“Ayoooo lekas pulang, jam 10.30 WIB kelasnya mau dikunci lhooooo”,
ujar saya pada krucils yang terlihat masih betah duduk di kelas. Kenapa buru-buru
sekali? Karena hari ini, kami (para guru) akan berpetualang….. 😍👓😄🙌🙌🙌
*****
Semua peserta rihlah sudah bersiap di busnya masing-masing
dan saya juga sudah bersiap, duduk manis di singgasana saya, hehe…. (total ada
3 bus). Pukul 11.15 WIB perjalanan di mulai. Kami berangkat dari Jatiwinangun, Purwokerto
dengan iringan doa safar dari pemimpin bus masing-masing. Perjalanan yang cukup
lama untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Diperkirakan setelah berkendara selama
kurang lebih 2 jam, kami baru bisa sampai disana. Oleh karena itu, pemimpin
rombongan memberikan instruksi untuk singgah di Koreaaa (eh, Kroyaaaa….😁) dan
melaksanakan sholat dhuhur sekaligus
jamak sholat asar.
What a sunny day….. Panasssss….. (Tapi hati saya tetap adem kok #eh 🙊)
Dari Kroya, kami masih harus menempuh perjalanan kembali
selama kurang lebih 30 menit. Sebagai penumpang yang baik, saya sibuk mengamati
kondisi jalan selama perjalanan (red: termenung di samping kaca jendela sambil melihat keluar, lalu berkhayal) sambil
sesekali bercerita satu dua hal dengan kawan sebangku untuk memecah kekakuan dan sesekali menanggapi
cuit-cuitan lucu dari kawan-kawan.
*****
"Boooooo, what are you doing???" Melihat kebo
(kerbau) sedang merumput di dekat jajaran pohon cemara menandakan bahwa lokasi
tujuan kami sudah ada di depan mata... Daaaan, benar, kami sudah sampai di
Pantai Congot, Cilacap. Hal pertama yang kami lakukan setelah turun dari bus
adalah…. menuju tempat makaaaaaan. Makan siang kali ini, kami disuguhi ikan
bakar, cah kangkung, lalaban mentimun lengkap dengan sambal terasinya, dan es teh yang
tak pernah ketinggalan. Sungguh nikmatnya dunia, menyantap makanan di saat
sedang lapar-laparnya… hehe (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu
dustakan???--- QS. Ar-Rahman: 16).
Usai mengisi perut, kami diberi waktu
sekitar 15 menit untuk menikmati keindahan Pantai Congot. Pantai Congot sering disebut
juga Pantai Jetis. Ombak di pantai ini tidak terlalu besar dan bukan pantai
pasir putih. Meski tak seindah
Indrayanti (menurut saya), tapi bersyukur sudah bisa sampai sini, melihat
kemaha-agungan Sang Pencipta yang telah menciptakan alam sedemikian rupa,
sedemikian bermanfaatnya.
Tak berselang lama, tiga armada laut
(perahu maksudnya) terlihat sudah bersiap untuk mengangkut kami ke hutan
mangrove di dekat pantai congot. Penumpang bus 1 naik perahu 1, penumpang bus 2
naik perahu 2, penumpang bus 3 naik perahu 3. Eits, tapi tunggu dulu, ternyata
ada sedikit masalah dengan perahu 3, yap, bagian dasar perahunya ada yang
sedikit bocor. Oleh karena itu, kami (penumpang bus 3) harus menunggu si abang
tukang perahunya menggantinya dengan perahu lain.
Perahu 1 melaju….
Perahu 2 melaju…..
See…………perahu 3 datang, para penumpang
bergegas naik dan perahu 3 pun melajuuuu. Sebelum di bawa ke hutan mangrove,
kami diajak menikmati keindahan
sekeliling hutan mangrove terlebih dahulu.
Persaingan antar perahu satu dan tiga pun tak dapat dihindari….
Persaingan antar perahu satu dan tiga pun tak dapat dihindari….
“Kejar….kejar….kejar”, begitu sorak
sorai dari penumpang yang menyemangati Si Pengendara agar tidak tertinggal. Apa
yang terjadi selanjutnya? Di tengah persaingan yang cukup sengit ini,
tiba-tiba perahu yang kami tumpangi berdempetan satu sama lain. Oow…..
paniknyaaaa……😱😱😱
Rupanya kedua pengendara perahu
berbincang lirih dari atas perahu masing-masing. Seusainya, persaingan untuk
dapat sampai ke hutan mangrove terlebih dahulu pun dimulai kembali. Cipratan-cipratan
kecil antar penumpang juga ikut mewarnai perjalanan ini (oh……paniknya… tak bawa
baju ganti, tapi ada yang terpingkal-pingkal lho dengan kejadian ini, heheuuuu).
*****
Satu persatu penumpang mulai menapaki
jembatan kayu, menyusuri hijaunya mangrove, sambil satu-dua kali berhenti untuk
berfoto. Selama perjalanan ini mata saya tak pernah lama berpaling dari
jembatan kayu.
Dengan hati-hati saya melangkah, mengamati kayu-kayu mana yang harus saya tapaki. Memang satu-dua kayunya sudah mulai rapuh dan beberapa ada yang berjarak jauh (lubangnya terlalu lebaar, jarak antar kayunya terlalu jauh). Di hutan mangrove ini kita bisa mengambil foto dengan background yang hijau atau bisa juga memancing (kebetulan beberapa dari kami ada yang sengaja membawa alat pancing).
Dengan hati-hati saya melangkah, mengamati kayu-kayu mana yang harus saya tapaki. Memang satu-dua kayunya sudah mulai rapuh dan beberapa ada yang berjarak jauh (lubangnya terlalu lebaar, jarak antar kayunya terlalu jauh). Di hutan mangrove ini kita bisa mengambil foto dengan background yang hijau atau bisa juga memancing (kebetulan beberapa dari kami ada yang sengaja membawa alat pancing).
*****
Dari hutan mangrove, perjalanan kami
lanjutkan kembali ke Pantai Ayah (Kebumen). Dua pantai di dua kabupaten yang berbeda
ini terasa sangat dekat sekali. Tak lebih dari 5 menit, kami bisa sampai disana
dengan perahu. Turun dari perahu, kami dibekali sebuah kelapa muda yang sedang
enak-enaknya dinikmati. Saya pun tak ingin buang waktu. Berbekal sebuah kelapa,
saya dan kawan bergegas mencari spot yang paling bagus untuk menikmati senja.

Hari ini pun (masih) senja yang sama…
Aktivitas terakhir yang paling saya
suka dari perjalanan ini adalah berlarian di pinggir pantai (sebenernya ini
lari gara-gara takut ditinggal rombongan, hihi.. keasyikan foto siiih)….
Dengan berakhirnya waktu yang
diberikan oleh ketua rombongan berarti habis sudah petualangan kami hari ini
(semoga bersambung di lain waktu, aamiin 😄). Semua rombongan kembali ke perahunya
masing-masing dan juuuuuum…. Kita kembali menyebrang ke Pantai Congot.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar