Selasa, 07 Maret 2017

Hujan ⛈

Sewaktu saya kecil, orang tua saya selalu melarang keras kalau saya hujan-hujanan. Sehingga, seringnya, saya curi-curi kesempatan dengan kawan-kawan saya untuk bermain hujan (Asyiiik siiih 😁). Pulangnya? Kalau tertangkap basah, yaaa….sudah pasti kena omelan. Hehe…
Hal tersebut juga masih sering saya jumpai sekarang ini. Banyak orang tua yang melarang anaknya bermain hujan. Kebanyakan disebabkan karena ketakutan mereka jika bermain hujan, nanti si anak bisa sakit. Masuk anginlah, sakit kepalalah, batuk pileklah. Padahal kalau menurut Pak Ustadz (sewaktu saya ikut kajian, wuidiiih kajian 😎 #kalem ah), sebenarnya hujan itu bukan penyebab penyakit, melainkan “rahmat”. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Asy-syura (42) ayat 28 yang artinya:
 Dan Dialah Yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung, Maha Terpuji. 


Jadi, kalau ada orang yang menyalahkan hujan atas sakitnya seseorang, rasanya hal tersebut kurang tepat ya. Terus bagaimana kalau ada orang yang kehujanan terus sakit setelahnya? Nha kalau ini kita butuh penelitian lebih lanjut. Bisa jadi orang tersebut belum makan sebelum ia kehujanan. Nha bisa jadi karena belum makannnya itulah alasan sakitnya. Atau mungkin memang daya tahan tubuh si orang yang sakit tersebut memang sedang lemah, sehingga ketika terguyur hujan, dia langsung merasa sakit. Apalagi kalau sebelumnya orang tersebut panas-panasan (apaaa daaaah, panas-panasan πŸ˜†).  Suhu tubuh yang semula tinggi (karena panas-panasan), kemudian tiba-tiba terguyur hujan, maka otomatis suhu tubuhnya akan menurun. Nha jika termoregulasi tubuh si orang tersebut kurang tanggap, otomatis perubahan suhu tubuh yang drastis ini juga bisa jadi penyebab sakitnya.
Percaya kalau perubahan suhu yang drastis itu bisa membuat seseorang sakit? Coba deh buat percobaan sama ikan. Caranya?
1. Masukkan ikan 🐠 (bisa pakai ikan mas kecil) ke dalam wadah berisi air hangat
2. Kemudian tambahkan air panas, sehingga suhu airnya meningkat (kira-kira sampai airnya kalau dipegang agak “semelet” gituuu)
3. Masukkan es ke dalam wadah tersebut sehingga suhu air menurun
4. Tambahkan terus es ke dalam wadah tersebut sehingga suhu air menurun drastis 
5. Amati perubahan yang terjadi pada ikan (Kalau dulu saya pernah nyoba, ikannya langsung collapse #ups, soriii Ikan, tenang-tenang di alam sana yaaa…).

Kembali ke permasalahan hujan ya….
Ngomong-ngomong sore tadi saya memang sengaja mengunjungi kediaman salah seorang siswa sembari bersepeda. Ketika berangkat, langit memang agak mendung, tetapi tidak hujan. Saya pikir hujan mungkin baru akan turun selepas mahgrib. Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung menyambangi kediaman Si Krucil ini dengan menyusuri rute (rute yang baru bagi saya) yang sudah diberikan oleh ibunya. Karena rute baru, alhasil banyak tanya sana-sini supaya tidak salah jalan (tapi akhirnya sempat nyasar juga πŸ˜…). 


Ketika salah arah, untungnya tahu jalan pulang πŸ˜„
(Bukan lirik butiran debu)

Persimpangan yang selalu membuat galau 
(Ke kanan atau kiri ya? πŸ˜…)

Nha, sesampainya di kediaman krucil, diajaklah saya ngobrol sama ibunya. Membicarakan tetek bengek yang membuat saya lupa waktu (karena keasyikan). Dan ketika saya melirik ke arah langit, “oh noooo, mendung sekali”. Takut terjebak hujan di jalan, pamitlah saya dengan si ibu. Dan ternyata hujan memang tidak pernah ingkar janji. Sebelumnya ia memang telah memberikan pertanda (mendung), isyarat yang berarti tak lama lagi ia akan datang. Benarlah, baru empat atau lima kayuhan dari gerbang rumahnya krucil, hujan pun datang. Oow… (masa balik lagi??? πŸ˜…) saya nggak mau kalah sama hujan ah, terjaaaang…(kepala yang sebelumnya agak nyut-nyutan semoga nggak tambah parah, mmmmm). 


Tunggu sebentar, ini kenapa habis dipuji, rombongan hujannya makin banyak yang datang yaaa. Hihi...  
Di tengah perjalanan, hujan pun rasanya tak ingin mengalah dengan saya (tambah deraaassss, berteduh deh). Berteduh? Katanya hujan nggak bikin sakit? memang, bukannya takut sakit, tapi kalau hujannya bawa rombongan banyak begini kan bisa bikin baju basah, nha kalau basahnya kuyup, nanti kan jadi tak enak dipandang πŸ˜….



Sepuluh menit, dua puluh menit, hujan tak juga reda. Alhasil saya mencoba bersahabat dengan hujan yang sudah semakin sedikit jumlahnya (bersepeda di bawah guyuran hujan deh judulnya). Kepala saya apa kabarnya? Alhamdulillah nyut-nyutnya sudah tidak terasa. Mungkin karena perasaan senang (saat main hujan), membuat tubuh memproduksi endorphin lebih banyak. Nha Si Endophin inilah yang mungkin menyamarkan rasa nyut-nyutan di kepala, hehe…
Senja, hujan, langit yang mulai gelap, lampu-lampu jalanan yang sudah mulai menyala, ah, rasanya ada yang kurang lengkap.



Kembali ke “hujan”. Jadi kalau masih ada yang menyalahkan hujan atas sakitnya seseorang, saya agak kurang sepaham (ingatkan saya kalau lupa yaaaa). Terbukti, nyut-nyut di kepala saya rasanya berkurang setelah terkena guyuran hujan (yang datangnya nggak terlalu banyak bawa rombongan). Hujan itu rahmat. Hujan juga salah waktu yang mustajab untuk berdoa (buru-buru doa: "Ya Allah, kasih rezeki Ya Allah...", eits salah, yang bener itu...."Allahumma shoyyiban naafi'an - Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat - HR. Bukhari). 
Hujan, waktu yang paling asyik untuk mengenang #eh. Jadi ingat penggalan syairnya sahabat alam:
“Hujaaaan, terjadi karenaaaa…
Air laut menguap, terkena sinar mentariii….
Terbentuklah titik air pada awan
Smakin lama smakin menebal
Dan, akhirnyaaa….aawan taaak sanggup lagiii….menoopaaaang….
Titik-titik air itu…..
Turunlaaah hujan…”

Simpulan dari tulisan saya kali ini adalah:
1. Sesekali perlu main hujan (tapi pastikan dulu, kondisi badan sedang fit saat mau main hujan)
2. Kalau hujan sudah memberi tanda (mendung), bersiaplah (bawa payung atau jas hujan) 
3. Jangan pernah jadikan “hujan” sebagai “kambing hitam” atas sakitnya seseorang, karena sesungguhnya hujan itu adalah rahmat (QS 42: 28)

Minggu, 05 Maret 2017

Semesta Menjawab (Bagian 2)

Cahaya kuning keemasan nampak berpendar rapi dari ufuk barat. Satu dua kilauannya jatuh tepat di pelupuk mata, membuat kedua telapak tangan bergegas untuk menutupnya.

"Mba, sepedaan lagi yuuuk", ajak Si Adik yang lagi-lagi minta gowes. Berhubung cuaca kemarin sore cukup bersahabat dan saya pulang lebih awal dari biasanya (pulang pas asar, termasuk pulang gasik.. 😁) akhirnya saya pun menyetujui ajakan Si Adik Kecil. Karena ban Si Black agak kempis, akhirnya kami memutuskan untuk singgah ke tempat pompa ban terlebih dulu agar performa Si Black dan Si Red (Red: tunggangan Si Adik Kecil) lebih oke di jalanan.

Isi angin duluuuu

"Kita mau kemana yaaah?" pikir kami sore itu. "Nhaaaa, mumpung ada partner nih, coba rute baru yuuuk, tapi jarak dekat saja (karena kebetulan kami keluar sudah agak sore). Kita mulai dari Jl. Ovis terus ke Jl. dr. Angka ya, terus di pertigaan belok kiri lewat jl. A. Yani, naiiik terus, sampai sekuatnya (kebetulan jalannya agak menanjak, hehe)", tutur saya menambahkan.

Setelah menaiki tanjakan.. 😎

Dimanakah ini???? πŸ˜ƒ

Seberhentinya Si Black, kami beristirahat sejenak untuk melepas lelah sembari mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi tempat-tempat yang pernah kami (kami: saya dan Black) singgahi. Keringat pun mulai bercucuran. Yessss, semoga banyak kalori yang terbakar.

Selesai mengambil gambar, kami putuskan untuk kembali ke kos karena hari sudah semakin petang. Yeeeeee... jalanannya menurun, sehingga kami tak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk mengayuh sepeda. Sembribit, eh semilir angin pun seolah membasuh dahaga (eh, menguapkan keringat ding hehe).
Kayuh terusss, terus, sampai akhirnya ada seonggok (#eh) dua baris tulisan yang merayu saya untuk berhenti dan mengambil foto kembali.

Cukup Black yang nampang 😁

Akhirnya ikut nampang juga 😁

Langit terlihat semakin gelap. Gumpalan awan mendung pun nampak semakin berat saja. Sepertinya tidak lama lagi akan turun hujan. Dan benar, keesokan harinya, tepatnya pagi tadi, hujan memang benar-benar turun di waktu subuh (gagal gowes pagi deeeh πŸ˜…). Apa boleh dikata, akhirnya subuh tadi bersahabat kembali dengan selimut dan bantal sejenak, kebetulan memang sedang udzur sholat (alaaah.. alasan mulu nih mba'e... πŸ˜…).

Simpulan: jangan tunda apa yang kamu bisa lakukan sekarang. Jangan tunggu esok. Karena kita tidak pernah tahu, hal apa lagi yang akan terjadi esok hari, yang akhirnya menjadi alasan untuk menunda kembali. πŸ˜„

Sabtu, 04 Maret 2017

Semesta Menjawab

Kemarin sempat nulis kalau sedang kangen sekali ngajak jalan Si Black. Akhir-akhir ini, mendung, hujan, tugas, cucian baju, selalu saja menjadi alasan untuk mengurungkan rencana gowes. Tapi pagi hari ini tidak. Soal-soal sudah dikebut semalam (malah nyaris ganti hari, semalam sepagi berarti #eh). Cucian baju sudah diselesaikan kemarin sore. Hujan juga sepertinya ingin beristirahat sejenak pagi ini (meski akhirnya sempat jatuh butiran-butiran air yang halus, membasahi pipi). Dan memang sedari kemarin si adik kecil (teman kos) merengek minta diajak gowes (setelah hari sebelumnya gagal jogging gara-gara bangun kesiangan 😸😸😸).

Masih agak gelap, tapi ini termasuk kesiangan

Horeeee akhirnya rencana gowes hari ini terlaksana, meski rutenya pendek (mentok ke alun-alun) gara-gara ban depan Si Black agak kempis dan tempat pompa ban belum ada yang buka (harus beli pompa ini mah...). Senang karena setelah hampir dua pekan vakum, akhirnya bisa gowes lagi. Senang juga karena akhirnya punya kawan gowes (lumayan dapat tukang foto gratis πŸ˜…).

Langit masih berkabut
(Pipiiii, tolong dikondisikan)

Sayangnya pagi ini tidak ada kawanan burung yang melintas. Tapi setidaknya kami bisa menghirup udara segar pagi ini.

"Mba ternyata kesel yooo", celetuk si adik. Aduuuh setelah sebelumnya dia minta rute yang agak jauh dan saya nego gara-gara ban Si Black agak kempis, ternyata dia yang ngeluh duluan, hihi (tertawa jahat). Baru terasa kan...

Keringat pun mulai bercucuran. Semoga ada banyak kalori yang terbakar pagi ini... πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯
Semoga, esok pagi, hujan dan mendung tidak datang lagi. Ingin menyambangi burung-burung kecil yang melintas di langit saat pagi hari. Ingin membakar kalori lagi.

#salam gowes
#salam olahraga
#mens sana in corpore sano

Kamis, 02 Maret 2017

Missing gowes already.. 🚲

Senin ketemu Senin lagi, cepat sekali rasanya. Dua pekan terakhir sepertinya terlena (terlena, karena tuntutan) sekali oleh aktivitas di sekolah. Tak ada waktu untuk olahraga, sekedar membakar kalori dalam jumlah sedikit pun rasanya tak sempat ( gak mau disempetin sih). Ya badaaaan... Rasa-rasanya tambah berat saja. Terasa sekali kalau sedang jalan, apalagi naik tangga (#ngaaap). Timbunan lemak sepertinya senang sekali karena bisa lebih lama tinggal di tubuh saya. Tapi efeknya saya yang ngerasain nih, kepala mulai nyut-nyutan, leher mulai pegal-pegal, punggung apa lagi (duuuh orang tua banget siiih).

Akhir-akhir ini setiap berangkat atau pulang sekolah agak sedih rasanya. Setiap melewati garasi, Si Black tampaknya kesepian, melambai-lambai, ingin sekali diusap, diajak keliling menghirup udara segar (aduuh maaf Black, belum bisa.. 😫). Biasanya saya selalu menyempatkan 30 menit di pagi hari untuk mengajak Si Black jalan-jalan. Tapi akhir-akhir ini cuaca kurang mendukung, pagi hari seringnya hujan, sore pun demikian. Ditambah lagi deadline pembuatan soal-soal yang tak bosan-bosannya mengekor, membuat saya betah berlama-lama di dalam kamar, berduaan dengan Si Mesi πŸ’». Alhasil, setiap kali akan tidur malam, saya hanya bisa memandangi foto-foto goweser lain (di grup) yang sudah bolak-balik menaklukkan Baturaden, melanglang buana ke kota-kota sebelah (Lho memangnya saya mau ngajak Si Black kesana? Hehe enggak juga sih, setidaknya pengen bawa Si Black ke alun-alun, atau ke Taman BalKem, sekedar mengamati burung-burung yang biasanya melintas di pagi hari, sekedar menikmati udara pagi yang belum banyak bercampur polutan).

Ah.. Black, I Miss you, already....

Kaki-kaki ini rasanya sudah ingin sekali mengayuh pedal Si Black. Tangan sudah ingin menggenggam stangnya sambil sesekali memainkan bel atau mengganti gigi saat jalanan tiba-tiba naik atau turun, sesekali melempar senyum pada goweser lain, melihat dedaunan yang masih tersipu malu dibawah naungan langit yang masih gelap.

Sehat sehat terus Black, meski akhir-akhir ini jarang tersentuh (Semoga sebelum mudik bisa kencan sama Si Black).

Dengannya selalu menyenangkan πŸ˜„

Simpulan: rajin-rajin olahraga supaya badan sehat ( nggak banyak keluhan pegel dan kawan-kawannya, macam saya... 😁).

Minggu, 26 Februari 2017

Perjalanan Terlama 🚌🚌🚌

Weekend..... πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ™ŒπŸ™ŒπŸ™ŒπŸ‘ΌπŸ‘ΌπŸ‘Ό
Kalau udah Sabtu bawaannya sumringah banget. Kenapa? Mau mudik soalnya, ketemu Ibu mamih, Adek ganteng, Abah cakep, Uti, saudara, tetangga, anak-anak (#eh, Cici maksudnya πŸ˜…), taneman, ketemu rumah, ketemu kamar kesayangan (meski seringnya ketiduran di depan TV πŸ˜…), ketemu dapur (tempat bereksperimen paling yahuuut menyalurkan bakat terpendam, meski seringnya gagal πŸ˜‚), dan masih banyak lagi.
Biasanya waktu tempuh dari kos sampai rumah hanya memakan waktu kurang lebih 1 jam kalau diantar Abah atau Mail, dan 1,5 jam kalau naik kendaraan umum. Nha berhubung jalan raya dari tanah rantau menuju kampung halaman lagi bagus-bagusnya (sampai-sampai kalau pas hujan bisa jadi kolam lele #eh), jadi banyak perbaikan disana-sini. Sepertinya perjalanan saya kali ini benar-benar akan memakan waktu lama. Terhitung sudah lebih dari 3 jam, saya masih betah duduk di dalam bus, sedangkan perjalanan baru separuhnya (eh ini busnya malah berhenti lagi). Untungnya sepulang sekolah tadi, saya sempat tidur siang (menstabilkan kondisi tubuh, kebetulan badan sedang agak manja πŸ˜·πŸ˜”) dan sempat isi amunisi πŸ›πŸ› (takut pingsan di jalan πŸ˜…), bawa perbekalan pula (malah udah habis).
Sebenarnya kalau kondisinya seperti ini agak membuat malas untuk pulang karena seringnya pulang hanya untuk numpang tidur saja πŸ˜‘. Tapi apa mau dikata, ternyata hasrat untuk bertemu keluarga mengalahkan rasa capeknya saya, membuat lupa lamanya perjalanan kalau pas macet begini.

Hmmm ngomong-ngomong busnya berhenti lagi πŸ˜…

Sembari membunuh waktu tunggu
#dari balik kaca

Jadi yang bisa saya simpulkan dari perjalanan pulang saya kali ini adalah:
1. Siapkan fisik sebelum bepergian
2. Jangan biarkan perut kosong saat akan bepergian
3. Bawa perbekalan (makan, minum, uang) yang cukup
4. Bawa buku bacaan (bagi yang gemar baca) biar nggak bosan di bus atau bisa juga dipakai untuk tilawah nih...
Sekiaaan...
Happy weekend... πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

PS: Jane masih pengin ngomong banyak, tapi ini daya si Leno udah limit (udah merah baterainya) πŸ˜”πŸ˜”

Selasa, 21 Februari 2017

"Sutrah"


Sutrah berarti pembatas atau penghalang. Kata "Sutrah" mulanya memang cukup asing bagi saya. Waktu itu saya sudah memasuki jenjang perguruan tinggi, seorang teman memberikan saya wejangan tentang cara sholat yang baik menurut Rasul. Dari perbincangan tersebut, saya baru tahu apa itu sutrah. Kemudian, untuk kedua kalinya saya juga menemukan kata sutrah ketika saya membaca salah satu buku pinjaman dari teman. Di dalamnya ada pokok bahasan yang membahas tata cara sholat dan adab-adabnya (Hehe... maklum... sholat saya masih banyak yang mesti dibenahi πŸ˜…).

Terus apa yang aneh dari kata "sutrah"? enggak, enggak ada yang aneh sama sekali. Yang aneh saya, masa istilah seperti itu baru ngerti setelah masuk kuliah.... ish.. ish.. ish.....πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜” . Selama ini kemana? hmmmm.... kemana yaaa? hihi... ke kelas aja yuuuuuk...... 🏠🏠🏠

Kelas, merupakan tempat belajar sekaligus tempat bermain bagi the krucilers (sebutan saya untuk anak-anak πŸ˜„). Biasanya saat jam istirahat tiba, tak sedikit krucil yang gemar berlarian di dalam kelas, berkejar-kejaran, atau sekedar duduk ngobrol di salah satu pojok ruangan. Sudah barang tentu aktivitas-aktivitas tersebut menghasilkan suara yang cukup keras. Suara hentakan kaki ke lantai, teriakan krucil saat dikejar temannya, atau suara krucil ketika memberikan aba-aba kepada pihak kawan sekelompok. Bahkan yang hobinya main bola dengan bola kecil (biasanya untuk mandi bolaaa πŸ˜…) di luar kelas pun, terdengar histerianya. Nha disaat seperti ini biasanya menjadi saat-saat yang menimbulkan banyak kegaduhan. Kebisingan yang mereka timbulkan tak jarang membuat kepala pening (apalagi kalau sedang sakit gigi), juga mengganggu konsentrasi calon-calon penghuni surga (Aamiin...) saat sedang melaksanakan sholat di kelas (#eh).

Suatu saat ketika saya sedang sholat di kelas, sekelompok anak lelaki sepertinya sedang memainkan peran polisi dan pencuri. Alhasil kejar-kejaran pun tak dapat dihindari. Beberapa memilih jalur yang aman (sepi, nggak dilalui orang), beberapa agak ehem-ehem nih, sampai-sampai jalur sholat saya (padahal udah di pojokan belakang) pun ikut dilalui. Alhasil sempat salah satu anak terduduk di depan sajadah sambil tertawa terpingkal-pingkal.

"he....ngawur, ustadzah kan lagi sholat", celetuk salah seorang krucil.

"krrrrkkkkkk", seretan kursi yang menyebabkan kaki-kakinya bergesekan dengan lantai, terdengar tidak jauh dari tempat saya sholat. Rupanya salah seorang yang mengerti (dalam tanda kutip) kalau ustadzahnya itu sedang sholat (dan mengerti, paham, kalau melewati tempat sujud orang sholat itu tidak boleh), dia meletakkan kursi yang telah diseretnya itu ke depan sajadah saya.

"Hei, untuk apa hei....", salah seorang teman bertanya heran.
"Ih... itu sutrah, biar larinya nggak nglewati ustadzah, kan nggak boleh lewat depan orang sholat", tutur si lelaki kecil penyeret kursi. Hihi... saya jadi dengerin percakapan mereka yaaaaa πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜’

Nha, dari kejadian tersebut, saya jadi berpikir ternyata pengetahuan saya emang cetek dan lambat banget yaaaa. Saya tahu istilah "sutrah" ketika saya duduk di perguruan tinggi, sedangkan lelaki penyeret kursi itu baru duduk di kelas 4 SD (Ooowww, apalah saya iniiii... 😊)

Kesempatan-kesempatan berikutnya, ketika saya sholat dan lupa tidak meletakkan sutrah di depan sajadah (lupanya hampir setiap harii πŸ˜‚), maka lelaki-lelaki kecil saya akan meletakkanya tanpa diminta. Biasanya mereka menggunakan kursi sebagai sutrahnya. Setelah itu barulah mereka berbincang kembali di seberang sutrah yang telah mereka letakkan.


Dari seberang kursi kelihatan kan kaki-kaki mungilnya krucil... πŸ˜‰

"Oooooh jadi sutrah itu kursi yaaa?", hmmmmm sisi lola saya muncul lagi nih.. 😁
Bukan, bukan bermaksud bilang kalau sutrah itu kursi, tapi kursi bisa jadi sutrah atau salah satu sutrah itu bisa berupa kursi (nha lhooo).
Selain meletakkan kursi di depan tempat sujud kita sebagai sutrah, kita juga bisa meletakkan barang-barang yang lain, misalnya tongkat, tumpukan buku (maklum, di kelas adanya buku dan buku 😁) atau bisa juga dengan menggunakan tas. Manfaat sutrah ini adalah sebagai pembatas atau penghalang. Sehingga orang lain yang ingin lewat di depan jalur sholat kita menjadi mengerti, batasan mana yang tidak boleh ia lalui, batasan mana yang boleh ia lalui. Apa tidak cukup dengan sajadah saja? Sebenarnya dengan sajadah juga sudah bisa jadi penanda, tapi kalau situasinya seperti saya (kadang sholat di tempat yang memang agak ramai, apalagi di kelas yang krucilnya hobi lari-lari muluuuu), sutrah ini sangat membantu mempertegas batasan mana yang boleh dilalui dan mana yang tidak.



Minggu, 19 Februari 2017

"Future Author"

"Future Author"....
Hehe mimpi banget yaaa? πŸ˜… tapi kata Abang (Abangnya siaapaaa? πŸ˜”) bermimpi itu wajib (mimpi; jangan dibaca bunga tidur yaaa....). Bermimpilah, maka setidaknya kamu punya tujuan dalam hidup. Seperti semboyan yang berbunyi "dare to dream" (eh, bukan semboyan yaaa? πŸ™Š), maka wahai engkau para kaum pemimpi, janganlah takut bermimpi, be brave..... !

Mimpi, terkadang menjelma menjadi kekuatan tersendiri bagi si empunya. Kekuatan tersebut menimbulkan hasrat dan tekad si empunya untuk teruuuuus berusaha agar dapat menggapai mimpinya. Sebagai contoh, bermimpi dapat nilai 100, maka si empunya akan punya kekuatan untuk belajar, mengerjakan soal dengan teliti agar hasilnya sempurna. Bermimpi punya pendamping yang soleh (#eh...πŸ™ˆ), maka si empunya akan memantaskan diri, menyolehakan diri. Bermimpi menjadi seorang dokter, maka si empunya akan berusaha untuk bisa masuk di akademi kedoketran, lulus dengan nilai memuaskan, dan mengamalkan ilmunya di dunia kedokteran. Bermimpi menjadi seorang penulis, maka si empunya pun seolah akan memiliki kekuatan untuk terus berusaha menulis (meski ngantuk-ngantuk, yang penting nuliss duluuu πŸ˜…).

"Future Author", dari mana sih saya dapat kata-kata itu? dari sini......
 
           menatap singgasana Abang                      menunggu Abang                 
         
Pagi tadi adalah pagi yang sudah saya nanti-nanti sejak dua bulan terakhir. Si Abang yang kata-katanya menyejukkan hati berkunjung ke tanah rantau saya. Sudah barang tentu kesempatan langka ini tidak mau saya sia-siakan. Meski saya harus merelakan akhir pekan saya yang seumur jagung (sepertinya lebih tepat seumur kedelai, singkat bangeet soalnyaaaa), namun rasanya terbayar sudah ketika Abang benar-benar muncul di hadapan saya. Abang, dengan kaos putih tulangnya itu tampak gagah dan menawan (kalau lihat orang pintar emang bawaanya menawan hati... πŸ˜…). Senyumnya sumringah, meski tisu tak lepas dari tangannya (sepertinya sedang flu).

Abang... Abang... Abang....
Abang siapa sih? Siapa lagi kalau bukan Abang Tere Liye ... 😊. Kali ini Abang tidak sendiri, beliau hadir bersama Sastrawan asli Banyumas, Bapak Ahmad Tohari. Beliau ini juga tidak kalah masyhurnya, beberapa cerpen dan novel sudah diterbitkan, bahkan ada satu novel yang cukup fenomenal (Ronggeng Dukuh Paruk) yang akhirnya difilmkan.

 Abang dan Bapak Ahmad sedang memberikan pemaparan materi

Pesan Abang yang dapat saya simpulkan dari talkshow kali ini adalah:

1. Untuk menjadi seorang penulis yang produktif, paling tidak ada 3 hal yang harus kita perhatikan, diantaranya:
  • Menulis itu harus dipaksakan. Menulislah sebanyak yang kamu mampu. Jangan pernah pikirkan respon yang akan orang berikan terhadap tulisan kita, jangan takut, menulislah. Kata Abang, coba menulis 1000 kata/ hari selama 6 bulan. Jika di tengah jalan gagal, ulang lagi dari awal 😊😊. Jika berhasil, maka kita sudah sama hebatnya dengan penulis-penulis lain (laku atau tidaknya tulisan kita, diabaikan lho yaaaa). Harus 1000 kata/ hari? mau nulis apa? Apapun... nulis sms kek, diari kek, cerpen kek, liputan kek, artikel kek, atau apalah, yang penting nulis (hal +).
  • Ketika kita kebingungan mau menulis apa ya kira-kira? INGAT!!!! "Apapun bisa jadi topik tulisan". Bertemu dengan anak yang bertingkah aneh, bertemu sang dermawan, binatang kesayangan, atau apapun, semua bisa jadi topik tulisan.

  • Berhenti bertanya banyak hal tentang kepenulisan. Mau mengawali cerita dari mana ya? Endingnya mau seperti apa ya? tokohnya siapa ya? sudut pandangnya gimana ya? bla..bla... bla.... Jika kamu masih seperti itu, maka "STOP, HENTIKAN!", lalu mulailah menulis lagi (ingat yaaa, apapun bisa jadi bahan tulisan).
2. Terkadang "keras kepala" itu perlu. Keras kepala yang bagaimana? keras kepala yang komit. komit untuk terus menulis meski tidak punya pembaca, komit untuk terus menulis meski pembaca mengganggap tulisan kita tidak penting.

Selain Abang, pelajaran yang dapat saya simpulkan dari Pak A.T. adalah jangan pernah lelah berusaha, jangan pernah lelah menulis, jangan pernah menyerah. Konon katanya cerpen Beliau yang dimuat pertama kali adalah cerpen ke-19nya. Namun karena kepantangmenyerahnya Beliau, akhirnya lahirlah banyak karya yang dilirik penerbit.
Satu hal yang saya ingat dari Pak Ahmad Tohari, Beliau mengatakan bahwa menulis berarti memberikan sesuatu kepada pembaca, bisa dari isinya, bisa dari gaya bahasanya, atau lainnya. Selain itu, sebagai pemula jangan pernah takut untuk mempraktikkan jurus  ATMnya (amati, tiru, modifikasi), tapi ingat "TIDAK BOLEH PLAGIAT!". Abang juga menambahkan, dalam dunia kepenulisan, kita memang sudah seharusnya mempunyai mentor (guru). Lalu kita harus berguru pada siapa? Pada penulis yang karya-karyanya sudah banyak dimuat dan menginspirasi tentunya. Berguru dengan membaca sambil teruuuus menulis, maka lama-kelamaan kita akan memiliki ciri khas tersendiri.

Terakhir, satu kalimat yang saya ingat dari Abang adalah prinsip menulis itu pada dasarnya ada 2, yaitu "convince them" or "confuse them" (kata kunci nih, diingat... diingat πŸ˜‰).


Sesi "Book Signing" yang riweuh.... πŸ˜…

Akhir dari kegiatan hari ini diakhiri dengan sesi book signing (tanpa foto-foto yaaa, Si Abang enggak mauπŸ˜‘). Alhasil saya curi-curi deh supaya difoto, wajah Abang bisa ikut terpampang 😁..

PS: Kisah lucunya Abang ketika buku "Hafalan Sholat Delisa" pertama kali terbit. Saking antusiasnya Beliau, Beliau langsung mendatangi toko buku yang waktu itu tidak jauh dari kosnya. Dipandanglah sudut yang bertuliskan "new arrival", tapi nyatanya buku Abang tidak ada disitu, kemudian Si Abang bergegas menuju bagian yang bertuliskan "novel", tapi tidak ada juga. Karena penasaran, Abang langsung menghubungi pihak penerbit dan meminta bantuan mas-mas penjaga toko, dicarilah buku Abang lewat mesin pencari. Setelah petugas mencarikan buku Abang lewat mesin pencari ternyata buku Abang diletakkan di rak bersama tumpukan buku bacaan sholat... Yasalaaaam, bacaan sholat baru, ada ya nama sholat "Delisa"? sholat tahajud, sholat dhuha mah ada kayanya, kata salah seorang pengunjung πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Oh iya, suaranya Abang ini khas sekali ketika berbicara, logatnya mengingatkan saya pada seorang motivator idola saya jugaaa, apalagi ketika bilang "Dek"... 😁😁😁


Puki.. Puki...🍐🍐🍐


Ini pohonnya Abah, yang nanem Abah, dan jadi pohon kesayangannya Abah. Nunggu pohon ini berbuah, sampai bertahuuuun....tahuuun lamanya (katanya siiih).

Raut sumringah terpancar dari wajahnya Abah yang cool (#eh 😎 kadang terkesan serem soalnya πŸ™ŠπŸ™ŠπŸ™Š) ketika pohon ini berbuah untuk pertama kalinya (sekitar beberapa bulan yang lalu). Waktu itu saya juga ikut sumringah karena bisa menyantap Si Puki dengan gratissss πŸ˜‚πŸ˜‚. Untuk yang pertama kalinya Puki bermunculan dari dahan-dahan pohon dengan malu-malu (belum banyak soalnya πŸ˜…). Kalau tidak salah ada sekitar 25 sampai 30an (mungkin juga lebih😁).

Yihaaaa... kali ini Si Puki pun berbuah kembali (untuk yang kedua kalinya). Dan masih sama seperti sebelumnya, masih malu-malu munculnya.
Puki-puki bergelantungan manja

Pukiii 😘🍐

Petik yang agak masak πŸ˜„

Terus berbuah ya Pukiii... bantu kami jadi sehat 😊😘😘🍐🍐🍐.

Ps: jadi teringat kisah lucu tentang Si Puki🍐--- Puki yang tertukar πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜…

Kamis, 16 Februari 2017

Rumah Baru Keluarga Shofia

"Mba, kelincinya lahiran lagi". Pesan singkat yang cukup bisa menarik bibir 2cm ke kanan dan ke kiri 😊. Setelah pernah beberapa kali pengalaman yang tidak mengenakan terjadi, akhirnya Shofia lahiran lagi (yeeeeee πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘). Kali ini Shofia melahirkan 6 bayi mungil yang putih bersih (ga bercorak maksudnyaπŸ˜‚). Jadi, total ada 11 bayi Shofia yang sudah lahir ke dunia. Keturunan pertamanya, Caca bersaudara kini sudah berusia kurang lebih 2 bulan, sepertinya sudah tidak menyusu. Sekarang giliran adiknya Caca bersaudara yang menggantikan peran tersebut 🍼🍼🍼.

Bertambahnya anggota keluarga berarti bertambah pula kebutuhan tempat tinggalnya. Karena ini jumlah kelinci terbanyak yang kami miliki, jadi mau tidak mau, kami harus membangunkan rumah baru ternyaman yang bisa dihuni oleh Shofia, Clover, Caca bersaudara, dan bayi-bayi baru (belum punya nama 😁). Berhubung area bagian belakang rumah kami tidak terlalu luas, maka diputuskan untuk membangun rumah susun dengan dua lantai untuk anak-anak Shofia. Lantai pertama untuk Caca bersaudara, lantai kedua untuk bayi-bayi baru dan Shofia (Clover? Di luar aja πŸ˜‚).

Kerja bakti bangun rumah (baca kandang)

Terima kasih Abah dan Adek yang sudah berdedikasi membangunkan rumah baru untuk Shofia 😊. Semoga menjadi rumah ternyaman dan layak huni bagi keluarga Shofia. Rumah tempat bernaung, berlindung dari panas, hujan, dan terhindar dari incaran mahluk bertaring tajam yang terlihat lugu (meooow... 🐱). Semoga keluarga Shofia bisa tumbuh berkembang dengan baik, mendapatkan pendidikan yang baik dan bisa hidup dengan baik #eh..
Terakhir, semoga dedikasi Abah dan Adek membangun rumah untuk Shofia terhitung sebagai amal jariyah di sisi Allah. Aamiin...

Keluarga Shofia dan rumah barunya

Setelah rumah, maka kebutuhan pangan pun harus tercukupi 

Baiti Jannati πŸ˜„

Rabu, 15 Februari 2017

Umpama Balon

Sejak awal pertunjukkan, kawanan balon-balon kuning memang sudah tertata rapi di bagian atap panggung. Digadang-gadang sebagai salah satu pemanis panggung, rupanya balon-balon ini memang manis sekali di mata krucill, menggoda mereka untuk mengambilnya. Tak terkecuali dengan seorang pria muda (mudanya pake bangeeet 😁) yang tiba-tiba berjalan ke arah saya dengan pandangan mata yang terus menerus menatap ke arah atap tenda di dekat panggung. Rupanya dia juga sangat menginginkan salah satu balon tersebut bisa diraihnya (mau digunakan untuk bermain, katanya). Setelah berbagai usaha dilakukan (kecuali, naik ke atas panggung, eitsss... saya larang), ternyata balon-balon di atap panggung masih enggan menghampiri pria muda ini (akhirnya nangkring di samping panggung deh nemenin saya πŸ™Š, lumayanlah bisa diajak ngobrol πŸ˜…). Dan akhirnyaaa setelah penantian sekian lama, balon yang diinginkan pria muda ini luluh juga, si balon terpisah dari kawanannya dan terbang (tertiup angin πŸ˜…) menuju si pria muda ini (Si pria muda langsung ambil balon ini dong.... nunggunya udah laamaaa bangeeet, hehe.....). Begitu senangnya si pria muda ini saat si balon ada di dalam gengggamannya (yeee... yeee... bisa main).


Mengintai kawanan balon di atap panggung, berharap ada yang terpisah dari gerombolannya
(pengen diambil πŸ˜‘)


Setelah penantian dan pengintaian sekian lama, akhirnyaaa dapat jugaaa....

Ternyata keberhasilan pria muda ini mendapatkan balon, mengakibatkan tertularnya teman-teman pria muda untuk mendapatkan balon juga (saya juga jadi ikut antusias pengen dapetin balon #eh).

Saya yang kebetulan mendapat jatah jaga di area samping panggung menjadi ikut sibuk mengintai balon-balon di atap panggung. Balon-balon yang tadinya bergerombol, perlahan terlihat terpisah dari kelompoknya, tertiup angin, pergi ke haluan yang berbeda-beda, sampai akhirnya satu-persatu balon ditemukan oleh teman-teman pria muda yang berada di area depan panggung (saya dapat? enggak...πŸ˜… lha wong balon pergi ke arah mana, saya ada dimana). Teman-teman pria muda juga terlihat kegirangan mendapat balon seperti pria muda (ada yang dipakai untuk tendang-tendangan, dilempar-lempar, dipegang aja, dielus-elus, dibawa jalan, de el el.).



******


 Keesokan harinya disambut dengan balon yang lebih banyak dan lebih warna-warni. 
balon yang kemarin?? udah lupa ... πŸ˜…

 ******

PS: Saya jadi mikir, apakah perempuan di mata lelaki juga umpama balon-balon itu? #eh πŸ™Š