Minggu, 19 Februari 2017

"Future Author"

"Future Author"....
Hehe mimpi banget yaaa? 😅 tapi kata Abang (Abangnya siaapaaa? 😔) bermimpi itu wajib (mimpi; jangan dibaca bunga tidur yaaa....). Bermimpilah, maka setidaknya kamu punya tujuan dalam hidup. Seperti semboyan yang berbunyi "dare to dream" (eh, bukan semboyan yaaa? 🙊), maka wahai engkau para kaum pemimpi, janganlah takut bermimpi, be brave..... !

Mimpi, terkadang menjelma menjadi kekuatan tersendiri bagi si empunya. Kekuatan tersebut menimbulkan hasrat dan tekad si empunya untuk teruuuuus berusaha agar dapat menggapai mimpinya. Sebagai contoh, bermimpi dapat nilai 100, maka si empunya akan punya kekuatan untuk belajar, mengerjakan soal dengan teliti agar hasilnya sempurna. Bermimpi punya pendamping yang soleh (#eh...🙈), maka si empunya akan memantaskan diri, menyolehakan diri. Bermimpi menjadi seorang dokter, maka si empunya akan berusaha untuk bisa masuk di akademi kedoketran, lulus dengan nilai memuaskan, dan mengamalkan ilmunya di dunia kedokteran. Bermimpi menjadi seorang penulis, maka si empunya pun seolah akan memiliki kekuatan untuk terus berusaha menulis (meski ngantuk-ngantuk, yang penting nuliss duluuu 😅).

"Future Author", dari mana sih saya dapat kata-kata itu? dari sini......
 
           menatap singgasana Abang                      menunggu Abang                 
         
Pagi tadi adalah pagi yang sudah saya nanti-nanti sejak dua bulan terakhir. Si Abang yang kata-katanya menyejukkan hati berkunjung ke tanah rantau saya. Sudah barang tentu kesempatan langka ini tidak mau saya sia-siakan. Meski saya harus merelakan akhir pekan saya yang seumur jagung (sepertinya lebih tepat seumur kedelai, singkat bangeet soalnyaaaa), namun rasanya terbayar sudah ketika Abang benar-benar muncul di hadapan saya. Abang, dengan kaos putih tulangnya itu tampak gagah dan menawan (kalau lihat orang pintar emang bawaanya menawan hati... 😅). Senyumnya sumringah, meski tisu tak lepas dari tangannya (sepertinya sedang flu).

Abang... Abang... Abang....
Abang siapa sih? Siapa lagi kalau bukan Abang Tere Liye ... 😊. Kali ini Abang tidak sendiri, beliau hadir bersama Sastrawan asli Banyumas, Bapak Ahmad Tohari. Beliau ini juga tidak kalah masyhurnya, beberapa cerpen dan novel sudah diterbitkan, bahkan ada satu novel yang cukup fenomenal (Ronggeng Dukuh Paruk) yang akhirnya difilmkan.

 Abang dan Bapak Ahmad sedang memberikan pemaparan materi

Pesan Abang yang dapat saya simpulkan dari talkshow kali ini adalah:

1. Untuk menjadi seorang penulis yang produktif, paling tidak ada 3 hal yang harus kita perhatikan, diantaranya:
  • Menulis itu harus dipaksakan. Menulislah sebanyak yang kamu mampu. Jangan pernah pikirkan respon yang akan orang berikan terhadap tulisan kita, jangan takut, menulislah. Kata Abang, coba menulis 1000 kata/ hari selama 6 bulan. Jika di tengah jalan gagal, ulang lagi dari awal 😊😊. Jika berhasil, maka kita sudah sama hebatnya dengan penulis-penulis lain (laku atau tidaknya tulisan kita, diabaikan lho yaaaa). Harus 1000 kata/ hari? mau nulis apa? Apapun... nulis sms kek, diari kek, cerpen kek, liputan kek, artikel kek, atau apalah, yang penting nulis (hal +).
  • Ketika kita kebingungan mau menulis apa ya kira-kira? INGAT!!!! "Apapun bisa jadi topik tulisan". Bertemu dengan anak yang bertingkah aneh, bertemu sang dermawan, binatang kesayangan, atau apapun, semua bisa jadi topik tulisan.

  • Berhenti bertanya banyak hal tentang kepenulisan. Mau mengawali cerita dari mana ya? Endingnya mau seperti apa ya? tokohnya siapa ya? sudut pandangnya gimana ya? bla..bla... bla.... Jika kamu masih seperti itu, maka "STOP, HENTIKAN!", lalu mulailah menulis lagi (ingat yaaa, apapun bisa jadi bahan tulisan).
2. Terkadang "keras kepala" itu perlu. Keras kepala yang bagaimana? keras kepala yang komit. komit untuk terus menulis meski tidak punya pembaca, komit untuk terus menulis meski pembaca mengganggap tulisan kita tidak penting.

Selain Abang, pelajaran yang dapat saya simpulkan dari Pak A.T. adalah jangan pernah lelah berusaha, jangan pernah lelah menulis, jangan pernah menyerah. Konon katanya cerpen Beliau yang dimuat pertama kali adalah cerpen ke-19nya. Namun karena kepantangmenyerahnya Beliau, akhirnya lahirlah banyak karya yang dilirik penerbit.
Satu hal yang saya ingat dari Pak Ahmad Tohari, Beliau mengatakan bahwa menulis berarti memberikan sesuatu kepada pembaca, bisa dari isinya, bisa dari gaya bahasanya, atau lainnya. Selain itu, sebagai pemula jangan pernah takut untuk mempraktikkan jurus  ATMnya (amati, tiru, modifikasi), tapi ingat "TIDAK BOLEH PLAGIAT!". Abang juga menambahkan, dalam dunia kepenulisan, kita memang sudah seharusnya mempunyai mentor (guru). Lalu kita harus berguru pada siapa? Pada penulis yang karya-karyanya sudah banyak dimuat dan menginspirasi tentunya. Berguru dengan membaca sambil teruuuus menulis, maka lama-kelamaan kita akan memiliki ciri khas tersendiri.

Terakhir, satu kalimat yang saya ingat dari Abang adalah prinsip menulis itu pada dasarnya ada 2, yaitu "convince them" or "confuse them" (kata kunci nih, diingat... diingat 😉).


Sesi "Book Signing" yang riweuh.... 😅

Akhir dari kegiatan hari ini diakhiri dengan sesi book signing (tanpa foto-foto yaaa, Si Abang enggak mau😑). Alhasil saya curi-curi deh supaya difoto, wajah Abang bisa ikut terpampang 😁..

PS: Kisah lucunya Abang ketika buku "Hafalan Sholat Delisa" pertama kali terbit. Saking antusiasnya Beliau, Beliau langsung mendatangi toko buku yang waktu itu tidak jauh dari kosnya. Dipandanglah sudut yang bertuliskan "new arrival", tapi nyatanya buku Abang tidak ada disitu, kemudian Si Abang bergegas menuju bagian yang bertuliskan "novel", tapi tidak ada juga. Karena penasaran, Abang langsung menghubungi pihak penerbit dan meminta bantuan mas-mas penjaga toko, dicarilah buku Abang lewat mesin pencari. Setelah petugas mencarikan buku Abang lewat mesin pencari ternyata buku Abang diletakkan di rak bersama tumpukan buku bacaan sholat... Yasalaaaam, bacaan sholat baru, ada ya nama sholat "Delisa"? sholat tahajud, sholat dhuha mah ada kayanya, kata salah seorang pengunjung 😅😅😅

Oh iya, suaranya Abang ini khas sekali ketika berbicara, logatnya mengingatkan saya pada seorang motivator idola saya jugaaa, apalagi ketika bilang "Dek"... 😁😁😁


Tidak ada komentar:

Posting Komentar