Pendatang baru...
Ya, selayaknya pendatang baru pada umumnya, ia perlu beradaptasi dengan lingkungan barunya.Akhir-akhir ini saya bisa dibilang sebagai pendatang baru di dunia persepedaan. Mulai dari rute gowesnya, cara merawat sepedanya, nyari tempat untuk ngisi anginnya, cara ganti gigi sepedanya pas jalanan tiba-tiba naik atau turun (kebetulan sepeda saya ini model mtb, jadi rantainya akan terasa sekali berubah ketika medan yang dilaluinya juga berubah; efek ganti gigi bro,sis....), belum lagi tracknya yang asing bagi saya (track sepeda tapi lebih sering ketemu mobil pribadi atau motor, bahkan sesekali truk atau bus, hehe iyalah.. di jalan rayaπ). Sempat suatu waktu saya gowes pagi-pagi (sebelum gowes, harus memastikan bahwa persiapan sarapan sama baju yang mau dipakai ke sekolah udah kelar), awalnya saya melewati jalanan yang landai (mulus-mulus aja, nggak perlu ganti gigi), saya pun mengendarai sepeda saya dengan santai (matanya mah tetep jalalatan ke kanan, kiri, depan, tapi belakang tidak. Takut kalau-kalau ada motor yang tiba-tiba datang ke arah kita). Di tengah perjalanan, saya sempat tidak sengaja melirik ke arah mas-mas goweser yang tidak sengaja papasan (masih lekat sekali dalam ingatan saya, si masnya mengenakan setelan berwarna hitam lengkap dengan topi gowesnya yang dominan hitam pula). Sekilas si masnya terlihat memandang ke arah saya (mungkin dalam hatinya berkata "ini bocah nggak sopan banget, ketemu senior nggak mau nyapa.. hehe.) cuma ya karena waktu itu masih baru, jadi ya cuek-cuek aja (kalau kata adik saya sih harusnya nyapa, setidaknya senyum, tanda persahabatan katanya). Eits, malah fokus ke masnya. kembali yah... Jadi jalanan yang awalnya landai-landai aja, tiba-tiba meluncur drastis (berubah jadi turunan). Oow.... saya hampir kehilangan keseimbangan. Sepeda seolah tak bergerak ketika pedalnya dikayuh, rantainya pun mulai mengeluarkan bunyi-bunyian yang aneh (udah mulai panik π±). Kemudian saya ingat instruksi adik saya, tangan kanan-kiri saya sibuk mengganti-ganti gigi sepeda, menyesuaikan dengan medan. Seingat saya, kalau kita sudah benar mengganti gigi sepedanya, maka kita bisa mengetahui indikatornya dari suara rantai. Jika suara rantai nyaris tidak terdengar, berarti operan gigi kita sudah benar. Tapi jika rantai mengeluarkan suara-suara aneh, bisa jadi operan gigi kita yang kurang tepat (ganti-ganti gigi terus sampai bener).
Ok, kembali ke "new comer", awal saya memutuskan untuk gowes di jalan raya, jujur itu membuat jantung dag dig dug derrrr (maklum waktu kecil cuma dibolehin nyepeda di jalanan kampung aja). Bagaimana tidak, setiap tikungan, pertigaan, perempatan, hampir ada saja yang meminta papasan (eh... π). Akhirnya karena tidak mau mengambil resiko, maka setiap menemui tikungan, pertigaan, atau perempatan, maka tangan saya akan segera sigap menarik rem. Tak jarang ketika ingin menyebrang jalan, saya lebih memilih turun dari singgasana dan menuntun sepeda saya (maklum masih amatiran). tak ada rasa malu sedikit pun waktu itu (eh, bohong ding... agak malu sebenarnya harus nuntun sepeda saat mau nyebrang, kelihatan banget nggak bisa ngendarainya... π ). Tapi, pengalaman dan latihan memang tidak bisa berbohong. Kata "malu", "ragu", "malas", dan "takut" yang awalnya nempel di otak saya ketika membayangkan harus berbagi jalur sepeda dengan kendaraan roda dua atau empat lainnya, kini sudah berkurang. Buktinya akhir-akhir ini saya kerap membunuh pagi dengan bergowes ria, sekedar membangkitkan endorfin atau memburu oksigen yang masih berlimpah di pagi hari (terkadang untuk menghilangkan penat juga sih, hehe..).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar