Sutrah berarti pembatas atau penghalang. Kata "Sutrah" mulanya memang cukup asing bagi saya. Waktu itu saya sudah memasuki jenjang perguruan tinggi, seorang teman memberikan saya wejangan tentang cara sholat yang baik menurut Rasul. Dari perbincangan tersebut, saya baru tahu apa itu sutrah. Kemudian, untuk kedua kalinya saya juga menemukan kata sutrah ketika saya membaca salah satu buku pinjaman dari teman. Di dalamnya ada pokok bahasan yang membahas tata cara sholat dan adab-adabnya (Hehe... maklum... sholat saya masih banyak yang mesti dibenahi 😅).
Terus apa yang aneh dari kata "sutrah"? enggak, enggak ada yang aneh sama sekali. Yang aneh saya, masa istilah seperti itu baru ngerti setelah masuk kuliah.... ish.. ish.. ish.....😔😔😔 . Selama ini kemana? hmmmm.... kemana yaaa? hihi... ke kelas aja yuuuuuk...... 🏠🏠🏠
Kelas, merupakan tempat belajar sekaligus tempat bermain bagi the krucilers (sebutan saya untuk anak-anak 😄). Biasanya saat jam istirahat tiba, tak sedikit krucil yang gemar berlarian di dalam kelas, berkejar-kejaran, atau sekedar duduk ngobrol di salah satu pojok ruangan. Sudah barang tentu aktivitas-aktivitas tersebut menghasilkan suara yang cukup keras. Suara hentakan kaki ke lantai, teriakan krucil saat dikejar temannya, atau suara krucil ketika memberikan aba-aba kepada pihak kawan sekelompok. Bahkan yang hobinya main bola dengan bola kecil (biasanya untuk mandi bolaaa 😅) di luar kelas pun, terdengar histerianya. Nha disaat seperti ini biasanya menjadi saat-saat yang menimbulkan banyak kegaduhan. Kebisingan yang mereka timbulkan tak jarang membuat kepala pening (apalagi kalau sedang sakit gigi), juga mengganggu konsentrasi calon-calon penghuni surga (Aamiin...) saat sedang melaksanakan sholat di kelas (#eh).
Suatu saat ketika saya sedang sholat di kelas, sekelompok anak lelaki sepertinya sedang memainkan peran polisi dan pencuri. Alhasil kejar-kejaran pun tak dapat dihindari. Beberapa memilih jalur yang aman (sepi, nggak dilalui orang), beberapa agak ehem-ehem nih, sampai-sampai jalur sholat saya (padahal udah di pojokan belakang) pun ikut dilalui. Alhasil sempat salah satu anak terduduk di depan sajadah sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"he....ngawur, ustadzah kan lagi sholat", celetuk salah seorang krucil.
"krrrrkkkkkk", seretan kursi yang menyebabkan kaki-kakinya bergesekan dengan lantai, terdengar tidak jauh dari tempat saya sholat. Rupanya salah seorang yang mengerti (dalam tanda kutip) kalau ustadzahnya itu sedang sholat (dan mengerti, paham, kalau melewati tempat sujud orang sholat itu tidak boleh), dia meletakkan kursi yang telah diseretnya itu ke depan sajadah saya.
"Hei, untuk apa hei....", salah seorang teman bertanya heran.
"Ih... itu sutrah, biar larinya nggak nglewati ustadzah, kan nggak boleh lewat depan orang sholat", tutur si lelaki kecil penyeret kursi. Hihi... saya jadi dengerin percakapan mereka yaaaaa 😅😅😅😒
Nha, dari kejadian tersebut, saya jadi berpikir ternyata pengetahuan saya emang cetek dan lambat banget yaaaa. Saya tahu istilah "sutrah" ketika saya duduk di perguruan tinggi, sedangkan lelaki penyeret kursi itu baru duduk di kelas 4 SD (Ooowww, apalah saya iniiii... 😊)
Kesempatan-kesempatan berikutnya, ketika saya sholat dan lupa tidak meletakkan sutrah di depan sajadah (lupanya hampir setiap harii 😂), maka lelaki-lelaki kecil saya akan meletakkanya tanpa diminta. Biasanya mereka menggunakan kursi sebagai sutrahnya. Setelah itu barulah mereka berbincang kembali di seberang sutrah yang telah mereka letakkan.
Dari seberang kursi kelihatan kan kaki-kaki mungilnya krucil... 😉
Bukan, bukan bermaksud bilang kalau sutrah itu kursi, tapi kursi bisa jadi sutrah atau salah satu sutrah itu bisa berupa kursi (nha lhooo).
Selain meletakkan kursi di depan tempat sujud kita sebagai sutrah, kita juga bisa meletakkan barang-barang yang lain, misalnya tongkat, tumpukan buku (maklum, di kelas adanya buku dan buku 😁) atau bisa juga dengan menggunakan tas. Manfaat sutrah ini adalah sebagai pembatas atau penghalang. Sehingga orang lain yang ingin lewat di depan jalur sholat kita menjadi mengerti, batasan mana yang tidak boleh ia lalui, batasan mana yang boleh ia lalui. Apa tidak cukup dengan sajadah saja? Sebenarnya dengan sajadah juga sudah bisa jadi penanda, tapi kalau situasinya seperti saya (kadang sholat di tempat yang memang agak ramai, apalagi di kelas yang krucilnya hobi lari-lari muluuuu), sutrah ini sangat membantu mempertegas batasan mana yang boleh dilalui dan mana yang tidak.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar