Selasa, 31 Januari 2017

Kemana Kaki Melangkah?

"Mba, nanti kita keluar Kos pukul 21.25an ya biar nggak telat", kata Mba Dedew mengingatkan.
"Iya mba, oke", jawabku dengan yakin dan percaya diri. Biasanya jika akan bepergian begini, saya akan melakukan banyak aktivitas supaya mata saya tetap ON. Tapi sekarang jarum jam baru menunjukkan pukul 20.15 WIB. Masih cukup lama dari waktu yang saya sepakati dengan kawan saya. Rasanya sudah berbagai trik saya lakukan agar Si Mata ini mau melek, tapi ternyata rasa kantuk saya lebih  besar dari hasrat mau meleknya. Alhasil ketiduran deh. Zzzzzz..
******
"Mba... mba.... mba... mba...", ternyata Si Mba Dedew udah ketuk-ketuk pintu dari tadi.
"Ayo siap-siap mbok telat", aduuuh ni kata "telat" nya membuat saya langsung melek terus cepet-cepet bangun (langsung nyamber jam tangan).
"OMG, 21.25 (telat ini mah telat.... ketinggalan bus beneran)", saking gugup dan kagetnya, saya pikir bus berangkat pukul 21.30 WIB (padahal mah kan 22.30 WIB 😰😰😰). Nggak pake mikir lama, saya langsung buka pintu kamar terus lari-lari ke kamar mandi untuk cuci muka (baru deh di kamar mandi inget πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘).
"Mba Dedeeew.... tak kira udah telat, ternyata jam keterlambatannya 22.30 yaaa? (Masih kelihatan muka paniknya)", lalu menghela napas. Udah deh lanjut beres-beres terus cus ke TKP.
******
Banyak orang dengan bawaannya yang banyak juga, berkumpul dengan keluarga masing-masing di tempat tunggu. Kalau saya? (Sama teman-teman lah 😰😰). Jangan tanya keluarga saya mana yaaaa? Pleaseeeee (ini pertanyaan yang kadang agak buat saya jadi krik-krik πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’ #tarik napas duluuu). Dan setelah sampai di tempat tunggu (dengan waktu sesuai instruksi yang ngasih instruksi πŸ˜€πŸ˜€), ternyata kita harus nunggu dulu sampai hampir 2 jam-an. Kenapa? Busnya belum datang. Jadilah dengerin kawan-kawan ngobrol ngalor ngidul (berhubung saya nggak ngerti dengan topik yang dibahas, yaudah diem aja, sesekali ngiya-iyain kalau ditanya).
******
"Lho ngapain masih pada disini? wong busnya udah di depan. Ditunggu sampai kapan tahun juga nggak bakal kesini", kata tetua suku (kebetulan kami menunggu di halaman tengah boarding dan ternyata busnya parkir d pinggir jalan raya).
Denger kata "bus udah di depan", kami langsung bergegas menenteng barang -barang kami ke TKP (eh, ke bus masuknya). Saya kebagian bus no.7, semua ada 12 bus. Banyak ya? Iya karena perginya dengan keluarga besar, bukan per-unit (Ini aja padahal banyak yang nggak ikut lhooo).
Begitu naik bus saya kebingungan, kok denahnya baru? (Dan kayanya saya satu-satunya yang nggak ngerti permasalahan denah tempat duduk yang diganti 😰--- jadi lebih nyaman sih... πŸ˜‚). Daaan begitu sudah naik bus semua, ternyata kita masih harus nunggu lagi (bus yang lain ada yang belum datang #oow).
#ok, fix berangkat dari Puertorico (pinjam istilahnya Usth. Ririen) akhirnya pukul 00.15an waktu di bus.
******
Agak meleset dari jadwal yang sudah disusun (kayanya gara-gara semalam berangkatnya telat). Seharusnya kami singgah di Indrayanti terlebih dahulu (jane bisa lihat sunrise), tapi akhirnya terdampar disini (#read: warung makan --- disuruh sarapan dulu ).


Tapi, ngomong-ngomong di sekitar tempat sarapan kami, pemandangannya keren lhooo... hamparan sawah yang kuning kehijauan dan pepohonan rimbun yang hijau...
Agak gelap ya, karena memang cuacanya mendung sekali 
(warna padi yang kuning kehijauannya nggak begitu nampak jelas)


Menu sarapan pagi ini adalah nasi, cah kangkung, ikan laaut goreng (nggak tahu spesies apa), dan segelas teh hangat (maap nggak kepoto πŸ˜€ padahal mah nggak ada yang nanyain foto jugaa πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…). Ini ngomong-ngomong saya belum cuci muka, belum sikat gigi, tapi udah cus makan aja... (maap bukanya jorok, masalahnya kepepet waktu πŸ˜‚ #never ending cari alasan).
******
Yeeeeee pantainya sudah terlihat.... πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘
Hamparan langit Maha Sempurna, bertahta bintang-bintang angkasa, namun ada satu yang berpijar, teruntai turun menyapaku.... (Eh... malah nyanyi, lagu siapa hayooo?).
Yaaak, sesampainya di pantai, terlihat hamparan langit yang biru, berpadu cantik dengan birunya air yang dihias riak ombak berwarna putih, serta pasir putihnya yang menawan, inilah Pantai Indrayanti. Pantai Indrayanti yang memiliki nama lain Pantai Pulang Syawal ini terletak di Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Meskipun tidak dapat melihat sunrise, tapi beruntunglah kami masih bisa menikmati keindahan Pantai Indrayanti di bawah naungan cuaca yang cukup cerah (sebelumnya sempat mendung, untungnya tidak hujan). Jika berkunjung kesini, jangan takut kepanasan yaaa... kenapa? karena banyak persewaan gazebo atau payung dan tikar di sepanjang tepian pantai. Disana juga ada spot foto yang bagus, yang sengaja dilengkapi dengan background bertanda hati yang sekarang sedang booming (yang ini maap nggak kepoto
Ini gazebonya tersembunyi di bagian belakang (nggak ke-poto)

Jane pengen buat istana pasir, tapi tak ada kawan πŸ˜…
******

Oke, mari kita tinggalkan sejenak Indrayanti. Dari Gunungkidul, perjalanan kami lanjutkan ke SKE (Sindu Kusuma Edupark) yang terletak di Jalan Jambon, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Perjalanan dari Gunungkidul ke Sleman ini kira-kira membutuhkan waktu sekitar 2,5 sampai 3 jam. Di tempat wisata ini, kira-kira ada 19 buah wahana yang dapat kita naiki dengan harga tiket beragam. Uniknya, semua wahana yang ada di SKE ini diberi nama dengan nama Jawa, seperti cleret gandhul (flying fox), roda mabur (ufo bycycle), sepur cilik (kereta kecil), sepur kluthuk (kereta besar), cakra manggilingan (bianglala), montor kuno (electric car), pit egrang (seg way), kursi mabur (flying chair), dan masih banyak lagi. Dari ke-19 wahana yang ada, cuma 6 wahana yang sempat saya coba (ini kendalanya adalah waktu yang udah mepet banget sama waktu mahgrib, jadi belum sempat coba semua wahana, eh udah dipanggil-panggil suruh kumpul di parkiran aja ). Di SKE kita dapat membeli tiket satuan (per wahana yang ingin dinaiki saja, harganya beragam, berkisar antara Rp. 5.000 - Rp. 40.000 kalau tidak salah) atau membeli tiket terusan (ini kaya tiket sakti. Nanti kita akan diberi gelang penanda yang dengan gelang ini kita bisa lolos masuk ke wahana mana saja, asaaaalllll bertuliskan "berlaku untuk tiket terusan", kurang lebih begitu lah..)
Nha, ketika sudah masuk di kawasan SKE, saya sejujurnya merasa seperti anak ilang... hehe... iya karena dari ke-5 cewe-cewe single (yang saya ikutin, karena yang lain sibuk sama keluarganya, hiks..) yang beli tiket terusan itu cuma saya, alhasil jiwa bolang saya keluar (iyakaan daripada tiket yang dibeli nggak kepakai yaudah PD ngebolang sendiri aja di dalam). Untungnya yaaaa (rejeki anak soleha 😁) ada pasangan suami-istri yang masih muda (tapi lebih dewasa dari saya siiih) yang ngajakin ngebolang bareng... hehehe (yesss akhirnya dapet partner). Tapi-tapi beberapa menit sebelum itu ......
"Assalamu'alaikum ustadzah R**** (murobi saya pas JT nih), sehat Ust?", sapa saya.
"Wa'alaikumsalam.... eh, kok sendirian aja.. temannya (ehm, pasangan maksudnya) mana??", balas Sang Murobi sambil menggandeng dan menyalami tangan saya.
"Hehe... iya lah Ust, ini sendirian, belum ada temennya ..... (langsung kabuuuuur.....πŸ˜…πŸ˜…)..

Baiklah... pasti udah nggak sabar mau tahu keseruan saya di SKE nih... (idiiiih PD banget πŸ˜‚), langsung saja disimak yaaaa


1. House of Terror
Wahana ini menyajikan film (bergenre horror) 8D yang menantang adrenalin kamu. Kenapa? ya karena efek 8D nya itu, kita seolah-olah dibawa masuk ke dalam dunia filmnya (ketemunya hantu muluuuu 😱). Kebetulan ketika saya masuk wahana ini, film yang diputar adalah "Phantom of House". Filmnya bercerita tentang ......... mmmmmmm ...... tentang...... (apa yaaa???? intinya mah rumah berhantu... hihi susah diceritain karena pas nonton sibuk jerit-jerit.. hehe). Di detik-detik terakhir pemutaran film, ini kaki saya kaya ada yang nyentuh cenderung nariik-narikk gituuuu (serupa adegan di film, ketika seseorang kakinya ditarik oleh hantu perempuan penjaga rumah hantunya. hiiiiiii...... angkat kaki dah langsung (dalam arti sebenarnya)).


Si gelang sakti pengganti tiket sakti

Narsis dulu sebelum film dimulai, boleh dong... πŸ˜„


After nonton, ngaso duluuuuu (Dari depan: saya, Usth. Yuli, Suami Usth. Yuli)
(nyari strategi, kira-kira mau ke wahana mana dulu, biar dapet banyak dengan waktu yang mefeeet)

2.Roti Mabur
Sebenernya disini kita cuma duduk di wahana berbentuk roti sembari nikmati putarannya yang syahdu, mendayu-dayu (nggak bisa teriak-teriak, karena putarannya kalem banget).

3. Roda Mabur (Ufo Bycycle) / Sepeda Mabur (Flying Bycycle)
Nha ada sedikit cerita yang ehem ehem nih disini. Jadi si roda mabur ini adalah roda yang diduduki oleh 2 orang, dimana orang-orang tersebut harus mengayuh pedal (sepeda) nya agar si roda ini mau jalan. ukuran rodanya cukup besar, lebih besar dari ukuran tubuh saya yang mini inilah. Nha karena kami masuk bertiga (saya, usth. Yuli dan suami), otomatis saya dong yang nggak kebagian pasangan. Sempet optimis sih karena biasanya saya juga gowes, paling ya gituuu caranya (udah PD banget ini ngantri lama). Nha detik-detik dapat giliran main (satu pasangan lagi, terus belakangnya saya), saya malah berubah jadi ragu-ragu. kenapa? kok kayaknya gedhe banget rodanya, takut nggak jalan, takut nggak dibolehin sama mas-mba penjaga pintunya (karena tempat duduknya berdua kan..).
It's my time......
"Sendirian mbaa??", kata si mas penjaganya.
"Iya, boleh kan ya???", langsung nyamperin roda (pink-nya), terus pasang sabuk pengaman.
Gowessss........ 1 detik, 2 detik, 5 detik, 10 detik, saya mulai panik. ini roda digowes kok nggak jalan-jalan yaaaa (muka tambah merah kayanya nih, malu kalau beneran nggak jalan, mana sendirian pulaaaa).
"Masss kok nggak mau jalan yaaaa", keluh saya sama si mas-mas yang berbadan besar juga. eh tanpa berkata-kata, si masnya langsung aja dorong roda saya... (yihaaaaa roda saya lepas dari landasan). Ini sebenarnya antara seneng (karena udah lepas landas) dan enggak seneng (takut di tengah jalan nggak mau jalan rodanya, OMG......).
Alhamdulillah... dan ternyata emang rejeki anak soleha (eh, rejeki anak sering gowes), meski dengan susah payah (harus mengerahkan seluruh tenaga) alhasil saya bisa meluncurkan roda saya. Sempat malu sih memang, gimana enggak, mas-mas dari bawah (lagi duduk-duduk) melihat ke arah saya (dan ngasih kode ke temannya supaya lihat ke arah saya sambil ngobrolin sesuatu, mungkin mereka "heran" atau lebih ke arah "aneh", lihat seorang mba berjilbab agak besar, dengan roknya lagi ngayuh roda mabur (tapi jangan khawatir, meski pakai rok atau gamis, biasanya saya selalu memakai celana panjang lagi di dalamnya, jadi auratnya Insya Allah aman.... 😁)).
Setelah bersusah payah, akhirnya satu putaran hampir selesai saya lewati (Ini orang-orang yang ada di antrean juga kayaknya agak penasaran, mbok mbok saya tepar di tengah jalan, mereka melihat ke arah saya dengan memberikan senyuman nggak percaya, kayanya 😁). Yeeee si roda sudah masuk landasan, si mas-mas yang tadi ngebantuin saya lepas landas (dengan cara di dorong), kali ini juga ngebantuin saya lagi kembali ke pacuan landas (dengan cara ditarik 😁). Alhamdulillah.... enggak penasaran... πŸ˜‚ (turun dari roda dengan kaki yang agak pegel-pegel asyik).
Ketika roda ngadat nggak mau meluncur, itu adalah saat yang tepat untuk ngasih kode minta bantuan πŸ˜…πŸ˜…

Penuh perjuangan nih fotonya (meski tak nampak muka).... takut-takut gimana gituuuu 
(foto dari ketinggian, di wahana tak berpintu)

4.Cakra Manggilingan (Bianglala)
Setelah berlelah-lelah ngayuh roda besar, alone pula, akhirnya saya request ke usth. Yuli supaya kita naik wahana yang nggak perlu pakai tenaga. Dan tara... sampailah di dalam kurungan besar ini (ini pakai tenaga juga sih, tapi nggak sebesar saat naik roda mabur). Disini kita hanya tinggal duduk manis, menikmati putaran yang sangat pelan (nunggu ada di titik teratas supaya bisa lihat pemandangan yang aduhaiiiii... Masya Allah sekali).
Ini takut sebenernya mah, makanya pegangan, kaki gemeteran
(Nggak berani lihat ke bawah, lihat ke arah yang jauh aja)

5. Kursi Mabur (Flying Chair)
Waktu semakin sore aja, rasanya cepat sekali (pengen nyobain semua, tapi waktu kayanya nggak cukup). Ya sudah, akhirnya langsung meluncur kesini (nostalgia masa kecil, maen ayunan). Berbeda dengan ayunan yang biasanya saya mainkan waktu kecil, ayunan yang ini berputarnya melingkar dan semakin lama semakin tinggi kedudukannya. Agak bikin ser sera-an juga sih, tapi menyenangkan....




6. Montor Tumbur (Bom-bom Car)
Nha ini wahana terakhir yang saya coba dan paling fenomenal. why why why? Iya... sebelumnya sempet main beginian 2 kali (seingat saya, pertama pas jaman KKL, kedua pas jaman masih kerja di Semarang) dan nggak pernah bener. Kali ini juga, diantara semua pemain (yang semuanya laki-laki, kecuali saya) mobil saya berkali-kali nabrak pembatas, terus muter-muter, tumburan dengan mobil lain (aduuuuh.... malu-maluin), tapi saya seneng banget. Saya sampai pura-pura pasang tampang polos ketika mobil saya berkali-kali nabrak pembatas, kemudian nggak mau bergerak lagi (langsung disamperin abang-abangnya, dikasih instruksi, yang sebenernya otak saya ngerti, tapi tangannya nggak mau koordinasi. Daaan abang-abangnya kayanya udah BT kasih instruksi ke saya bolak-balik tapi nabraknya bolak-balik juga... Aduuuh maapkeun).
Ngantri sama Si Ijo (Dia mainnya lebih jago daripada saya)



Gegara ngantri pengen main montor tumbur ini, alhasil saya telat kembali ke bus (karena sebelumnya saya lebih memilih untuk sholat mahgrib berjamaah terlebih dahulu, lalu jama'-qashar sholat Isya).
"Nha ini ni yang ditungguin", disambut dengan celetukan agak-agak gitu deh (hihi).
"Aku sholat dulu.....", jawabku polos.
"Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu", kayanya hampir sebis nyorakin saya (πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘)
"Ini kita, se-bus belum ada yang sholat lho", kata orang-orang di bus (gegara dilarang TLnya, katanya nanti aja sekalian makan malam. Mmmm tapi rasa-rasanya ada yang nggak bener deh, karena waktu di mushola, saya ngelihat kawan se-bus ada disana. huft, yasudahlah, resikoo jadi Princesss, #eh πŸ˜€πŸ˜‚πŸ˜…). Udah deh, selepas di-hu-huin itu, saya langsung kembali ke tempat duduk saya, mojok di dekat jendela, menatap ke luar (nelangsaaaa).
Ok, anyway inilah penghujung sore saya di SKE, Yogyakarta. Semoga lain kali bisa berkunjung kembali, saat wahananya sudah bertambah banyak (Aamiin).
*****
Jika sesuai dengan rencana awal, perjalanan kami di Jogja akan ditutup dengan kunjungan ke Malioboro. Namun, karena kondisi yang kurang memungkinkan (jalanan padat, takut macet, pulangnya tambah lama), akhirnya niat ke Malioboro kami urungkan. Jadilah kami ke kawasan Ambar Ketawang untuk makan malam dan sekedar hunting oleh-oleh (Bakpianya terkenal enak disini).
Ambar Ketawang dikenal sebagai kawasan wisata belanja.
Banyak cinderamata yang dapat kita peroleh disini.
 (After belanja, nelangsanya ilang.. CERIA lagiiiiiii πŸ˜…πŸ˜…)

Selonjoran sambil jagain tas-dompet mba-ibunya yang lagi pada sholat
******
Waktunya pulang......................... πŸ‘πŸ‘πŸ‘
Setelah berlelah-lelah ria, susah-senang, akhirnya waktu kembali datang juga. Malam itu, pukul 21.30an, kami berangkat dari Ambar Ketawang menuju ke tanah rantau tercinta, Purwokerto...................
Kabarnya bus melaju sangat kencang (tapi yang ini saya nggak ingat, tidur pules banget, akibat kelelahan). Kami tiba di Purwokerto sekitar pukul 02.05 dini hari.

Alhamdulillah...
#Terima kasih atas satu kali lagi kesempatan yang Engkau berikan.. 😌




Sabtu, 28 Januari 2017

Membuat Karya Seni Montase

"Ustadzah....aku nggak nemu gambar cita-citanya", segerombolan anak putri menghampiriku yang baru saja selesai menaiki anak tangga.
"Lho... kok nggak nemu? Bawa majalahnya nggak?", jawabku kembali bertanya.
"Iya ust, susah... adanya gambar yang bukan cita-citaku, tapi aku bawa Ust", kata seorang anak.
"Ust, aku bawa majalah bo** banyak kok Ust", tambah anak yang lain sambil menuntun saya memasuki kelas, kemudian memperlihatkan setumpuk majalah yang dibawanya. Kehebohan pun terjadi. Anak putra yang tadinya sibuk bercakap-cakap di teras kelas pun akhirnya turut serta meramaikan kehebohan anak putri memilih gambar yang disukainya.
Hari ini, seperti yang telah dikabarkan sebelumnya, anak-anak akan berkreasi membuat montase dengan tema cita-cita. Jadi sedari kemarin mereka sudah riweuh dengan gambar (yang sesuai cita-citanya) tapi tak kunjung ditemui.
Namun pagi ini saya melihat pemandangan yang indah sekali, yaitu ketika mereka saling membantu menemukan gambar cita-cita untuk temannya (semoga saling bantunya berlanjut ya Nak... πŸ˜„).





"Pikiran anak-anak itu sederhana", itu yang pernah ada di benak saya sebelumnya. Tapi kali ini saya pikir hipotesis saya tidak selalu benar. Kenapa? Buktinya ya anak-anak ini, untuk menentukan gambar mana yang akan mereka pilih saja membutuhkan waktu yang cukup lama. Disamping itu, tidak cukup hanya satu orang yang dimintai pendapat ketika mereka mengambil keputusan.
"Ustadzah, Ust... cara Ustadzah ini bagus yang mana?(dengan logat khasnya anak-anak)", rasanya tak cukup sekali saya mendapat pertanyaan yang sama dari anak yang sama, kemudian bergantian dengan anak lain yang menanyakan hal yang sama pula, berkali-kali pula.. πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘
"Mereka kok lebih riweuh daripada saya ya?", pikir saya dalam hati.. 😁
Belum lagi dengan anak yang minta tolong diguntingkan πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’ (yang ini kadang cuma modus aja karena malas gunting, yang akhirnya nular ke anak yang lain). Ya tapi segala keriweuhan ini rasanya pasti akan saya rindukan kelak. Riweuh-riweuh sedep.... 😁

Setelah agak lama bolak-balik kesana kemari, akhirnya ada juga yang montasenya rada bagusan dikit 😸
(Yang bagusnya banyak, punya ustadzahnya... hihi πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚).



Nb: Untuk karya-karya yang nggak kepoto, maapin yaaaak 😁

Montase itu sendiri adalah karya seni yang dibuat dengan cara menempel potongan-potongan gambar kemudian merangkainya kembali sehingga terbentuk satu kesatuan gambar yang baru. Cara membuatnya cukup mudah karena kita hanya memerlukan gunting, lem, koran/ majalah bekas, dan media gambar. Melalui montase ini kita juga dapat melatih daya kreativitas serta imajinasi kita dalam menggabungkan beberapa gambar agar menjadi satu kesatuan yang bernilai estetis.

Kamis, 26 Januari 2017

Suplemen ^^

Suplemen, menurut KBBI berarti:
1. (sesuatu) yang ditambahkan untuk melengkapi; tambahan;  
2. bagian ekstra pada surat kabar, majalah, dan sebagainya; lampiran pelengkap: 
 Namun "suplemen" yang saya maksud disini adalah "makanan tambahan" 😁. Sore tadi ketika mengisi bimsor di kelas kesayangan (#eh πŸ™Š) tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu dari luar ruangan. Setelah dibukakan pintu ternyata......... taraaaa kiriman suplemen datang. 
"Ust pilih yang dus biru aja ust", celetuk seorang siswa. Biasanya di moment ini, krucil bakalan berebut dan merekomendasikan saya agar mau mengambil makanan dari kelasnya. Hmmm tapi warna wortel yang orange, hijaunya brokoli, dan kuningnya jagung sepertinya lebih menggoda saya. Apalagi dengan taburan keju di atasnya... hmmm pasti segar sekali. Kebetulan saya ini cukup gemar makan sayur (Heuheu krucilers kecewa).

Cuaca di luar ruangan nampak mendung dan mulai turun hujan (setelah sebelumnya diguyur hujan lebat kemudian reda). Ah, untungnya sepulang halaqoh dari gedung satu tadi aku bergegas membuat minuman hangat (susuuuu, one of my favorite drinks... πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹).  Setidaknya ini membantu menghangatkan badan yang memang sudah kedinginan sedari tadi. Susu dan Salad menggoda sekali untuk segera disantap, namun keriweuhan krucils membuat saya mengurungkan niat untuk memakannya. Saya pun memilih untuk melanjutkan kegiatan belajar kami. Sore ini pembelajaran berlangsung seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya, kebanyakan krucil di kelas saya ini memang istimewa (ngelatih sabarrrrr 😁😁). Jadi saya pikir saya juga (agak) mulai terbiasa dengan mereka. Dan entah kenapa waktu serasa cepat sekali bergulir, 60 menit pun berlalu (rasanya cepat sekali, padahal paket soal belum semua diselesaikan πŸ˜…). Tapi ya... sudahlah, dengan sangat terpaksa mereka harus membawa sisa soal yang belum terselesaikan sebagai tugas rumah.

Waktu yang dinanti pun tiba......
Hap hap.... mari kita menyantap seonggok makanan dan minuman yang sedari tadi melambai-lambai minta disentuh (padahal mah udah kelaperan πŸ˜…).


 

"Slrrrp.... " saya awali makan saya kali ini dengan meminum segelas susu (seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasul, "minumlah dulu sebelum kamu memasukan makanan ke perutmu, sesungguhnya ini mencegah kamu dari berlebihan terhadap makanan. Wallahua'lam). Lalu satu persatu makanan yang berwarna-warni itu pun masuk ke mulut. Masya Allah.... lezatnyeeee (gaya upin ipin). Ini mah sebenarnya karena udah laper aja... (he he ....). Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan makanan sehat ini (menu diet πŸ˜…). Seusainya, aku pun bergegas ke lantai 1 (sebelumnya ada di lantai 2)  untuk mencari tempat transit sebelum menjalankan tugas berikutnya.

Selama perjalanan menuruni tangga menuju lantai 1, saya yakin makanan yang barusan saya konsumsi ini sudah dalam perjalanan dari kerongkongan menuju lambung. Menurut ilmu yang pernah saya pelajari, makanan yang telah dicerna di mulut akan dibawa ke lambung dan akan tetap berada disana selama kurang lebih 3-4 jam untuk dicerna secara enzimatis, yang kemudian akan diteruskan ke usus untuk mengalami pencernaan selanjutnya yang berlangsung kurang lebih selama 6-7 jam. Waaah cukup lama ya..
Tapi apa yang terjadi pada saya pemirsa? belum genap 30 menit, suplemen kedua pun datang (Aduh padahal proses pencernaan sebelumnya saja belum selesai). Karena perut masih terasa kenyang, akhirnya saya memutuskan untuk tidak ikut makan bersama krucilss. Saya hanya menemani mereka makan bersama dan makanan saya, saya santap setelah sholat mahgrib (mmmm rasa-rasanya belum ada 3 jam sejak makan suplemen yang pertama πŸ˜…). Ibarat mesin, kalau sering digunakan pasti akan memiliki kualitas yang lebih rendah dengan mesin yang jarang digunakan. Oleh karena itu, saya jadi mikir "organ pencernaan yang sering  dipakai ini berarti bisa menurun juga ya kualitasnya (kinerjanya)? Maka tidak heran jika Rasul mencontohkan kita agar merutinkan puasa sunah Senin-Kamis. Ya, dengan berpuasa berarti kita ikut mengistirahatkan mesin-mesin pencernaan yang ada di tubuh kita. Namun, tak seperti mesin buatan manusia, mesin yang telah khusus Allah rancang ini memiliki keistimewaan. Walaupun digunakan terus-menerus tetapi tidak akan cepat rusak (syarat dan ketentuan berlaku). Kenapa? Karena setiap sel yang menyusun mesin-mesin di tubuh kita memiliki daya regenerasi yang mengganti sel-sel yang telah rusak menjadi sel-sel yang baru kembali (yang ini syarat dan ketentuan berlaku juga). Sungguh Maha Besar Allah, Tuhan yang telah menciptakan makhluk-Nya dengan bentuk yang paling sempurna.

******
Waktu menunggu datang lagi. Sembari menunggu adzan Isya berkumandang, akhirnya perut saya nyerah juga (lapaarrrrr). Makaaaaan......................................πŸ˜‹



Mendampingi Try Out UN Matematika


OMG... 😱😱😱 jadi  beneran ndampingi TO nih???? Yaelah... dikira nggak jadi, nggak ada persiapan nih... (eh, ada ding.. "sarapan" πŸ˜€).
2 jam berkutat dengan soal matematika. Tapi tapi.... bukan saya yang mengerjakan, saya lebih ke bagian mengarahkan saja. Setelah selesai pendampingan, kepala rasanya nyut-nyutan, perut keroncongan, mendadak lapar lagi. Padahal menu sarapan tadi pagi: segelas susu, beberapa biskuit, sepiring nasi, dan sebutir telur asin (dengan menu yang cukup banyak itu biasanya saya baru akan merasa lapar sekitar jam 11an, lha ini.... #lambaikan tangan). Ternyata mengarahkan krucil mengerjakan dengan jalan yang benar (etdaaah jalan yang benar, tersesat kali ah...) itu lebih menguras tenaga daripada mengerjakan sendiri (benerrr lho ini nggak bohong, saya saksinya πŸ˜–)...
Belum lagi makan (karena masih di dalam sangkar nih, eh kelas maksudnya), saya udah ngebayangin hari ini harus bimsor dengan kelas yang aduhaiiii (bikin ngelus dada), lalu dilanjut jaga bimal (kuat.. kuat... aku kuat... πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ), rasanya kok sesuatu sekali yaaa... (cubit dulu sini ah..)

Aduuuuh... bantal mana bantal.....😭
(ssssst.... nggak boleh tidur! buat soal evaluasi!! 😣)

Rabu, 25 Januari 2017

Caca, Cici, Cucu, Cece, dan Coco


Caca, Cici, Cucu, Cece, dan Coco....
Ya... itulah kira-kira nama bayi-bayi kelinci saya yang nampak di keranjang berwarna biru..
Mereka adalah generasi ke-4 dari induk-induk kelinci yang saya punya...
Generasi pertama yang dilahirkan oleh induk kelinci pertama saya berjumlah 5 ekor dan akhirnya habis dimakan kucing. Begitu juga dengan generasi kedua (3 ekor) dan ketiga (4 ekor). Jadi kalau dihitung total, sudah ada sekitar 12 anak kelinci saya, yang jadi santapan kucing (tega benerrr ya itu kucing.... #sakit atiiii sayaaaa... 😭😭😭)
Sejak awal saya memang selalu memberi nama kelinci-kelinci saya. Mulai dari Chika, Leo, Cici, Pupu, Manis, Clover, dan Shofia. Itu baru nama induk-induknya aja 😁, nama anak-anaknya terus terang saya agak lupa.. (faktor U <usia> mungkin yaaa 😁😁😁 eh, atau karena faktor BM yaaa #Belum Menikah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚). Sebenarnya meskipun saya selalu memberi nama kelinci-kelinci saya, biasanya saya selalu memanggilnya (hampir semua kelinci peliharaan saya) dengan sebutan "Ciii..." yang diambil dari suku kata terakhir "kelinci" πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…
(Duuuh rempong ya, udah susah-susah dikasih nama, ternyata semua dipanggil "Ciii...").
Kembali ke Caca, Cici, Cucu, Cece, dan Coco, mudah-mudahan mereka bisa tumbuh selamat sampai dewasa. Jika sudah dewasa, ukuran tubuh kelinci jenis ini bisa seukuran tubuh kucing. Caca dan saudara-saudarinya termasuk jenis kelinci "Flemish Giant". Untuk memeliharanya sebenarnya cukup mudah. Hanya saja bagi seorang pemula, biasanya akan mengalami kendala berupa tidak berumur panjangnya kelinci. Hal tersebut bisa disebabkan oleh banyak hal seperti:
1. Terlalu sering digendong ketika usianya dibawah 2 bulan
2. Dimandikan
3. Pakan yang tidak sesuai
4. Kandang yang kotor/ jarang dibersihkan
5. Mendapatkan stress yang berupa ancaman dari hewan lain atau dari lingkungan (kebisingan misalnya)
6. Terlalu banyak makan.
Penyebab nomor 1, 5, dan 6 pernah saya alami ketika awal-awal saya memelihara kelinci. Namun seiring berjalannya waktu, pengalaman pernah gagal membuat saya lebih berhati-hati dalam pemeliharaan selanjutnya (Terbukti kan sampai beranak-pinak begitu.... 😁)
Jika kelinci masih bayi (dibawah usia 2 bulan) biasanya saya akan sering menjemurnya di tempat yang tidak terkena matahari secara langsung. Hal tersebut berfungsi untuk pembentukan vit. D, juga menghindari terbentuknya jamur. Kelinci yang kurang mendapat sinar matahari dan tinggal di kandang yang terlalu lembab biasanya akan ditumbuhi jamur di telinga dan bagian sekitar mulutnya (berdasarkan pengalaman yaaaa).
Untuk makanan kelinci Flemish Giant ini tidak terlalu sulit. Biasanya saya memberi sayuran yang masih segar, seperti caisim, kol hijau, kol putih, wortel (kadang-kadang), ubi jalar (ternyata doyan juga), pisang (nyaingin yang punyaa daaaah), kangkung, selada, ataupun ampas tahu. Cici-cici saya ini tidak terlalu suka jika sayurannya sudah layu. Jika terpaksa saya kasih sayuran yang layu, biasanya sayuran tersebut tidak akan habis dimakan.
Oh iya, kembali ke Caca, Cici, Cucu, Cece, dan Coco, seorang teman pernah bertanya pada saya "Ziz, itu bagaimana cara membedakannya? Apakah kelincinya dikasih kalung yang ada namanya atau bagaimana?", sontak saya tertawa. Sebenarnya untuk membedakan mana Caca, mana Cici, mana Cucu, mana Cece, dan mana Coco tidak terlalu saya pusingkan karena semua kelinci saya biasanya saya panggil "Ciii..." 😁 (seperti yang sudah saya ceritakan di atas).
"Panggil aja kelincinya, kalau dia nengok berarti itu yang punya nama", begitu kira-kira jawaban saya (manusia kali ah, dipanggi nengok πŸ˜…). Baiklah kita biarkan saja dulu Caca, Cici, Cucu, Cece, dan Coco tumbuh berkembang hingga dewasa. Jika sudah dewasa mungkin akan lebih mudah dibedakan (karena udah bisa dandan sendiri-sendiri, bisa buat ciri khas sendiri, sudah mandiriiii 😌😌😌)

Selasa, 24 Januari 2017

Jaga Malam Pertama

Eng ing eng.....
Senin yang riweuh datang kembali....
Yap, hari pertama masuk sekolah setelah liburan singkat (cuma separuh hari Minggu, kenapa? karena sorenya saya harus kembali ke tanah rantau) itu rasanya bikin kurang semangat (masih pengen liburan, mana Si Ibu Mamih sedang kurang sehat, bawaanya tambah pengen di rumah.... tapi saya paksa-paksain semangat sih.... πŸ˜‘)
"Assalamualaikum....". Seperti biasa saya menyapa anak-anak yang sudah berjejer rapi di kelas, bercengkrama dengan kawannya yang sudah tiba di sekolah. Di waktu ini, biasanya satu persatu, anak-anak juga akan kembali menyalami saya.
"Ust..... kapan latihan? katanya kalau pagi-pagi mau latihan", tagih salah seorang siswa. Aduuuuh dada tiba-tiba rasanya sesak mendengar itu. Guyuran hujan semalam menyisakan rasa kurang enak di badan. Ditambah rengekan siswa di pagi hari... hmmmm nikmat sekali ya... Negosiasi pun berlangsung pagi itu, yang akhirnya berujung pada urungnyaa latihan pagi-pagi yang sudah direncanakan (direncanakan menurut siswa, seingat saya sih sepertinya tidak 😏).
Senin pagi, seperti biasanya pembelajaran diawali dengan upacara bendera general di halaman sekolah. Ketika sedang mengatur the krucilers baris tiba-tiba salah seorang rekan saya nyeletuk "nanti malam jaga yaaaa?". Aduuuh tambah sesek aja nih dada rasanya... ngaaap... hehe (tapi ya seperti biasa harus dipaksain semangat, mau nggak mau kan.....😌).
Mmm... oh iya, kalau dilanjutin satu-satu, kejadian dari pagi sampai sore diuraikan satu-satu, sepertinya kepanjangan yaaaa (mepet jam pulang nih, masalahnya baru bisa pegang Si Lepi dengan sepenuh hati selepas sholat isya, jadi harus kilat ceritanya πŸ˜…). Saya cepetin deh ceritanya. Akhirnya sore yang tidak ditunggu pun datang. Setelah dilobi oleh seorang rekan, akhirnya sore ini diputuskan saya mendapat giliran jaga malam. Aduuuuh... diluar perkiraaan....
Setelah selesai mengisi kelas sore (dapat snack kedua dari sekolah, yang pertama catering makan siang), saya putuskan untuk izin pulang kos sebentar untuk sekedar membersihkan diri dan mengganti baju yang sudah tidak sedap baunya (beneeerrr deh.... bau keringet). Mulanya seorang rekan menyarankan untuk mandi di sekolah saja (oh nooooo... sepertinya riweuh sekali). Tapi untungnya dibolehin pulang sebentar (yessss.... gagal mandi di sekolah deh). Sesudah mandi kilat yang saya hitung-hitung kira-kira cuma 5 menit, saya pun harus bergegas ke sekolah lagi. Nhaa... lagi ribet-ribetnya, ada aja yang membuat tambah ribet (eh, tambah lama). Anak kos minta uang untuk beli gas (maklum, jadi juragan kos, jadi banyak yang minta uang.. hehe... eh salah ding, cuma jadi bendahara kos saja sebenarnya---#senyum kalem). Kelar dengan urusan kos, saya dengan kilat kembali ke sekolah. Taraaaa..... saya disambut oleh makanan lagi..... (makan malam, makanan ketiga dari sekolah). Jadi intinya saya cuma mau cerita, di awal jaga malam ini, dengan banyak keriweuhannya, banyak juga sambutan makanannya.... kaya-kayanya sih gagal diet ini mah.... πŸ˜‚

Nb: banyak kejadian yang di-skip nih.... 😁
sebenarnya pengen ditulis semua, bener.....! tapi waktu sekarang sudah menunjukan pukul 20.28 WIB. sebentar lagi the krucilers selesai bimal.. dan sayaaaaa harus segera berkemas-kemas supaya pulangnya tidak terlalu malam.... (anak kosss, takut pintu dikunci, nggak bisa masuk kos kan berabeee 😌)

Sebenarnya masih pengen cerita tentang Caca, Cici, Cucu, Cece, sama Coco... tapi, besok-besok lagi deh.... 😁 waktu.. waktu..... time is up... #sambil nunjuk-nunjuk jam

Senin, 23 Januari 2017

Honor Pertama



Dear the reader..... (nha lho bener nggak nih ngomongnya?) ^_^
Kalau kemarin saya sempat cerita tentang kedatangan baru saya di dunia persepedaan, kali ini saya mau cerita tentang kedatangan baru saya di dunia kepenulisan.
Ya... dunia tulis menulis sebenarnya sudah sejak lama mulai saya lirik. Kapan ya tepatnya? Kalau tidak salah sekitar tahun 2008an. Waktu itu tahun-tahun awal saya belajar di perguruan tinggi. Ada banyak sekali recruitment organisasi-organisasi intrakampus saat itu. Banyak pamflet kegiatan serta pengumuman pendaftaran anggota beberapa UKM yang terpajang manis di mading kampus. Terus terang saja waktu itu ada 2 UKM yang sempat menarik perhatian saya. UKM yang pertama adalah UKM yang bergerak di bidang penelitian dan UKM yang kedua bergerak di bidang tulis-menulis. Saya pikir akan keren sekali kalau saya bisa bergabung di UKM penelitian (agak kelihatan pinternyaa, hehe). Lalu saya memutuskan untuk mengikuti seleksi menjadi calon anggota UKM tersebut. Saat sesi wawancara, saya ingat sekali ada satu pertanyaan yang cukup menohok bagi saya. "Berapa banyak buku yang sudah kamu baca selama satu minggu ini?", ya kurang lebih begitu isi pertanyaannya. Saya hanya bisa garuk-garuk kepala sambil nyengir kebingungan. "Paling 1 buku, itupun buku modul Kak", jawab saya. Maklum jurusan saya memang mengharuskan mahasiswa dan mahasiswinya untuk menghafal (mau nggak mau..), jadi nggak sempat baca buku yang lain deh (alah ngeles, bilang aja malas). Dan kalian tahu, setelah saya jawab seperti itu, ternyata giliran berikutnya menjawab bahwa dia sudah menyelesaikan 3 buku selain buku modul dalam waktu satu minggu terakhir ini. Ketika saya menoleh, ternyata orang tersebut adalah kawan sejurusan saya yang kebetulan sama sama mendaftar (udah deh mati kutu saya ketika Si Kakak yang mewawancarai bertanya apa jurusan kami). Dan ya.. seperti yang sudah kalian duga, beberapa hari setelah seleksi, akhirnya saya dinyatakan tidak lolos (udah deh udah ganti UKM lain aja). Bagaimana dengan teman saya? ya tentunya dia diterima.
Tak berselang lama, UKM kedua yang saya sukai ternyata mengadakan kegiatan pelatihan kepenulisan. Karena ingin sekali bergabung dengan klub ini, otomatis saya langsung mendaftar jadi peserta. Daaan, di luar dugaan, ternyata saya terkantuk-kantuk dan bosan saat mengikuti pelatihannya. Sebagai seseorang yang katanya ingin sekali bergabung, saya rasa sikap saya ini salah. Akhirnya saya mengurungkan niat saya untuk bergabung dengan UKM ini (heyy ini terus kapan cerita tentang awal nulisnya??? 😰😰😰).
Oke baik saya lanjutkan yaaa...
Berawal dari sahabat pena yang pernah saya punya saat SMA (lho lho lho.. kok jadi masa SMA? padahal tadi bilangnya saat awal di perguruan tinggi.. 😏), saya merasa bahwa saya juga harus punya karya. Sahabat pena saya kala itu adalah seorang yang pandai merangkai kata-kata indah menjadi puisi. Kegagalan saya bergabung dengan UKM penelitian, membuat saya kerap menulis cerita dengan alur yang cukup panjang (dan celakanya cerita saya tidak pernah tamat, selalu berhenti di tengah cerita dan sudah, ditinggalkan). Begitu seterusnya sampai akhirnya di tahun ketiga saya sempat mempersilahkan kawan saya untuk membaca cerita-cerita saya. Tahu apa komentarnya? " Kok bisa berkhayal sejauh ini ya?".. fix nih saya ini anak-anak imajiner, tukang ngayal. Udah, sejak saat itu cerita-cerita saya akhirnya selesai disitu saja, terbengkalai karena tugas kuliah yang seabreg.
Semenjak itu, kiprah saya di dunia tulis menulis terhenti (eh, kiprah katanya... πŸ˜‚πŸ˜‚). Kemudian, berselang agak cukup lama, dengan sangat terpaksa saya harus kembali aktif menulis. Kapan? saat harus menyelesaikan skripsi 😁.. Ya mau nggak mau kan, kalau mau cepat lulus, otomatis harus gemar nulis (dan baca banyak referensi). Udah, skripsi selesai, selesai juga hobi tulis menulis saya. Sampai akhirnya di pertengahan tahun 2014, saya bertemu dengan kawan lama saya. Seiring berjalannya waktu, saya baru mengetahui kalau dia ini ternyata penggemar berat Tere Liye. Yaudah deh, mau nggak mau saya juga akhirnya ketularan. Hampir semua novel dia (yang karya Bang Tere) saya pinjam. Dari novel-novel yang saya baca itulah, saya seperti punya kekuatan lagi untuk berimajinasi (sebenarnya ada sebab lain dibalik itu πŸ˜…), sampai sekarang, ketika saya lebih banyak merenung, hasrat menulis saya akan tiba-tiba muncul. Akhirnya saya pun mencoba untuk menulis, menulis, dan menulis lagi. Tulisan saya jelas sekali sangat jauh dari kata bagus, apalagi sempurna. Namun sebuah keajaiban terjadi ketika saya mau benar-benar mencurahkan hati dan pikiran untuk menulis sebuah kisah. Ternyata kisah tersebut menjadi sedikit lebih layak dibaca oleh khayalak. Iyaaaa, benar... dan taaraaa, tulisan saya akhirnya dimuat di majalah lokal tempat saya bekerja. That's it. Sepertinya saya akan lebih rajin menulis setelah ini... (mudah-mudahan nggak berubaah pikiran yaaaa 😁😁😁, Aaamiin)...




Yihaaaaaa..... tulisan pertama, honor pertama... ^^


Sabtu, 21 Januari 2017

New comer

Pendatang baru...

Ya, selayaknya pendatang baru pada umumnya, ia perlu beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Akhir-akhir ini saya bisa dibilang sebagai pendatang baru di dunia persepedaan. Mulai dari rute gowesnya, cara merawat sepedanya, nyari tempat untuk ngisi anginnya, cara ganti gigi sepedanya pas jalanan tiba-tiba naik atau turun (kebetulan sepeda saya ini model mtb, jadi rantainya akan terasa sekali berubah ketika medan yang dilaluinya juga berubah; efek ganti gigi bro,sis....), belum lagi tracknya yang asing bagi saya (track sepeda tapi lebih sering ketemu mobil pribadi atau motor, bahkan sesekali truk atau bus, hehe iyalah.. di jalan rayaπŸ˜‚). Sempat suatu waktu saya gowes pagi-pagi (sebelum gowes, harus memastikan bahwa persiapan sarapan sama baju yang mau dipakai ke sekolah udah kelar), awalnya saya melewati jalanan yang landai (mulus-mulus aja, nggak perlu ganti gigi), saya pun mengendarai sepeda saya dengan santai (matanya mah tetep jalalatan ke kanan, kiri, depan, tapi belakang tidak. Takut kalau-kalau ada motor yang tiba-tiba datang ke arah kita). Di tengah perjalanan, saya sempat tidak sengaja melirik ke arah mas-mas goweser yang tidak sengaja papasan (masih lekat sekali dalam ingatan saya, si masnya mengenakan setelan berwarna hitam lengkap dengan topi gowesnya yang dominan hitam pula). Sekilas si masnya terlihat memandang ke arah saya (mungkin dalam hatinya berkata "ini bocah nggak sopan banget, ketemu senior nggak mau nyapa.. hehe.) cuma ya karena waktu itu masih baru, jadi ya cuek-cuek aja (kalau kata adik saya sih harusnya nyapa, setidaknya senyum, tanda persahabatan katanya). Eits, malah fokus ke masnya. kembali yah... Jadi jalanan yang awalnya landai-landai aja, tiba-tiba meluncur drastis (berubah jadi turunan). Oow.... saya hampir kehilangan keseimbangan. Sepeda seolah tak bergerak ketika pedalnya dikayuh, rantainya pun mulai mengeluarkan bunyi-bunyian yang aneh (udah mulai panik 😱). Kemudian saya ingat instruksi adik saya, tangan kanan-kiri saya sibuk mengganti-ganti gigi sepeda, menyesuaikan dengan medan. Seingat saya, kalau kita sudah benar mengganti gigi sepedanya, maka kita bisa mengetahui indikatornya dari suara rantai. Jika suara rantai nyaris tidak terdengar, berarti operan gigi kita sudah benar. Tapi jika rantai mengeluarkan suara-suara aneh, bisa jadi operan gigi kita yang kurang tepat (ganti-ganti gigi terus sampai bener).
Ok, kembali ke "new comer", awal saya memutuskan untuk gowes di jalan raya, jujur itu membuat jantung dag dig dug derrrr (maklum waktu kecil cuma dibolehin nyepeda di jalanan kampung aja). Bagaimana tidak, setiap tikungan, pertigaan, perempatan, hampir ada saja yang meminta papasan (eh... πŸ™Š). Akhirnya karena tidak mau mengambil resiko, maka setiap menemui tikungan, pertigaan, atau perempatan, maka tangan saya akan segera sigap menarik rem. Tak jarang ketika ingin menyebrang jalan, saya lebih memilih turun dari singgasana dan menuntun sepeda saya (maklum masih amatiran). tak ada rasa malu sedikit pun waktu itu (eh, bohong ding... agak malu sebenarnya harus nuntun sepeda saat mau nyebrang, kelihatan banget nggak bisa ngendarainya... πŸ˜…). Tapi, pengalaman dan latihan memang tidak bisa berbohong. Kata "malu", "ragu", "malas", dan "takut" yang awalnya nempel di otak saya ketika membayangkan harus berbagi jalur sepeda dengan kendaraan roda dua atau empat lainnya, kini sudah berkurang. Buktinya akhir-akhir ini saya kerap membunuh pagi dengan bergowes ria, sekedar membangkitkan endorfin atau memburu oksigen yang masih berlimpah di pagi hari (terkadang untuk menghilangkan penat juga sih, hehe..).