Minggu, 07 Mei 2017

Mudik time.....

Yeee udah Sabtu. Seneng deh kalau udah Sabtu. Seneng banget kalau libur (kerja), tapi gajian jangan libur yaaa.. #ups 🙊 (hihi maunyaaa)....

Mudik adalah rutinitas yang tidak bisa saya lewatkan di akhir pekan (kecuali kalau ada keperluan atau acara sekolah). Nha, kali ini mudiknya agak beda dari biasanya. Biasanya kalau saya mudik selalu diantar sama Abang-Abang angkot dan Mbah Pakdhe yang pegangannya setir bus. Hari ini... Masih sama sih yang ngantar, hanya saja bus yang saya tumpangi kali ini agak berbeda (ber-AC.. hehe.... ih norak banget deeeh, huhuuu)...


Ya Rabbi, bahagianya... 😅😅😅
(Pipiiii tolong dikondisikan)


Bukan bermaksud norak atau gumunan, tapi bus jurusan Purwokerto-Tegal hampir sebagian besar tidak ber-AC, akibatnya ya pengamen naik turun nggak berhenti-berhenti (karena saking banyaknya), bau asap rokok dari penumpang yang kurang bijak tercium dimana-mana, dan ujung-ujungnya membuat tidak nyaman saat di dalam kendaraan...
Nha siang ini saya sengaja menunggu bus di pintu keluar terminal (biasanya langsung nyamperin pangkalan busnya). Tujuannya supaya dapat bus kecil saja, jadi ngantri di terminalnya nggak kelamaan. Hehe...
Setelah kurang lebih 15 menitan menunggu akhirnya nampaklah sebuah bus berwarna hijau muncul dari tikungan jalan (busnya kok kaya jarang lihat ya, pikir saya dalam hati). Dengan hati-hati saya membaca tulisan yang tertempel di bagian kaca depan bus. "Purwokerto-Cirebon-Tegal". Yaaak, begitulah kira-kira tulisannya (this is it.. yang saya tunggu akhirnya datang juga). Tanpa menunggu lama, saya pun akhirnya bergegas naik bus dan memilih letak kursi yang paling strategis (untuk tidur 😁😁😁).
"Kok dingin?" Pikir saya lagi dalam hati... Setelah saya amati baik-baik, ternyata busnya ber-Ac. Heheuuu
#kejadian langkaaa...
#drama dimulaiiii

Meskipun tarifnya lebih mahal dari biasanya, tapi saya suka. Kenapa?
Pertama bebas pengamen (Bukanya saya alergi atau sensi sama pengamen yaaa... Hanya saja ada beberapa pengamen yang agak arogan, bawaanya berasa diancam gitu kalau nggak kasih (recehan), padahal kan jumlah mereka itu banyak sekali yang naik turun, dalam jarak 10 m aja kadang sudah ada 3 pengamen yang naik turun. Selain itu kalau pas yang ngamen perempuan, kadang suka nyinyir kalau nggak dikasih. Dan parahnya (menurut saya) ada yang terang-terangan bilang "ini jalan saya sejak tahun bla bla bla", lalu tanpa menyumbangkan lagu secuilpun si masnya langsung nariki penumpang sambil bilang "hargai suara kami"... (Hey, helloo... Suara yang mana?). Tapi kalau ketemu pengamen yang niat (suaranya bagus dan lagunya bagus, kadang bisa jadi hiburan juga sih dan yang model begini kalau nggak dikasih (karena kehabisan receh), saya suka ngerasa bersalah sendiri... Hoho...

Yang kedua, bebas dari asap rokok (artinya saya bisa bernapas dengan lega). Kebetulan bus yang saya tumpangi kali ini juga agak wangi, jadi sepertinya​ akan betah berlama-lama di dalam bus #eh. Pernah beberapa kali naik bus (AC) membuat (lebih tepatnya memaksa) saya bernapas lewat mulut (sengaja, supaya nggak cium asap rokok) dan bolak-balik tutup hidung. Bisa dibayangkan bagaimana tidak nyamannya. Belum lagi kalau dapat antrian bus malam (setelah mahgrib atau isya), bisa-bisa empet-empetan dengan banyak orang (karena si kernek selalu bilang ini bus terakhir, jadi penumpang membludak). Ditambah aroma dari sekian banyak penumpang, bercampur dengan bau keringat, duuuh sesuatu banget ya, tapi itulah seninya naik bus 😁😁...

Over all, saya tetap (masih) suka naik bus (apapun), ber-AC atau tidak (karena belum bisa dan belum berani bawa motor sendiri 😅😅 hehe...).
#udah ah...

Have a nice weekend everybody.... 😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar