"Iya mba, oke", jawabku dengan yakin dan percaya diri. Biasanya jika akan bepergian begini, saya akan melakukan banyak aktivitas supaya mata saya tetap ON. Tapi sekarang jarum jam baru menunjukkan pukul 20.15 WIB. Masih cukup lama dari waktu yang saya sepakati dengan kawan saya. Rasanya sudah berbagai trik saya lakukan agar Si Mata ini mau melek, tapi ternyata rasa kantuk saya lebih besar dari hasrat mau meleknya. Alhasil ketiduran deh. Zzzzzz..
******
"Mba... mba.... mba... mba...", ternyata Si Mba Dedew udah ketuk-ketuk pintu dari tadi."Ayo siap-siap mbok telat", aduuuh ni kata "telat" nya membuat saya langsung melek terus cepet-cepet bangun (langsung nyamber jam tangan).
"OMG, 21.25 (telat ini mah telat.... ketinggalan bus beneran)", saking gugup dan kagetnya, saya pikir bus berangkat pukul 21.30 WIB (padahal mah kan 22.30 WIB 😰😰😰). Nggak pake mikir lama, saya langsung buka pintu kamar terus lari-lari ke kamar mandi untuk cuci muka (baru deh di kamar mandi inget 😑😑😑😑).
"Mba Dedeeew.... tak kira udah telat, ternyata jam keterlambatannya 22.30 yaaa? (Masih kelihatan muka paniknya)", lalu menghela napas. Udah deh lanjut beres-beres terus cus ke TKP.
******
Banyak orang dengan bawaannya yang banyak juga, berkumpul dengan keluarga masing-masing di tempat tunggu. Kalau saya? (Sama teman-teman lah 😰😰). Jangan tanya keluarga saya mana yaaaa? Pleaseeeee (ini pertanyaan yang kadang agak buat saya jadi krik-krik 😒😒😒 #tarik napas duluuu). Dan setelah sampai di tempat tunggu (dengan waktu sesuai instruksi yang ngasih instruksi 😀😀), ternyata kita harus nunggu dulu sampai hampir 2 jam-an. Kenapa? Busnya belum datang. Jadilah dengerin kawan-kawan ngobrol ngalor ngidul (berhubung saya nggak ngerti dengan topik yang dibahas, yaudah diem aja, sesekali ngiya-iyain kalau ditanya).
******
"Lho ngapain masih pada disini? wong busnya udah di depan. Ditunggu sampai kapan tahun juga nggak bakal kesini", kata tetua suku (kebetulan kami menunggu di halaman tengah boarding dan ternyata busnya parkir d pinggir jalan raya).Denger kata "bus udah di depan", kami langsung bergegas menenteng barang -barang kami ke TKP (eh, ke bus masuknya). Saya kebagian bus no.7, semua ada 12 bus. Banyak ya? Iya karena perginya dengan keluarga besar, bukan per-unit (Ini aja padahal banyak yang nggak ikut lhooo).
Begitu naik bus saya kebingungan, kok denahnya baru? (Dan kayanya saya satu-satunya yang nggak ngerti permasalahan denah tempat duduk yang diganti 😰--- jadi lebih nyaman sih... 😂). Daaan begitu sudah naik bus semua, ternyata kita masih harus nunggu lagi (bus yang lain ada yang belum datang #oow).
#ok, fix berangkat dari Puertorico (pinjam istilahnya Usth. Ririen) akhirnya pukul 00.15an waktu di bus.
******
Agak meleset dari jadwal yang sudah disusun (kayanya gara-gara semalam berangkatnya telat). Seharusnya kami singgah di Indrayanti terlebih dahulu (jane bisa lihat sunrise), tapi akhirnya terdampar disini (#read: warung makan --- disuruh sarapan dulu ).
Tapi, ngomong-ngomong di sekitar tempat sarapan kami, pemandangannya keren lhooo... hamparan sawah yang kuning kehijauan dan pepohonan rimbun yang hijau...
Agak gelap ya, karena memang cuacanya mendung sekali
(warna padi yang kuning kehijauannya nggak begitu nampak jelas)
Menu sarapan pagi ini adalah nasi, cah kangkung, ikan laaut goreng (nggak tahu spesies apa), dan segelas teh hangat (maap nggak kepoto 😀 padahal mah nggak ada yang nanyain foto jugaa 😅😅😅). Ini ngomong-ngomong saya belum cuci muka, belum sikat gigi, tapi udah cus makan aja... (maap bukanya jorok, masalahnya kepepet waktu 😂 #never ending cari alasan).
******
Yeeeeee pantainya sudah terlihat.... 👏👏👏👏
Hamparan langit Maha Sempurna, bertahta bintang-bintang angkasa, namun ada satu yang berpijar, teruntai turun menyapaku.... (Eh... malah nyanyi, lagu siapa hayooo?).
Yaaak, sesampainya di pantai, terlihat hamparan langit yang biru, berpadu cantik dengan birunya air yang dihias riak ombak berwarna putih, serta pasir putihnya yang menawan, inilah Pantai Indrayanti. Pantai Indrayanti yang memiliki nama lain Pantai Pulang Syawal ini terletak di Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Meskipun tidak dapat melihat sunrise, tapi beruntunglah kami masih bisa menikmati keindahan Pantai Indrayanti di bawah naungan cuaca yang cukup cerah (sebelumnya sempat mendung, untungnya tidak hujan). Jika berkunjung kesini, jangan takut kepanasan yaaa... kenapa? karena banyak persewaan gazebo atau payung dan tikar di sepanjang tepian pantai. Disana juga ada spot foto yang bagus, yang sengaja dilengkapi dengan background bertanda hati yang sekarang sedang booming (yang ini maap nggak kepoto
Ini gazebonya tersembunyi di bagian belakang (nggak ke-poto)
Jane pengen buat istana pasir, tapi tak ada kawan 😅
******
Nha, ketika sudah masuk di kawasan SKE, saya sejujurnya merasa seperti anak ilang... hehe... iya karena dari ke-5 cewe-cewe single (yang saya ikutin, karena yang lain sibuk sama keluarganya, hiks..) yang beli tiket terusan itu cuma saya, alhasil jiwa bolang saya keluar (iyakaan daripada tiket yang dibeli nggak kepakai yaudah PD ngebolang sendiri aja di dalam). Untungnya yaaaa (rejeki anak soleha 😁) ada pasangan suami-istri yang masih muda (tapi lebih dewasa dari saya siiih) yang ngajakin ngebolang bareng... hehehe (yesss akhirnya dapet partner). Tapi-tapi beberapa menit sebelum itu ......
"Assalamu'alaikum ustadzah R**** (murobi saya pas JT nih), sehat Ust?", sapa saya.
"Wa'alaikumsalam.... eh, kok sendirian aja.. temannya (ehm, pasangan maksudnya) mana??", balas Sang Murobi sambil menggandeng dan menyalami tangan saya.
"Hehe... iya lah Ust, ini sendirian, belum ada temennya ..... (langsung kabuuuuur.....😅😅)..
Baiklah... pasti udah nggak sabar mau tahu keseruan saya di SKE nih... (idiiiih PD banget 😂), langsung saja disimak yaaaa
1. House of Terror
Wahana ini menyajikan film (bergenre horror) 8D yang menantang adrenalin kamu. Kenapa? ya karena efek 8D nya itu, kita seolah-olah dibawa masuk ke dalam dunia filmnya (ketemunya hantu muluuuu 😱). Kebetulan ketika saya masuk wahana ini, film yang diputar adalah "Phantom of House". Filmnya bercerita tentang ......... mmmmmmm ...... tentang...... (apa yaaa???? intinya mah rumah berhantu... hihi susah diceritain karena pas nonton sibuk jerit-jerit.. hehe). Di detik-detik terakhir pemutaran film, ini kaki saya kaya ada yang nyentuh cenderung nariik-narikk gituuuu (serupa adegan di film, ketika seseorang kakinya ditarik oleh hantu perempuan penjaga rumah hantunya. hiiiiiii...... angkat kaki dah langsung (dalam arti sebenarnya)).
Si gelang sakti pengganti tiket sakti
Narsis dulu sebelum film dimulai, boleh dong... 😄

After nonton, ngaso duluuuuu (Dari depan: saya, Usth. Yuli, Suami Usth. Yuli)
(nyari strategi, kira-kira mau ke wahana mana dulu, biar dapet banyak dengan waktu yang mefeeet)

After nonton, ngaso duluuuuu (Dari depan: saya, Usth. Yuli, Suami Usth. Yuli)
(nyari strategi, kira-kira mau ke wahana mana dulu, biar dapet banyak dengan waktu yang mefeeet)
Sebenernya disini kita cuma duduk di wahana berbentuk roti sembari nikmati putarannya yang syahdu, mendayu-dayu (nggak bisa teriak-teriak, karena putarannya kalem banget).
3. Roda Mabur (Ufo Bycycle) / Sepeda Mabur (Flying Bycycle)
Nha ada sedikit cerita yang ehem ehem nih disini. Jadi si roda mabur ini adalah roda yang diduduki oleh 2 orang, dimana orang-orang tersebut harus mengayuh pedal (sepeda) nya agar si roda ini mau jalan. ukuran rodanya cukup besar, lebih besar dari ukuran tubuh saya yang mini inilah. Nha karena kami masuk bertiga (saya, usth. Yuli dan suami), otomatis saya dong yang nggak kebagian pasangan. Sempet optimis sih karena biasanya saya juga gowes, paling ya gituuu caranya (udah PD banget ini ngantri lama). Nha detik-detik dapat giliran main (satu pasangan lagi, terus belakangnya saya), saya malah berubah jadi ragu-ragu. kenapa? kok kayaknya gedhe banget rodanya, takut nggak jalan, takut nggak dibolehin sama mas-mba penjaga pintunya (karena tempat duduknya berdua kan..).
It's my time......
"Sendirian mbaa??", kata si mas penjaganya.
"Iya, boleh kan ya???", langsung nyamperin roda (pink-nya), terus pasang sabuk pengaman.
Gowessss........ 1 detik, 2 detik, 5 detik, 10 detik, saya mulai panik. ini roda digowes kok nggak jalan-jalan yaaaa (muka tambah merah kayanya nih, malu kalau beneran nggak jalan, mana sendirian pulaaaa).
"Masss kok nggak mau jalan yaaaa", keluh saya sama si mas-mas yang berbadan besar juga. eh tanpa berkata-kata, si masnya langsung aja dorong roda saya... (yihaaaaa roda saya lepas dari landasan). Ini sebenarnya antara seneng (karena udah lepas landas) dan enggak seneng (takut di tengah jalan nggak mau jalan rodanya, OMG......).
Alhamdulillah... dan ternyata emang rejeki anak soleha (eh, rejeki anak sering gowes), meski dengan susah payah (harus mengerahkan seluruh tenaga) alhasil saya bisa meluncurkan roda saya. Sempat malu sih memang, gimana enggak, mas-mas dari bawah (lagi duduk-duduk) melihat ke arah saya (dan ngasih kode ke temannya supaya lihat ke arah saya sambil ngobrolin sesuatu, mungkin mereka "heran" atau lebih ke arah "aneh", lihat seorang mba berjilbab agak besar, dengan roknya lagi ngayuh roda mabur (tapi jangan khawatir, meski pakai rok atau gamis, biasanya saya selalu memakai celana panjang lagi di dalamnya, jadi auratnya Insya Allah aman.... 😁)).
Setelah bersusah payah, akhirnya satu putaran hampir selesai saya lewati (Ini orang-orang yang ada di antrean juga kayaknya agak penasaran, mbok mbok saya tepar di tengah jalan, mereka melihat ke arah saya dengan memberikan senyuman nggak percaya, kayanya 😁). Yeeee si roda sudah masuk landasan, si mas-mas yang tadi ngebantuin saya lepas landas (dengan cara di dorong), kali ini juga ngebantuin saya lagi kembali ke pacuan landas (dengan cara ditarik 😁). Alhamdulillah.... enggak penasaran... 😂 (turun dari roda dengan kaki yang agak pegel-pegel asyik).
Ketika roda ngadat nggak mau meluncur, itu adalah saat yang tepat untuk ngasih kode minta bantuan 😅😅
Penuh perjuangan nih fotonya (meski tak nampak muka).... takut-takut gimana gituuuu
(foto dari ketinggian, di wahana tak berpintu)
4.Cakra Manggilingan (Bianglala)
Setelah berlelah-lelah ngayuh roda besar, alone pula, akhirnya saya request ke usth. Yuli supaya kita naik wahana yang nggak perlu pakai tenaga. Dan tara... sampailah di dalam kurungan besar ini (ini pakai tenaga juga sih, tapi nggak sebesar saat naik roda mabur). Disini kita hanya tinggal duduk manis, menikmati putaran yang sangat pelan (nunggu ada di titik teratas supaya bisa lihat pemandangan yang aduhaiiiii... Masya Allah sekali).
Ini takut sebenernya mah, makanya pegangan, kaki gemeteran
(Nggak berani lihat ke bawah, lihat ke arah yang jauh aja)
5. Kursi Mabur (Flying Chair)
Waktu semakin sore aja, rasanya cepat sekali (pengen nyobain semua, tapi waktu kayanya nggak cukup). Ya sudah, akhirnya langsung meluncur kesini (nostalgia masa kecil, maen ayunan). Berbeda dengan ayunan yang biasanya saya mainkan waktu kecil, ayunan yang ini berputarnya melingkar dan semakin lama semakin tinggi kedudukannya. Agak bikin ser sera-an juga sih, tapi menyenangkan....
6. Montor Tumbur (Bom-bom Car)
Nha ini wahana terakhir yang saya coba dan paling fenomenal. why why why? Iya... sebelumnya sempet main beginian 2 kali (seingat saya, pertama pas jaman KKL, kedua pas jaman masih kerja di Semarang) dan nggak pernah bener. Kali ini juga, diantara semua pemain (yang semuanya laki-laki, kecuali saya) mobil saya berkali-kali nabrak pembatas, terus muter-muter, tumburan dengan mobil lain (aduuuuh.... malu-maluin), tapi saya seneng banget. Saya sampai pura-pura pasang tampang polos ketika mobil saya berkali-kali nabrak pembatas, kemudian nggak mau bergerak lagi (langsung disamperin abang-abangnya, dikasih instruksi, yang sebenernya otak saya ngerti, tapi tangannya nggak mau koordinasi. Daaan abang-abangnya kayanya udah BT kasih instruksi ke saya bolak-balik tapi nabraknya bolak-balik juga... Aduuuh maapkeun).
Ngantri sama Si Ijo (Dia mainnya lebih jago daripada saya)
"Nha ini ni yang ditungguin", disambut dengan celetukan agak-agak gitu deh (hihi).
"Aku sholat dulu.....", jawabku polos.
"Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu", kayanya hampir sebis nyorakin saya (😑😑😑)
"Ini kita, se-bus belum ada yang sholat lho", kata orang-orang di bus (gegara dilarang TLnya, katanya nanti aja sekalian makan malam. Mmmm tapi rasa-rasanya ada yang nggak bener deh, karena waktu di mushola, saya ngelihat kawan se-bus ada disana. huft, yasudahlah, resikoo jadi Princesss, #eh 😀😂😅). Udah deh, selepas di-hu-huin itu, saya langsung kembali ke tempat duduk saya, mojok di dekat jendela, menatap ke luar (nelangsaaaa).
Ok, anyway inilah penghujung sore saya di SKE, Yogyakarta. Semoga lain kali bisa berkunjung kembali, saat wahananya sudah bertambah banyak (Aamiin).
*****
Jika sesuai dengan rencana awal, perjalanan kami di Jogja akan ditutup dengan kunjungan ke Malioboro. Namun, karena kondisi yang kurang memungkinkan (jalanan padat, takut macet, pulangnya tambah lama), akhirnya niat ke Malioboro kami urungkan. Jadilah kami ke kawasan Ambar Ketawang untuk makan malam dan sekedar hunting oleh-oleh (Bakpianya terkenal enak disini).
Ambar Ketawang dikenal sebagai kawasan wisata belanja.
Banyak cinderamata yang dapat kita peroleh disini.
(After belanja, nelangsanya ilang.. CERIA lagiiiiiii 😅😅)
Selonjoran sambil jagain tas-dompet mba-ibunya yang lagi pada sholat
******
Waktunya pulang......................... 👏👏👏
Setelah berlelah-lelah ria, susah-senang, akhirnya waktu kembali datang juga. Malam itu, pukul 21.30an, kami berangkat dari Ambar Ketawang menuju ke tanah rantau tercinta, Purwokerto...................
Kabarnya bus melaju sangat kencang (tapi yang ini saya nggak ingat, tidur pules banget, akibat kelelahan). Kami tiba di Purwokerto sekitar pukul 02.05 dini hari.
Alhamdulillah...
#Terima kasih atas satu kali lagi kesempatan yang Engkau berikan.. 😌





















Tidak ada komentar:
Posting Komentar