski seringnya ketiduran di depan TV πŸ˜…), ketemu dapur (tempat bereksperimen paling yahuuut menyalurkan bakat terpendam, meski seringnya gagal πŸ˜‚), dan masih banyak lagi.
Biasanya waktu tempuh dari kos sampai rumah hanya memakan waktu kurang lebih 1 jam kalau diantar Abah atau Mail, dan 1,5 jam kalau naik kendaraan umum. Nha berhubung jalan raya dari tanah rantau menuju kampung halaman lagi bagus-bagusnya (sampai-sampai kalau pas hujan bisa jadi kolam lele #eh), jadi banyak perbaikan disana-sini. Sepertinya perjalanan saya kali ini benar-benar akan memakan waktu lama. Terhitung sudah lebih dari 3 jam, saya masih betah duduk di dalam bus, sedangkan perjalanan baru separuhnya (eh ini busnya malah berhenti lagi). Untungnya sepulang sekolah tadi, saya sempat tidur siang (menstabilkan kondisi tubuh, kebetulan badan sedang agak manja πŸ˜·πŸ˜”) dan sempat isi amunisi πŸ›πŸ› (takut pingsan di jalan πŸ˜…), bawa perbekalan pula (malah udah habis).
Sebenarnya kalau kondisinya seperti ini agak membuat malas untuk pulang karena seringnya pulang hanya untuk numpang tidur saja πŸ˜‘. Tapi apa mau dikata, ternyata hasrat untuk bertemu keluarga mengalahkan rasa capeknya saya, membuat lupa lamanya perjalanan kalau pas macet begini.

Hmmm ngomong-ngomong busnya berhenti lagi πŸ˜…

Sembari membunuh waktu tunggu
#dari balik kaca

Jadi yang bisa saya simpulkan dari perjalanan pulang saya kali ini adalah:
1. Siapkan fisik sebelum bepergian
2. Jangan biarkan perut kosong saat akan bepergian
3. Bawa perbekalan (makan, minum, uang) yang cukup
4. Bawa buku bacaan (bagi yang gemar baca) biar nggak bosan di bus atau bisa juga dipakai untuk tilawah nih...
Sekiaaan...
Happy weekend... πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

PS: Jane masih pengin ngomong banyak, tapi ini daya si Leno udah limit (udah merah baterainya) πŸ˜”πŸ˜”

Selasa, 21 Februari 2017

"Sutrah"


Sutrah berarti pembatas atau penghalang. Kata "Sutrah" mulanya memang cukup asing bagi saya. Waktu itu saya sudah memasuki jenjang perguruan tinggi, seorang teman memberikan saya wejangan tentang cara sholat yang baik menurut Rasul. Dari perbincangan tersebut, saya baru tahu apa itu sutrah. Kemudian, untuk kedua kalinya saya juga menemukan kata sutrah ketika saya membaca salah satu buku pinjaman dari teman. Di dalamnya ada pokok bahasan yang membahas tata cara sholat dan adab-adabnya (Hehe... maklum... sholat saya masih banyak yang mesti dibenahi πŸ˜…).

Terus apa yang aneh dari kata "sutrah"? enggak, enggak ada yang aneh sama sekali. Yang aneh saya, masa istilah seperti itu baru ngerti setelah masuk kuliah.... ish.. ish.. ish.....πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜” . Selama ini kemana? hmmmm.... kemana yaaa? hihi... ke kelas aja yuuuuuk...... 🏠🏠🏠

Kelas, merupakan tempat belajar sekaligus tempat bermain bagi the krucilers (sebutan saya untuk anak-anak πŸ˜„). Biasanya saat jam istirahat tiba, tak sedikit krucil yang gemar berlarian di dalam kelas, berkejar-kejaran, atau sekedar duduk ngobrol di salah satu pojok ruangan. Sudah barang tentu aktivitas-aktivitas tersebut menghasilkan suara yang cukup keras. Suara hentakan kaki ke lantai, teriakan krucil saat dikejar temannya, atau suara krucil ketika memberikan aba-aba kepada pihak kawan sekelompok. Bahkan yang hobinya main bola dengan bola kecil (biasanya untuk mandi bolaaa πŸ˜…) di luar kelas pun, terdengar histerianya. Nha disaat seperti ini biasanya menjadi saat-saat yang menimbulkan banyak kegaduhan. Kebisingan yang mereka timbulkan tak jarang membuat kepala pening (apalagi kalau sedang sakit gigi), juga mengganggu konsentrasi calon-calon penghuni surga (Aamiin...) saat sedang melaksanakan sholat di kelas (#eh).

Suatu saat ketika saya sedang sholat di kelas, sekelompok anak lelaki sepertinya sedang memainkan peran polisi dan pencuri. Alhasil kejar-kejaran pun tak dapat dihindari. Beberapa memilih jalur yang aman (sepi, nggak dilalui orang), beberapa agak ehem-ehem nih, sampai-sampai jalur sholat saya (padahal udah di pojokan belakang) pun ikut dilalui. Alhasil sempat salah satu anak terduduk di depan sajadah sambil tertawa terpingkal-pingkal.

"he....ngawur, ustadzah kan lagi sholat", celetuk salah seorang krucil.

"krrrrkkkkkk", seretan kursi yang menyebabkan kaki-kakinya bergesekan dengan lantai, terdengar tidak jauh dari tempat saya sholat. Rupanya salah seorang yang mengerti (dalam tanda kutip) kalau ustadzahnya itu sedang sholat (dan mengerti, paham, kalau melewati tempat sujud orang sholat itu tidak boleh), dia meletakkan kursi yang telah diseretnya itu ke depan sajadah saya.

"Hei, untuk apa hei....", salah seorang teman bertanya heran.
"Ih... itu sutrah, biar larinya nggak nglewati ustadzah, kan nggak boleh lewat depan orang sholat", tutur si lelaki kecil penyeret kursi. Hihi... saya jadi dengerin percakapan mereka yaaaaa πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜’

Nha, dari kejadian tersebut, saya jadi berpikir ternyata pengetahuan saya emang cetek dan lambat banget yaaaa. Saya tahu istilah "sutrah" ketika saya duduk di perguruan tinggi, sedangkan lelaki penyeret kursi itu baru duduk di kelas 4 SD (Ooowww, apalah saya iniiii... 😊)

Kesempatan-kesempatan berikutnya, ketika saya sholat dan lupa tidak meletakkan sutrah di depan sajadah (lupanya hampir setiap harii πŸ˜‚), maka lelaki-lelaki kecil saya akan meletakkanya tanpa diminta. Biasanya mereka menggunakan kursi sebagai sutrahnya. Setelah itu barulah mereka berbincang kembali di seberang sutrah yang telah mereka letakkan.


Dari seberang kursi kelihatan kan kaki-kaki mungilnya krucil... πŸ˜‰

"Oooooh jadi sutrah itu kursi yaaa?", hmmmmm sisi lola saya muncul lagi nih.. 😁
Bukan, bukan bermaksud bilang kalau sutrah itu kursi, tapi kursi bisa jadi sutrah atau salah satu sutrah itu bisa berupa kursi (nha lhooo).
Selain meletakkan kursi di depan tempat sujud kita sebagai sutrah, kita juga bisa meletakkan barang-barang yang lain, misalnya tongkat, tumpukan buku (maklum, di kelas adanya buku dan buku 😁) atau bisa juga dengan menggunakan tas. Manfaat sutrah ini adalah sebagai pembatas atau penghalang. Sehingga orang lain yang ingin lewat di depan jalur sholat kita menjadi mengerti, batasan mana yang tidak boleh ia lalui, batasan mana yang boleh ia lalui. Apa tidak cukup dengan sajadah saja? Sebenarnya dengan sajadah juga sudah bisa jadi penanda, tapi kalau situasinya seperti saya (kadang sholat di tempat yang memang agak ramai, apalagi di kelas yang krucilnya hobi lari-lari muluuuu), sutrah ini sangat membantu mempertegas batasan mana yang boleh dilalui dan mana yang tidak.



Minggu, 19 Februari 2017

"Future Author"

"Future Author"....
Hehe mimpi banget yaaa? πŸ˜… tapi kata Abang (Abangnya siaapaaa? πŸ˜”) bermimpi itu wajib (mimpi; jangan dibaca bunga tidur yaaa....). Bermimpilah, maka setidaknya kamu punya tujuan dalam hidup. Seperti semboyan yang berbunyi "dare to dream" (eh, bukan semboyan yaaa? πŸ™Š), maka wahai engkau para kaum pemimpi, janganlah takut bermimpi, be brave..... !

Mimpi, terkadang menjelma menjadi kekuatan tersendiri bagi si empunya. Kekuatan tersebut menimbulkan hasrat dan tekad si empunya untuk teruuuuus berusaha agar dapat menggapai mimpinya. Sebagai contoh, bermimpi dapat nilai 100, maka si empunya akan punya kekuatan untuk belajar, mengerjakan soal dengan teliti agar hasilnya sempurna. Bermimpi punya pendamping yang soleh (#eh...πŸ™ˆ), maka si empunya akan memantaskan diri, menyolehakan diri. Bermimpi menjadi seorang dokter, maka si empunya akan berusaha untuk bisa masuk di akademi kedoketran, lulus dengan nilai memuaskan, dan mengamalkan ilmunya di dunia kedokteran. Bermimpi menjadi seorang penulis, maka si empunya pun seolah akan memiliki kekuatan untuk terus berusaha menulis (meski ngantuk-ngantuk, yang penting nuliss duluuu πŸ˜…).

"Future Author", dari mana sih saya dapat kata-kata itu? dari sini......
 
           menatap singgasana Abang                      menunggu Abang                 
         
Pagi tadi adalah pagi yang sudah saya nanti-nanti sejak dua bulan terakhir. Si Abang yang kata-katanya menyejukkan hati berkunjung ke tanah rantau saya. Sudah barang tentu kesempatan langka ini tidak mau saya sia-siakan. Meski saya harus merelakan akhir pekan saya yang seumur jagung (sepertinya lebih tepat seumur kedelai, singkat bangeet soalnyaaaa), namun rasanya terbayar sudah ketika Abang benar-benar muncul di hadapan saya. Abang, dengan kaos putih tulangnya itu tampak gagah dan menawan (kalau lihat orang pintar emang bawaanya menawan hati... πŸ˜…). Senyumnya sumringah, meski tisu tak lepas dari tangannya (sepertinya sedang flu).

Abang... Abang... Abang....
Abang siapa sih? Siapa lagi kalau bukan Abang Tere Liye ... 😊. Kali ini Abang tidak sendiri, beliau hadir bersama Sastrawan asli Banyumas, Bapak Ahmad Tohari. Beliau ini juga tidak kalah masyhurnya, beberapa cerpen dan novel sudah diterbitkan, bahkan ada satu novel yang cukup fenomenal (Ronggeng Dukuh Paruk) yang akhirnya difilmkan.

 Abang dan Bapak Ahmad sedang memberikan pemaparan materi

Pesan Abang yang dapat saya simpulkan dari talkshow kali ini adalah:

1. Untuk menjadi seorang penulis yang produktif, paling tidak ada 3 hal yang harus kita perhatikan, diantaranya:
  • Menulis itu harus dipaksakan. Menulislah sebanyak yang kamu mampu. Jangan pernah pikirkan respon yang akan orang berikan terhadap tulisan kita, jangan takut, menulislah. Kata Abang, coba menulis 1000 kata/ hari selama 6 bulan. Jika di tengah jalan gagal, ulang lagi dari awal 😊😊. Jika berhasil, maka kita sudah sama hebatnya dengan penulis-penulis lain (laku atau tidaknya tulisan kita, diabaikan lho yaaaa). Harus 1000 kata/ hari? mau nulis apa? Apapun... nulis sms kek, diari kek, cerpen kek, liputan kek, artikel kek, atau apalah, yang penting nulis (hal +).
  • Ketika kita kebingungan mau menulis apa ya kira-kira? INGAT!!!! "Apapun bisa jadi topik tulisan". Bertemu dengan anak yang bertingkah aneh, bertemu sang dermawan, binatang kesayangan, atau apapun, semua bisa jadi topik tulisan.

  • Berhenti bertanya banyak hal tentang kepenulisan. Mau mengawali cerita dari mana ya? Endingnya mau seperti apa ya? tokohnya siapa ya? sudut pandangnya gimana ya? bla..bla... bla.... Jika kamu masih seperti itu, maka "STOP, HENTIKAN!", lalu mulailah menulis lagi (ingat yaaa, apapun bisa jadi bahan tulisan).
2. Terkadang "keras kepala" itu perlu. Keras kepala yang bagaimana? keras kepala yang komit. komit untuk terus menulis meski tidak punya pembaca, komit untuk terus menulis meski pembaca mengganggap tulisan kita tidak penting.

Selain Abang, pelajaran yang dapat saya simpulkan dari Pak A.T. adalah jangan pernah lelah berusaha, jangan pernah lelah menulis, jangan pernah menyerah. Konon katanya cerpen Beliau yang dimuat pertama kali adalah cerpen ke-19nya. Namun karena kepantangmenyerahnya Beliau, akhirnya lahirlah banyak karya yang dilirik penerbit.
Satu hal yang saya ingat dari Pak Ahmad Tohari, Beliau mengatakan bahwa menulis berarti memberikan sesuatu kepada pembaca, bisa dari isinya, bisa dari gaya bahasanya, atau lainnya. Selain itu, sebagai pemula jangan pernah takut untuk mempraktikkan jurus  ATMnya (amati, tiru, modifikasi), tapi ingat "TIDAK BOLEH PLAGIAT!". Abang juga menambahkan, dalam dunia kepenulisan, kita memang sudah seharusnya mempunyai mentor (guru). Lalu kita harus berguru pada siapa? Pada penulis yang karya-karyanya sudah banyak dimuat dan menginspirasi tentunya. Berguru dengan membaca sambil teruuuus menulis, maka lama-kelamaan kita akan memiliki ciri khas tersendiri.

Terakhir, satu kalimat yang saya ingat dari Abang adalah prinsip menulis itu pada dasarnya ada 2, yaitu "convince them" or "confuse them" (kata kunci nih, diingat... diingat πŸ˜‰).


Sesi "Book Signing" yang riweuh.... πŸ˜…

Akhir dari kegiatan hari ini diakhiri dengan sesi book signing (tanpa foto-foto yaaa, Si Abang enggak mauπŸ˜‘). Alhasil saya curi-curi deh supaya difoto, wajah Abang bisa ikut terpampang 😁..

PS: Kisah lucunya Abang ketika buku "Hafalan Sholat Delisa" pertama kali terbit. Saking antusiasnya Beliau, Beliau langsung mendatangi toko buku yang waktu itu tidak jauh dari kosnya. Dipandanglah sudut yang bertuliskan "new arrival", tapi nyatanya buku Abang tidak ada disitu, kemudian Si Abang bergegas menuju bagian yang bertuliskan "novel", tapi tidak ada juga. Karena penasaran, Abang langsung menghubungi pihak penerbit dan meminta bantuan mas-mas penjaga toko, dicarilah buku Abang lewat mesin pencari. Setelah petugas mencarikan buku Abang lewat mesin pencari ternyata buku Abang diletakkan di rak bersama tumpukan buku bacaan sholat... Yasalaaaam, bacaan sholat baru, ada ya nama sholat "Delisa"? sholat tahajud, sholat dhuha mah ada kayanya, kata salah seorang pengunjung πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Oh iya, suaranya Abang ini khas sekali ketika berbicara, logatnya mengingatkan saya pada seorang motivator idola saya jugaaa, apalagi ketika bilang "Dek"... 😁😁😁


Puki.. Puki...🍐🍐🍐


Ini pohonnya Abah, yang nanem Abah, dan jadi pohon kesayangannya Abah. Nunggu pohon ini berbuah, sampai bertahuuuun....tahuuun lamanya (katanya siiih).

Raut sumringah terpancar dari wajahnya Abah yang cool (#eh 😎 kadang terkesan serem soalnya πŸ™ŠπŸ™ŠπŸ™Š) ketika pohon ini berbuah untuk pertama kalinya (sekitar beberapa bulan yang lalu). Waktu itu saya juga ikut sumringah karena bisa menyantap Si Puki dengan gratissss πŸ˜‚πŸ˜‚. Untuk yang pertama kalinya Puki bermunculan dari dahan-dahan pohon dengan malu-malu (belum banyak soalnya πŸ˜…). Kalau tidak salah ada sekitar 25 sampai 30an (mungkin juga lebih😁).

Yihaaaa... kali ini Si Puki pun berbuah kembali (untuk yang kedua kalinya). Dan masih sama seperti sebelumnya, masih malu-malu munculnya.
Puki-puki bergelantungan manja

Pukiii 😘🍐

Petik yang agak masak πŸ˜„

Terus berbuah ya Pukiii... bantu kami jadi sehat 😊😘😘🍐🍐🍐.

Ps: jadi teringat kisah lucu tentang Si Puki🍐--- Puki yang tertukar πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜…

Kamis, 16 Februari 2017

Rumah Baru Keluarga Shofia

"Mba, kelincinya lahiran lagi". Pesan singkat yang cukup bisa menarik bibir 2cm ke kanan dan ke kiri 😊. Setelah pernah beberapa kali pengalaman yang tidak mengenakan terjadi, akhirnya Shofia lahiran lagi (yeeeeee πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘). Kali ini Shofia melahirkan 6 bayi mungil yang putih bersih (ga bercorak maksudnyaπŸ˜‚). Jadi, total ada 11 bayi Shofia yang sudah lahir ke dunia. Keturunan pertamanya, Caca bersaudara kini sudah berusia kurang lebih 2 bulan, sepertinya sudah tidak menyusu. Sekarang giliran adiknya Caca bersaudara yang menggantikan peran tersebut 🍼🍼🍼.

Bertambahnya anggota keluarga berarti bertambah pula kebutuhan tempat tinggalnya. Karena ini jumlah kelinci terbanyak yang kami miliki, jadi mau tidak mau, kami harus membangunkan rumah baru ternyaman yang bisa dihuni oleh Shofia, Clover, Caca bersaudara, dan bayi-bayi baru (belum punya nama 😁). Berhubung area bagian belakang rumah kami tidak terlalu luas, maka diputuskan untuk membangun rumah susun dengan dua lantai untuk anak-anak Shofia. Lantai pertama untuk Caca bersaudara, lantai kedua untuk bayi-bayi baru dan Shofia (Clover? Di luar aja πŸ˜‚).

Kerja bakti bangun rumah (baca kandang)

Terima kasih Abah dan Adek yang sudah berdedikasi membangunkan rumah baru untuk Shofia 😊. Semoga menjadi rumah ternyaman dan layak huni bagi keluarga Shofia. Rumah tempat bernaung, berlindung dari panas, hujan, dan terhindar dari incaran mahluk bertaring tajam yang terlihat lugu (meooow... 🐱). Semoga keluarga Shofia bisa tumbuh berkembang dengan baik, mendapatkan pendidikan yang baik dan bisa hidup dengan baik #eh..
Terakhir, semoga dedikasi Abah dan Adek membangun rumah untuk Shofia terhitung sebagai amal jariyah di sisi Allah. Aamiin...

Keluarga Shofia dan rumah barunya

Setelah rumah, maka kebutuhan pangan pun harus tercukupi 

Baiti Jannati πŸ˜„

Rabu, 15 Februari 2017

Umpama Balon

Sejak awal pertunjukkan, kawanan balon-balon kuning memang sudah tertata rapi di bagian atap panggung. Digadang-gadang sebagai salah satu pemanis panggung, rupanya balon-balon ini memang manis sekali di mata krucill, menggoda mereka untuk mengambilnya. Tak terkecuali dengan seorang pria muda (mudanya pake bangeeet 😁) yang tiba-tiba berjalan ke arah saya dengan pandangan mata yang terus menerus menatap ke arah atap tenda di dekat panggung. Rupanya dia juga sangat menginginkan salah satu balon tersebut bisa diraihnya (mau digunakan untuk bermain, katanya). Setelah berbagai usaha dilakukan (kecuali, naik ke atas panggung, eitsss... saya larang), ternyata balon-balon di atap panggung masih enggan menghampiri pria muda ini (akhirnya nangkring di samping panggung deh nemenin saya πŸ™Š, lumayanlah bisa diajak ngobrol πŸ˜…). Dan akhirnyaaa setelah penantian sekian lama, balon yang diinginkan pria muda ini luluh juga, si balon terpisah dari kawanannya dan terbang (tertiup angin πŸ˜…) menuju si pria muda ini (Si pria muda langsung ambil balon ini dong.... nunggunya udah laamaaa bangeeet, hehe.....). Begitu senangnya si pria muda ini saat si balon ada di dalam gengggamannya (yeee... yeee... bisa main).


Mengintai kawanan balon di atap panggung, berharap ada yang terpisah dari gerombolannya
(pengen diambil πŸ˜‘)


Setelah penantian dan pengintaian sekian lama, akhirnyaaa dapat jugaaa....

Ternyata keberhasilan pria muda ini mendapatkan balon, mengakibatkan tertularnya teman-teman pria muda untuk mendapatkan balon juga (saya juga jadi ikut antusias pengen dapetin balon #eh).

Saya yang kebetulan mendapat jatah jaga di area samping panggung menjadi ikut sibuk mengintai balon-balon di atap panggung. Balon-balon yang tadinya bergerombol, perlahan terlihat terpisah dari kelompoknya, tertiup angin, pergi ke haluan yang berbeda-beda, sampai akhirnya satu-persatu balon ditemukan oleh teman-teman pria muda yang berada di area depan panggung (saya dapat? enggak...πŸ˜… lha wong balon pergi ke arah mana, saya ada dimana). Teman-teman pria muda juga terlihat kegirangan mendapat balon seperti pria muda (ada yang dipakai untuk tendang-tendangan, dilempar-lempar, dipegang aja, dielus-elus, dibawa jalan, de el el.).



******


 Keesokan harinya disambut dengan balon yang lebih banyak dan lebih warna-warni. 
balon yang kemarin?? udah lupa ... πŸ˜…

 ******

PS: Saya jadi mikir, apakah perempuan di mata lelaki juga umpama balon-balon itu? #eh πŸ™Š

Kamis, 09 Februari 2017

#Garing (1)

Berada diantara kerumunan orang yang sedang membicarakan suatu hal dan kamu tidak tahu apa-apa, mmmm... itu mungkin hal yang sangat membosankan sekaligus menyebalkan yaaaa... ketika terlibat dalam sebuah pembicaraan tapi kamu tidak bisa ikut berbicara (iya bener, nggak mudeng sih #mlongo), mungkin lebih baik untuk memilih diam, lalu alihkan perhatian kita. Jangan fokuskan pikiran kita ke perbincangan tersebut. Kenapa? Iya kan nggak mudeng juga. Hehe... itu yang pertama. Yang kedua membuat kita merasa terabaikan, padahal yang lagi asyik berbincang belum tentu bermaksud seperti itu (saya suka kasihan sama orang dalam situasi ini, mending kabur aja... kabur... 😁). Yang ketiga, membuang waktu dan energi secara percuma (iya dong? Ngedengerin cuit-cuitan yang kayanya gak ada pengaruhnya apa-apa ke kita, nggak ngerti juga). Terus gimana dong? Yaudah, bagi kamu yang sedang atau suatu saat akan mengalami situasi seperti ini, saran saya adalah:
1. Bergegas meninggalkan perbincangan
2. Lakukan kegiatan lain agar tidak bosan
3. Tetap berpikir positif, jangan berburuk sangka dengan segerombol orang yang sedang melakukan perbincangan tersebut
4. Jangan merasa diabaikan (karena kamu bisa memilih untuk tidak diabaikan hehe.. lihat poin 2, buat diri kamu sendiri sibuk... ✍πŸπŸ§πŸš²πŸš΄πŸš΅πŸ€πŸ“–πŸ”¬πŸ“

Minggu, 05 Februari 2017

"Bercahaya" untuk Kesekian Kalinya

"Coba diam sebentar, Ustadzah punya kabar gembira", rayu saya pada krucil (hehe salah satu jurus biar mereka bisa diam adalah dengan menyampaikan "kabar gembira"). Kalau anak putri yang dengar kata "kabar gembira", pasti deh langsung dinyanyiin... πŸ˜… (Kabar gembira untuk kita semua... kulit durian, kini ada durinya.... bla bla bla...).
"Apa Ust? Apa Ust?", suaranya langsung terdengar bersahut-sahutan.

(Hening sejenak.....)

"Besok Sabtu, Insya Allah... kita mau outdoor study ke Pabrik Kerupuk Tengiri ", jawab saya menerangkan. Tentu saja kabar tersebut langsung disambut dengan antusias oleh para krucilsss. Pertanyaan pun mulai bermunculan, dari A sampai Z, sampai-sampai saya bingung mau menjawabnya.

(tanya jawab pun berlangsung --- panjang kalau mau diceritakan πŸ˜…)
 *****

Keesokan harinya, giliran saya mengumumkan perlengkapan apa saja yang harus dibawa krucilsss (udah pada ribut banget ini disini, masalahnya armada yang akan mengangkut kami belum lengkap, belum cukup πŸ˜…).

"Ust... kalau mobilnya nggak cukup gimana? yang nggak kebagian mobil mau naik apa?", salah seorang krucil bertanya dengan ekspresi yang cukup..... ya.... bisa dikatakan bingung dan panik.

"Kalau nggak kebagian mobil ya berarti nggak ikut, tinggal di kelas, ngerjain tugasss", ledek saya. Hihi protes langsung melayang dari sana sini (ok fine, ustadzah cuma bercanda, Insya Allah diusahakan).
 ******

Masih ingat tentang keribetan krucillsss yang pernah saya ceritakan? iyaaa, keribetan itu terulang lagi malam itu. Malam sebelum keberangkatan kami ke Kota Bercahaya. Tapi saya pikir itu adalah salah satu ritual yang tidak boleh dilewatkan sebelum berkegiatan dengan krucil, kurang afdol... hehe... Mulai dari keribetan minta dipilihkan sandal, minta difotokan, tanya perlengkapan (meski sudah diumumkan dan dibagikan surat), curhat nggak sabar segera hari H, dan masih banyak lagi. Ribet? memang, tapi disitulah seninya. saya aja kadang suka ketawa-ketiwi sendiri ketika harus membalas (iya dibalas, karena malam itu tanyanya lewat sosmed) satu-persatu pertanyaan krucil. Sampai....malam yang seharusnya digunakan untuk kemas-kemas dan istirahatpun ternyata masih ada yang ngambek-ngambekan sama temannya πŸ˜“πŸ˜’. Ok baiklah kita tinggalkan keribetan yang satu ini yaaa.....
******
Hari H......
Pagi ini mobil sudah berjajar rapi di halaman gd. 1. Krucilss juga sudah siap berbaris dengan ibu negara di halaman gd. 2 (saya mampir gudang dulu, ambil bolaaa, yang ternyata setelah dibawa enggak dipakai, mmm). Sekitar pukul 07.00 WIB kami meninggalkan sekolah menuju kota "bercahaya". Mobil yang saya tumpangi adalah mobil ke-21 (total ada 26), kebetulan juga keluar gerbang agak di barisan belakang. Tapi yaaa... lagi-lagi emang rejeki anak soleha (eh, ustadzah soleha maksudnya... πŸ™ŠπŸ™ŠπŸ™Š aamiin), ternyata setelah kurang lebih 2 jam perjalanan, mobil yang saya tumpangi tiba di TKP pertama kali (yihaaaaa, istirahatnya bisa lamaan dikit).
******
Setelah semua berkumpul, the krucilers dikumpulkan dan dibariskan sesuai kelompoknya. Kunjungan pertama kami adalah ke pabrik pengolahan kerupuk tengiri. Karena jumlah krucill yang cukup banyak (sekitar 166, padahal cuma kelas 4 πŸ˜€), akhirnya kami masuk ke pabrik secara bergilir dan yang beruntung mendapat giliran pertama adalah anak putri.

#nunggu dulu deh


Murojaah dulu yaaaa

Masih nunggu antrean

Yeeeay hampir tiba gilirannya

udah di pabriknya nih, dekat kolam ikannya

ruang pengemasan sekaligus penimbangan
(Foto di pabrik nggak lengkap)

terakhir ke outletnya --- beli oleh-oleh....
(Sekaligus sebagai kegiatan penutup di pabrik)
******
*Destinasi Kedua .......
"TELUK PENYU", begitu kami masuk pintu gerbang (tempat pembayaran karcis masuknya) mata kami langsung tertuju pada tulisan tersebut. Tulisannya seolah-olah menyapa, menyambut kami dan mengatakan "Selamat Datang di Teluk Penyu"... (respsionis kali ah, menyambut). Teluk Penyu ini adalah salah satu kawasan wisata yang ada di Kota Bercahaya ini. Kebetulan jaraknya tidak jauh dari Pabrik Kerupuk yang kami kunjungi sebelumnya, sehingga kami memutuskan untuk singgah di sini sebelum melanjutkan perjalanan pulang kami (ngapain kesini? mensyukuri nikmat Allah, semoga keimanan kami bertambah, Ya Allah... aamiin).

nunggu giliran lagiii
seneng ust......
formasi anak putri lengkap

 Ini nih yang keasyikan sampai nggak denger kalau dipanggil
 Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?
(Senengeeee cah......)

 
 Buat istana pasir meski sendirian

Ngawasi krucils yang mencar mencar, agak lelah yaaa πŸ˜…

Mana cuacanya panasss sekaliiii

Ngaso dulu setelah bebersih, sembari menunggu teman yang sedang mandi

Udah keren Ust....

Lapar Ust....

Lapor dulu sama yang masih kasih kesempatan hidup
(Menuju tempat wudhu)