Sabtu, 10 Juni 2017

Tarawih perdana



Tahun ini, tepat dua kali saya menjalani bulan Ramadhan di kota Satria. Ironisnya, malam tadi adalah malam perdana saya melaksanakan sholat tarawih di Mafaza (Masjid Fatimatuz Zahra).
“Aneh ya memangnya kalau belum pernah sholat disitu?” hati nurani saya bertanya. Sebenarnya tidak, hanya saja sangat disayangkan kalau belum pernah mencoba singgah (untuk sholat tarawih) di salah satu masjid ternama (versi saya) di kota Satria ini. Kemarin sore, kebetulan (tanpa sengaja dan tanpa rencana) salah seorang kawan saya (sebut saja Melati) mengajak untuk tarawih di Mafaza. Tanpa berpikir panjang saya pun langsung mengiyakan ajakannya (emang dasar cewe mauan sih saya mah 😁, apalagi kalau diajak-ajak pergi, hihi). Apa yang saya pikirkan ketika berkata “iya”? padahal kalau sholat tarawih disitu katanya durasinya cukup lama. Satu yang saya ingat dari perkataan guru spiritual saya adalah “perbanyak saksi kebaikan”, iya saksi kebaikan. Saya pikir mungkin jalan ini adalah salah satu cara saya agar bisa menambah saksi kebaikan (semogaaa, aamiin). Sehingga tak perlu berpikir lama untuk memutuskan mau atau tidak, saya sih langsung bilang “yess” 😊.
Sepulang merapikan raport, yang kebetulan kemarin memang harus sudah rapi, saya dan Melati bergegas pulang ke kos saya. Buru-buru amat? Hihi ada yang mau buka puasa di lorong perjuangan, jadi kami cepat-cepat meninggalkan tumpukan raport yang sebenarnya belum benar-benar rapi (takut diajakin buka bareng #eh 🙊). Dengan jalan setengah berlari akhirnya kami pun berhasil sampai ke parkiran. Daaan….cussss, meluncur……
Setelah menyelesaikan buka puasa dan sholat mahgrib, kami bersiap untuk ke Mafaza. Jika ditempuh dengan kendaraan roda dua, mungkin membutuhkan waktu 5 – 10 menit. Pukul 06.40 WIB, kami sudah berada di pelataran Masjid. Masih ada waktu sekitar 10 menit sebelum memasuki waktu Isya. Karena ingin berada di posisi paling depan (Kata Melati supaya bisa lihat Imam dan jamaah yang ada di bawah, kebetulan jamaah wanita ada di lantai 2), akhirnya kami pun bergegas memasuki masjid.
Penampakan dari luar masjid 🌃


Ternyata ada bazar bukunya juga (di lapangan depan masjid)

Masya Allah, pemandangan yang indah nampak disana. Dimana? Di tangga masjid, penghubung lantai 1 dan 2. Kenapa? Ada seorang wanita muda berusia sekitar 20an dengan gamis dan kerudung syar’i-nya terlihat sedang sibuk merapikan sampah sisa buka puasa para jamaah (mungkin). Dengan baki berisikan bungkus plastik (bekas takjil) yang dibawanya, Ia nya bolak-balik sembari memastikan area sholat sudah bersih. Masya Allah.... Dalam hati saya berpikir, kayanya saya belum bisa seperti itu (melayani orang banyak), kapan yaa?. Take action dong makanya 🙊...
Oke kembali ke topik. Tak berselang lama, adzan Isya pun berkumandang. Jeda waktu antara adzan Isya dan pelaksanaan sholat Isya memang cukup lama (untung udah dapat bocoran dari Melati, kebetulan Melati memang sering sholat isya dan tarawih disini). Untuk mengisi jeda waktu tersebut, hampir semua jamaah wanita mengisinya dengan tahsin (membaca al-quran). Masya Allah… maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan? Salah satu nikmat yang terkadang orang sering abaikan adalah nikmat taat. Menurut saya, betapa beruntungnya mereka yang Allah karuniai nikmat taat. Kenapa? karena setitik saja kita melakukan kemaksiatan, biasanya ketaatan itu akan menurun dengan sendirinya (pengalaman pribadi yaa? #eh 🙊).


 Menunggu waktu Isya datang
(Lantai bawah masih sepi jamaah)


(Masih) dalam rangka menunggu waktu Isya datang
"tahsin heula... 😊
 (Saya kok sibuk take photo?? Hihi maklum pemula, “gumunan” #eh 😅)

Setelah jamaah terkumpul (udah kelihatan banyak, terutama jamaah laki-laki yang ada di lantai bawah, yang datangnya nyicil #eh), iqomat pun berkumandang. Sholat Isya malam tadi dilaksanakan pukul O7.22 WIB dan selesai sekitar pukul 07.44 WIB. Kok bisa detail gitu tahunya? Hehe iya, saya bolak-balik lihat jam terus. Ba’da sholat Isya, para jamaah berdzikir secara munfarid, kemudian ada yang melaksanakan sholat rawatib ba’diyah Isya. Setelah itu, MC yang bertugas tadi malam membacakan susunan acaranya. Ada beberapa pengumuman program ramadhan terdekat, yang kebetulan (lagi) salah satu programnya membuat saya (agak) tertarik. Agak? Ragu-ragu banget. Hihi lagi-lagi karena saya belum pernah melaksanakan. Program apa ya kira-kira? Mmmmm…. Ssstttttt rahasia…
Tausiyah yang dibawakan oleh Ust. Minto (kata Melati sih itu namanya) begitu mengena dihati. Sehingga, meskipun durasinya cukup lama (yang biasanya saya ikuti cuma 7-10 menit, paling lama 15 menit), telinga saya tetap asyik dan betah berlama-lama untuk mendengarkan. Tausiyah yang sebenernya belum selesai (terpaksa) di akhiri pukul 08.20 WIB, ditandai dengan dibacakannya kesimpulan oleh Ust. Minto (kalau biasanya, jam segitu udah bisa leyeh-leyeh di kos, hehehe) .
Saya mau sedikit berbagi dengan materi tausiyah semalam ah…
Intinya adalah tentang ciri-ciri muhlis dan munafiq. Tapi yang lebih banyak dibahas semalam adalah tentang munafiq (itu pun belum tuntas).
**Ciri-ciri munafiq**
1. Cinta dunia dan jabatan
“Cinta dunia???”, mak jleb. Sepertinya, manusia kaya saya ini masih sangat cinta sama dunia, jangan-jangan saya ….. 🙉🙉🙉
(Semoga selalu bisa berbenah, semoga diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, aamiin).
2. Mendahulukan hawa nafsu
Ciri-ciri orang yang suka mendahulukan hawa nafsu adalah:
a.       Bila berkata, bohong
b.      Bila berjanji, mengingkari
      Ngomong-ngomong soal janji, terkadang (kebanyakan) orang mempersepsikan salah terhadap kata Insya Allah. Pasti pernah kan dengar seseorang yang ketika ia mengucapkan janji, lalu ia berkata "Insya Allah", tapi apa yang terjadi? si lawan bicaranya pasti langsung memfonis kalau si pembuat janji akan melanggar janjinya. Padahal (bagi yang mengerti), sesungguhnya seseorang yang berkata "Insya Allah" itu sebenarnya sudah bertekad untuk menepati janjinya. Hanya saja, untuk pelaksanaan, tetap kuasa Allah yang lebih utama. Ketika kita bertekaad kuat untuk memenuhi janji, ternyata Allah berkehendak tidak, maka (ndilalah) kita tidak bisa memenuhi janji tersebut. Tapi, ingat, bukan berarti seseorang yang berkata "Insya Allah" itu sudah tanda-tanda kalau dia tidak akan memenuhi janjinya yaaa.... Sebagai contoh:
  •       A : Nanti pulang tarawih mampir ke rumah saya ya?
  •       B : Insya Allah yaa
  •       A : (Dalam hati, hmmm tanda-tanda nggak datang ini mah). jangan bilang Insya Allah lah... bilang "Iya" gitu...
  •       B : Iya, Insya Allah...
  •       A : Ihhhh gemesss, jangan bilang Insya Allah, harus bilang "IIYAAA!"
  •       B : Hmmm, Insya Allah.... (gemes balik sama Si A)
  •       B : (Sepulang tarawih) mampir ke rumah Si A ah..... (Nha ternyata ketika hendak ke rumah Si A, perut si B ini mules-mules karena diare. otomastis bolak-balik ke kamar mandi kan? dan pastinya itu melelahkan serta menguras banyak energi, sehingga si B pun akhirnya membatalkan ke rumah si A
  •      A : Hmmmm tau banget, pasti nggak datang beneran kan. cari alasan aja itu bilang diare (😅 agak mendramatisir)
Nha dari cuplikan cerita di atas, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya orang yang berkata Insya Allah itu punya tekad untuk memenuhi janjinya. Hanya saja ada beberapa oknum yang membuat kata Insya Allah itu untuk mainan. Eh, kok mainan? iya, mereka berkata Insya Allah tapi dengan niatan untuk tidak memenuhi janjinya, dan yang seperti inilah ciri munafiq (orang yang berbuat nifaq).
c.       Bila dipercaya, khianat
d.      ………………………………………… (yang keempat, mmmmm…….. apa yaaa??? Mmmm….. #mikir kerasss… 😵😵😵 dan ternyata udah diingat-ingat sambil jempalitan tetep nggak ingat 😞😞😞 #hadeeeh.. Bukti nyata ya, kalau ingatan manusia itu terbatas, nggak sempurna dan kesempurnaan itu hanyalah milik Allah semata.)
3. …………………………………….????
Ciri munafiq yang ketiga… mmm yang ketiga… ciri munafiq yang ketiga… mmmm kan lupa lagiii 😪😪😪
Emang perlu bawa buku catatan sepertinya jika diberi kesempatan singgah di mafaza lagi…. (Semoga yaaa, Aamiin)…

Oh ya ada lagi yang saya ingat:
Ciri munafiq: orangnya gemar berbuat baik, tapi niat dalam hatinya semrawut (jahat). jadi perbuatan baiknya itu hanya sebagai kamuflase saja...
Ciri fasiq: kebalikannya munafiq, orangnya gemar berbuat jahat, tapi hatinya memiliki potensi untuk menjadi baik (iman). Hanya saja jika diibaratkan seperti buah kurma yang daging buahnya bagus tapi kulitnya mengelupas karena busuk, maka lama-kelamaan daging buahnya akan tertular busuknya. demikian halnya dengan fasiq. meski seseorang punya potensi keimanan (untuk menjadi baik), tapi kalau amal perbuatan sehari-harinya jahat, maka dia sangat berpotensi menjadi jahat.
Lalu mana yang lebih baik? fasiq atau munafiq? Naudzubillah, ternyata keduanya sama buruknya.
Dan apabila munafiq bersanding dengan fasiq, maka itu bisa menyebabkan kekafiran seseorang. Naudzubillah ....

Sebagai kesimpulan tausiyah, Ust. Minto menyampaikan bahwa untuk terhindar dari sifat nifaq (atau menjadi munafiq), maka ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, antara lain:
  1. ...?
  2. ...?
  3. ...? (Allahu akbar..... kan... lupa lagiiiiii #kebanyakan maksiat ini... 😭


Tapi sepenangkapan saya, intinya yang bisa kita lakukan adalah:
  1. Perbaiki niat
  2. Mohon perlindungan pada Allah agar dijauhkan dari sifat nifaq, agar tidak menjadi munafiq
  3. Perbanyak sedekah, karena sesungguhnya sedekah itu bisa jadi penghalang keburukan
  4. Bergaullah dengan orang-orang soleh
  5. Senantiasa bertaubat, jangan lelah untuk bertaubat (sebagaimana kita tidak lelah untuk bermaksiat #astaghfirullah....)
  6. Senantiasa memohon ampunan pada Allah
  7. Perbanyak baca Al-qur'an
  8. Perbanyak datangi majelis ilmu
Eh iya, tiba-tiba ingat kesimpulanya Ust. Minto. Agar terhindar dari sifat nifaq (atau menjadi munafiq), maka ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, antara lain:
  1. Datang ke masjid dan ikut sholat jamaah bersama imam (bukan jadi ma'mum masbuk). Allah berfirman: "Barang siapa yang selama 40 hari berturut-turut (200 kali sholat jama'ah) tidak tinggal sholat jamaah bersama imam (artinya tidak masbuk/ datang sebelum imam memulai sholat) di masjid, maka ia terhindar dari sifat munafiq (dan saya yakin itu sangat berat). Itu bagi laki-laki... lalu bagaimana dengan perempuan? Bagi perempuan (yang sholatnya dianjurkan di rumah, dan paling baik di kamarnya sendiri), maka bersegeralah sholat ketika adzan berkumandang (berarti sebelum adzan, ketika sudah mendekati waktu sholat, maka sebaiknya ia mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat, dengan mengambil air wudhu sebelum adzan misalnya.. Saya yakin ini juga berat (bagi saya maksudnya). Wallahu a'lam..
  2.  Perbanyak sedekah
  3. Terlalu banyak ngeshare-ngeshare yang belum tentu kebenarannya. Ustadz Minto said: "Ingat ya, lebih baik jadi anggota dari kebaikan daripada pemimpin (kepalanya) keburukan" (Hihi paham enggak maksudnyaa??? 😁)

Seusai tausiyah, pelaksanaan sholat tarawih pun tiba. Disini sholat tarawih dilaksanakan dengan dua pilihan paket (makanan kali ah pake dipaketin, hehe)…
Paket pertama: 8 rokaat tarawih + 3 rokaat witir.
Paket kedua:  20 rokaat tarawih + 3 rokaat witir.
Untuk sholat tarawih dilaksanakan dua rokaat per salam, sedangkan sholat witir 3 rokaat langsung salam. Kira-kira paket berapa yang saya pilih yaaa?? Heeew, udah ketebak sih, pasti yang paket pertama lah (yang paket pertama aja selesai pukul 09.08 WIB #ups). Harap maklum, namanya juga masih anak-anak, eh pemula maksudnyaa, jadi ya gituuu…hawa nafsunya masih lebih dominan 🙊 (Hmmmm kan... ciri munafiq lhooo..... #Astaghfirullahaladzim)

"Ayuuuk pulang yuuuuk, mau nonton nih 😅". Etdaaah, Azizah....pikirannya nonton mulu....
Akhirnya Melati pun bergegas ke parkiran dan mengambil kuda besinya, lalu mengantar saya ke kos (ngrepotin banget ya sayaaaa???? 😅😅😅 semoga Allah melipatgandakan pahala kebaikan yang begitu banyak untuk Melati, aamiin)

"Eh mba, sesuk ............. ya?" kata Melati...
"Insya Allah", jawab saya...
Mendengar kata Insya Allah, kami pun saling pandang, dan gelak tawa pun tak dapat dielakkan keluar dari mulut kami berdua... hihihi
"Ati-ati, munafiq lhoooo"... (ketawanya makin kenceng....😆)

Udah ah, tamat.... 😅

Sabtu, 13 Mei 2017

Ngatur jiwa

"Ngatur jiwa" ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang jiwanya belum teratur (kaya saya ini, #eaaa). Hihi apasiiih ...
Ceritanya​ kemarin sore diajakin kawan ke salah satu TaBar di masjid dekat tempat kerja. Kebetulan acaranya sore hari, ba'da asar. Nha mumpung tugas jaga malam-sore sudah berakhir (setidaknya untuk semester ini 🙊), jadi saya putuskan untuk ikut ke acara tersebut. Kami datang agak telat, kurang lebih 30 menit dari waktu yang ditentukan. Setelah sampai TKP (eh..), terlihat sandal dan sepatu para jamaah sudah berjejer rapi di dekat anak tangga. Sambutan dari si empunya hajat juga sudah terdengar dari halaman masjid, dekat tempat parkir. Tak berlama-lama di tempat parkir (eh) kami langsung bergegas masuk masjid dan..... waaaaw saya melihat pemandangan yang agak bikin minder (karena merasa beda sendiri 😸). Apa yang saya lihat ya kira-kira? 😗
Nhaaa, jadi kebanyakan jamaah (wanita) yang datang, hampir semua mengenakan jilbab yang panjang (dalam hati mikir: jilbab gue yang panjang ini ternyata masih kalah panjang 😅), belum lagi warnanya hampir seragam (warna gelaaaap: hitam, dongker, marun, coklat, hijau gelap, tapi kebanyakan hitam dan dongker), dan saya? Saya pakai tosca... 😅... Heheuuu
(Ini saya jalan udah sambil sibuk tengak tengok, kira-kira mau duduk diposisi mana yaa? Diperhatikan tidak yaaa?)
"Kono wae mbaaa", kata kawan saya sambil nunjuk posisi pojok depan, di belakang pembatas. Mungkin biar bisa lihat yang ceramah dengan puas kali yaaa 😁
Pemandangan yang nampak dari tempat duduk saya

Yaaak seperti yang terlihat samar-samar di banner, kajian sore ini temanya tentang "keajaiban dan dahsyatnya sedekah". Si penceramah dengan gayanya memaparkan isi kajian dengan cukup gamblang (menurut saya). Waktu 1,5 jam pun terasa begitu cepatnya. Buktinya dengan uraian yang panjang lebar dari Si Penceramah tidak membuat saya bosan, tapi malah ingin berlama-lama 😁..
Inti dari kajian ini sebenarnya adalah pengingat bagi kita (khususnya saya yang sering lupa) agar tidak bosan, agar rajin dalam bersedekah, sekecil apapun. Sesungguhnya dengan saling memberi bisa menumbuhkan kasih sayang diantara sesama. Dengan bersedekah, ada pihak yang bahagia karena dibantu atau pihak yang bahagia karena bisa membantu. Dengan bersedekah berarti kita telah membantu meringankan beban orang lain. Dengan bersedekah berarti kita telah memberikan hak orang lain yang telah Allah titipkan pada kita..
Bersedekah pun sudah dicontohkan oleh Rasulullah. Rasul bahkan rela hidup sederhana dan menginfakkan hartanya di jalan Allah. Sedekah atau sodaqoh ini sangat dianjurkan karena dapat:
1. Menyambung silaturahmi
2. Mempererat tali persaudaraan
3. Meringankan beban orang lain
4. Memberikan hak orang lain yang Allah titipkan pada kita
5. Dihitung sebagai amal kebaikan oleh Allah (aamiin)
6. Penolak bala/ musibah (Insya Allah)
7. Mendapatkan penjagaan dari Allah SWT
8. Meningkatkan keimanan
9. Menjauhkan dari su'ul khotimah
10. Mensucikan harta, serta masih banyak lagi
Jadi ayo kita rajin-rajin bersedekah...
Fastabiqul Khoirot, ayo kita berlomba dalam kebaikan... 💪💪💪

Minggu, 07 Mei 2017

Mudik time.....

Yeee udah Sabtu. Seneng deh kalau udah Sabtu. Seneng banget kalau libur (kerja), tapi gajian jangan libur yaaa.. #ups 🙊 (hihi maunyaaa)....

Mudik adalah rutinitas yang tidak bisa saya lewatkan di akhir pekan (kecuali kalau ada keperluan atau acara sekolah). Nha, kali ini mudiknya agak beda dari biasanya. Biasanya kalau saya mudik selalu diantar sama Abang-Abang angkot dan Mbah Pakdhe yang pegangannya setir bus. Hari ini... Masih sama sih yang ngantar, hanya saja bus yang saya tumpangi kali ini agak berbeda (ber-AC.. hehe.... ih norak banget deeeh, huhuuu)...


Ya Rabbi, bahagianya... 😅😅😅
(Pipiiii tolong dikondisikan)


Bukan bermaksud norak atau gumunan, tapi bus jurusan Purwokerto-Tegal hampir sebagian besar tidak ber-AC, akibatnya ya pengamen naik turun nggak berhenti-berhenti (karena saking banyaknya), bau asap rokok dari penumpang yang kurang bijak tercium dimana-mana, dan ujung-ujungnya membuat tidak nyaman saat di dalam kendaraan...
Nha siang ini saya sengaja menunggu bus di pintu keluar terminal (biasanya langsung nyamperin pangkalan busnya). Tujuannya supaya dapat bus kecil saja, jadi ngantri di terminalnya nggak kelamaan. Hehe...
Setelah kurang lebih 15 menitan menunggu akhirnya nampaklah sebuah bus berwarna hijau muncul dari tikungan jalan (busnya kok kaya jarang lihat ya, pikir saya dalam hati). Dengan hati-hati saya membaca tulisan yang tertempel di bagian kaca depan bus. "Purwokerto-Cirebon-Tegal". Yaaak, begitulah kira-kira tulisannya (this is it.. yang saya tunggu akhirnya datang juga). Tanpa menunggu lama, saya pun akhirnya bergegas naik bus dan memilih letak kursi yang paling strategis (untuk tidur 😁😁😁).
"Kok dingin?" Pikir saya lagi dalam hati... Setelah saya amati baik-baik, ternyata busnya ber-Ac. Heheuuu
#kejadian langkaaa...
#drama dimulaiiii

Meskipun tarifnya lebih mahal dari biasanya, tapi saya suka. Kenapa?
Pertama bebas pengamen (Bukanya saya alergi atau sensi sama pengamen yaaa... Hanya saja ada beberapa pengamen yang agak arogan, bawaanya berasa diancam gitu kalau nggak kasih (recehan), padahal kan jumlah mereka itu banyak sekali yang naik turun, dalam jarak 10 m aja kadang sudah ada 3 pengamen yang naik turun. Selain itu kalau pas yang ngamen perempuan, kadang suka nyinyir kalau nggak dikasih. Dan parahnya (menurut saya) ada yang terang-terangan bilang "ini jalan saya sejak tahun bla bla bla", lalu tanpa menyumbangkan lagu secuilpun si masnya langsung nariki penumpang sambil bilang "hargai suara kami"... (Hey, helloo... Suara yang mana?). Tapi kalau ketemu pengamen yang niat (suaranya bagus dan lagunya bagus, kadang bisa jadi hiburan juga sih dan yang model begini kalau nggak dikasih (karena kehabisan receh), saya suka ngerasa bersalah sendiri... Hoho...

Yang kedua, bebas dari asap rokok (artinya saya bisa bernapas dengan lega). Kebetulan bus yang saya tumpangi kali ini juga agak wangi, jadi sepertinya​ akan betah berlama-lama di dalam bus #eh. Pernah beberapa kali naik bus (AC) membuat (lebih tepatnya memaksa) saya bernapas lewat mulut (sengaja, supaya nggak cium asap rokok) dan bolak-balik tutup hidung. Bisa dibayangkan bagaimana tidak nyamannya. Belum lagi kalau dapat antrian bus malam (setelah mahgrib atau isya), bisa-bisa empet-empetan dengan banyak orang (karena si kernek selalu bilang ini bus terakhir, jadi penumpang membludak). Ditambah aroma dari sekian banyak penumpang, bercampur dengan bau keringat, duuuh sesuatu banget ya, tapi itulah seninya naik bus 😁😁...

Over all, saya tetap (masih) suka naik bus (apapun), ber-AC atau tidak (karena belum bisa dan belum berani bawa motor sendiri 😅😅 hehe...).
#udah ah...

Have a nice weekend everybody.... 😊

Minggu, 23 April 2017

Walking around #2



“Ayoooo lekas pulang, jam 10.30 WIB kelasnya mau dikunci lhooooo”, ujar saya pada krucils yang terlihat masih betah duduk di kelas. Kenapa buru-buru sekali? Karena hari ini, kami (para guru) akan berpetualang….. 😍👓😄🙌🙌🙌
*****
Semua peserta rihlah sudah bersiap di busnya masing-masing dan saya juga sudah bersiap, duduk manis di singgasana saya, hehe…. (total ada 3 bus). Pukul 11.15 WIB perjalanan di mulai. Kami berangkat dari Jatiwinangun, Purwokerto dengan iringan doa safar dari pemimpin bus masing-masing. Perjalanan yang cukup lama untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Diperkirakan setelah berkendara selama kurang lebih 2 jam, kami baru bisa sampai disana. Oleh karena itu, pemimpin rombongan memberikan instruksi untuk singgah di Koreaaa (eh, Kroyaaaa….😁) dan melaksanakan sholat dhuhur sekaligus jamak sholat asar.

What a sunny day….. Panasssss….. (Tapi hati saya tetap adem kok #eh 🙊)
Dari Kroya, kami masih harus menempuh perjalanan kembali selama kurang lebih 30 menit. Sebagai penumpang yang baik, saya sibuk mengamati kondisi jalan selama perjalanan (red: termenung di samping kaca jendela  sambil melihat keluar, lalu berkhayal) sambil sesekali bercerita satu dua hal dengan kawan sebangku untuk memecah kekakuan dan sesekali menanggapi cuit-cuitan lucu dari kawan-kawan.
*****
"Boooooo, what are you doing???" Melihat kebo (kerbau) sedang merumput di dekat jajaran pohon cemara menandakan bahwa lokasi tujuan kami sudah ada di depan mata... Daaaan, benar, kami sudah sampai di Pantai Congot, Cilacap. Hal pertama yang kami lakukan setelah turun dari bus adalah…. menuju tempat makaaaaaan. Makan siang kali ini, kami disuguhi ikan bakar, cah kangkung, lalaban mentimun lengkap dengan sambal terasinya, dan es teh yang tak pernah ketinggalan. Sungguh nikmatnya dunia, menyantap makanan di saat sedang lapar-laparnya… hehe (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan???--- QS. Ar-Rahman: 16).
Usai mengisi perut, kami diberi waktu sekitar 15 menit untuk menikmati keindahan Pantai Congot. Pantai Congot sering disebut juga Pantai Jetis. Ombak di pantai ini tidak terlalu besar dan bukan pantai pasir putih. Meski  tak seindah Indrayanti (menurut saya), tapi bersyukur sudah bisa sampai sini, melihat kemaha-agungan Sang Pencipta yang telah menciptakan alam sedemikian rupa, sedemikian bermanfaatnya.
Tak berselang lama, tiga armada laut (perahu maksudnya) terlihat sudah bersiap untuk mengangkut kami ke hutan mangrove di dekat pantai congot. Penumpang bus 1 naik perahu 1, penumpang bus 2 naik perahu 2, penumpang bus 3 naik perahu 3. Eits, tapi tunggu dulu, ternyata ada sedikit masalah dengan perahu 3, yap, bagian dasar perahunya ada yang sedikit bocor. Oleh karena itu, kami (penumpang bus 3) harus menunggu si abang tukang perahunya menggantinya dengan perahu lain.

Perahu 1 melaju….
Perahu 2 melaju…..
See…………perahu 3 datang, para penumpang bergegas naik dan perahu 3 pun melajuuuu. Sebelum di bawa ke hutan mangrove, kami diajak menikmati keindahan  sekeliling hutan mangrove terlebih dahulu.


Persaingan antar perahu satu dan tiga pun tak dapat dihindari….
“Kejar….kejar….kejar”, begitu sorak sorai dari penumpang yang menyemangati Si Pengendara agar tidak tertinggal. Apa yang terjadi selanjutnya? Di tengah persaingan yang cukup sengit ini, tiba-tiba perahu yang kami tumpangi berdempetan satu sama lain. Oow….. paniknyaaaa……😱😱😱
Rupanya kedua pengendara perahu berbincang lirih dari atas perahu masing-masing. Seusainya, persaingan untuk dapat sampai ke hutan mangrove terlebih dahulu pun dimulai kembali. Cipratan-cipratan kecil antar penumpang juga ikut mewarnai perjalanan ini (oh……paniknya… tak bawa baju ganti, tapi ada yang terpingkal-pingkal lho dengan kejadian ini, heheuuuu).
*****
Perahu menepiiiiii, hutan mangrove sudah di depan kami….😍

Satu persatu penumpang mulai menapaki jembatan kayu, menyusuri hijaunya mangrove, sambil satu-dua kali berhenti untuk berfoto. Selama perjalanan ini mata saya tak pernah lama berpaling dari jembatan kayu. 
 

Dengan hati-hati saya melangkah, mengamati kayu-kayu mana yang harus saya tapaki. Memang satu-dua kayunya sudah mulai rapuh dan beberapa ada yang berjarak jauh (lubangnya terlalu lebaar, jarak antar kayunya terlalu jauh). Di hutan mangrove ini kita bisa mengambil foto dengan background yang hijau atau bisa juga memancing (kebetulan beberapa dari kami ada yang sengaja membawa alat pancing).



*****
Dari hutan mangrove, perjalanan kami lanjutkan kembali ke Pantai Ayah (Kebumen). Dua pantai di dua kabupaten yang berbeda ini terasa sangat dekat sekali. Tak lebih dari 5 menit, kami bisa sampai disana dengan perahu. Turun dari perahu, kami dibekali sebuah kelapa muda yang sedang enak-enaknya dinikmati. Saya pun tak ingin buang waktu. Berbekal sebuah kelapa, saya dan kawan bergegas mencari spot yang paling bagus untuk menikmati senja.

Hari ini pun (masih) senja yang sama…

Aktivitas terakhir yang paling saya suka dari perjalanan ini adalah berlarian di pinggir pantai (sebenernya ini lari gara-gara takut ditinggal rombongan, hihi.. keasyikan foto siiih)….
Dengan berakhirnya waktu yang diberikan oleh ketua rombongan berarti habis sudah petualangan kami hari ini (semoga bersambung di lain waktu, aamiin 😄). Semua rombongan kembali ke perahunya masing-masing dan juuuuuum…. Kita kembali menyebrang ke Pantai Congot.




Senin, 10 April 2017

Walking around

What a shiny day, Piknik Jum...

Hey, universe...

Kemarin Sabtu, tepatnya tanggal 8 April 2017 pukul 14.23an WIB, saya baru saja mendarat di Jatiwinangun tercinta. Mendarat? Hehe iya habis kemah di Baturaden, bawaannya kaya terbang aja (naik, menanjak terus sih jalannya).

Kebetulan hari ini Si Mpit (temen SMP saya, partner in crime juga #eh 😁😁😁) baru saja seminar di Purbalingga, otomatis pulangnya ngelewatin Purwokerto dong. Alhasil pulang ke rumah ibu nya bareng Mpit deh... Yeeeee dapat tebengan 🙌🙌🙌 (anak kos mah seneng banget sama hal-hal yang berbau gratis, hihi.. ups🙊). Nha, terjadilah percakapan di sore itu yang akhirnya menghasilkan kesepakatan untuk walking around bersama di hari Minggunya (asyiiiik... Emang lagi butuh jalan-jalan banget). Kami memutuskan untuk berkunjung ke waduk penjalin. Sebenarnya tempat tersebut sudah terlalu sering dikunjungi, tapi kabarnya ada tampilan baru yang membuat kami penasaran ingin pergi kesana.
******
Minggu yang dinanti pun akhirnya datang juga... Pagi yang biasanya tak bosan datang dengan langit mendungnya, hari ini seolah merestui rencana kami.. yak, langitnya biruuuu, harinya ceraaah. Ah, senangnyaaaa... 😄

Rute pertama perjalanan kami dimulai dari sini:

Yaaak gerbang pertama dengan tangganya yang berwarna-warni terlihat cantik dengan segala pernak-pernik di sekitarnya. Naungan langit yang berwarna biru pun seolah memanjakan mata, membuat ingin berlama-lama menatapnya.

Satu, dua, tiga anak tangga mulai kami naiki. Daaan....sesampainya di atas, apa yang terjadi?
"Cin, naik perahu yuuuk". Eh, ada yang ngajak naik perahu... Hmmmm, takut sih sebenarnya naik perahu kecil begitu..
"Kamu mau naik perahu?", Saya hanya membalasnya dengan nada datar lalu mengajak Si Mpit ini ke taman jamur (berharap Si Mpit lupa tentang keinginannya untuk naik perahu 😁😁 #tertawa jahat).

Sesampainya di taman jamur, disana-sini terlihat banyak muda mudi, bapak ibu yang tengah asyik mengambil foto. Memang banyak spot bagus untuk mengambil foto disana, sehingga kami pun tak mau ketinggalan, kami langsung mengambil kamera (eh, HP ding), lalu memulai untuk jeprat-jepret sekitar... 📷📷📷

Foto candid yang menghasilkan foto pose galau 😅

Mpit nunggu siapa? 😁

Aku nunggu siapa? 😁

Hari makin panas, berteduh di bawah naungan jamur (buatan) dulu deh...
"Cin, yuuk naik perahu...", Hihi tiba-tiba ada yang inget perahu nih...
Mmmm meski sudah menyampaikan keengganan saya untuk naik perahu lengkap dengan alasannya, ternyata Si Mpit lebih punya kekuatan yang datangnya entah darimana​ (mungkin dari bulan) yang akhirnya membuat saya berkata iya.. huhuhu....

Perahuuuu... 😍😍😍

Nah loh ada yang seneng banget naik perahu

Dengan ragu-ragu, kaki saya pun mulai melangkah masuk ke dalam perahu. Satu dua keluhan, tiga empat rengekan pun mulai keluar dari mulut saya....
Takut 😭😭😭. Itu perasaan saya ketika menunggu perahunya dipenuhi penumpang. Bagaimana tidak takut, perahunya digoyang-goyangkan oleh air tanpa henti, seperti mau oleng saja #eh.

Sekitar 10 menit menunggu, akhirnya kuota jumlah penumpang perahu yang kami tumpangi pun sudah terpenuhi. Bismillahirrahmanirrahim... perahu mulai melaju.. 🚣🚣🚣
Tepian waduk mulai terlihat menjauh, dan lihat tangan saya... Tangan saya terlihat menggenggam erat kayu-kayu penopang atap perahu 😅😅😅 (takut jatuh).
Semilir angin, hijaunya pepohonan di seberang, putihnya awan, birunya langit pun seolah bekerja seperti morfin. Mereka memberikan rasa nyaman, mengurangi rasa gelisah, menghilangkan ketakutan saya ketika berada di atas perahu... "Yeeeee, ayooo Pak melaju yang jauh", saya pun mulai ketagihan 😅😅😅😁.
Eits tapi lihat penumpang di belakang, ada yang mengeluh perutnya mual, ada yang merengek minta turun, ada yang memohon agar perahunya segera kembali ke tepian, dan saya? Saya sedang menikmati perjalanan (singkat) ini... 😂
******
"Krucuk... Krucuk...", cacing-cacing di perut sepertinya mulai protes... Wajar sih karena memang sekarang sudah mendekati jam makan siang. Akhirnya, seturunnya dari perahu, kami pun memutuskan untuk mencoba kuliner baruuuu 😄

Taraaaa..... Sampailah kami di WM dekat waduk. Kalau dari tempat parkir, jaraknya sekitar 500 m. WM ini bisa diakses dengan jalan kaki, kendaraan roda 2 atau 4.
Menu yang bisa dicoba disini adalah betutu atau mujaer yg digoreng, dipecak, atau dioblok-oblok, cah kangkung, sayur asem, es teh, es jeruk, dan aneka macam jus.
Nha untuk makan siang kali ini kami memilih betutu pecak (kenapa bukan mujaer? Karena betutu lebih banyak dagingnya, tutur saya kepada Mpit 😁 #ketahuan nih mana yang hobi makan 🙊), cah kangkung, es jeruk, dan nasiiii....
Saking enaknya atau saking lapernya yaaa 😁 sampai-sampai kami tambah nasi #eh 🙊🙊🙊 (tapi masih ada yang tersisa di ceting kok 😸).

Sambal pecaknya enaaak 

Keunikan dari warung makan ini adalah letaknya yang di pinggir waduk (bisa makan sembari menikmati pemandangan) dan ada satu spot foto yang menarik. Nha disitu kita bisa mengambil foto diri kita dengan angle yang cukup bagus (menurut saya). Recomended deh....
Jalan di atas drum ini butuh perjuangan banget (hihi agak lebay, tapi bener, karena kita harus menjaga keseimbangan supaya tidak jatuh).

Sebenarnya masih ingin berlama-lama di waduk, ingin mengikuti rangkaian acara yang kebetulan akan di selenggarakan oleh salah satu komunitas disitu. Tapi apa daya, Si Mpit sudah dicari-cari sama Si Empunya (Ayah Ibunya, maksudnya 😁). Pulang deh...

Ps: semoga ada kesempatan baik lain untuk bisa berkunjung kesini...


Rabu, 05 April 2017

Curhat #1 - Piknik jum....



It’s been a long time yaaa since I wrote 📝 my last story…..
Kenapa sih akhir-akhir ini jarang banget nulis, padahal kata Abang apa? Coba diingat (#emot sedih 😣).
“Time flies so fast”, emang.. Emang bener kata pepatah tersebut (#eh itu ngomong-ngomong pepatah bukan yaaa?). Banyak banget cerita tapi rasanya selalu kehabisan waktu untuk bisa nulis (kecuali update status singkat, hehe). Sekalinya punya waktu luang, pasti deh dimanfaatin untuk gain energy.. hehe… bahasa kerennya mah tiduuuurrrr… Gimana enggak? akhir-akhir ini kerjaan  datang silih berganti tanpa henti seperti kerja rodi #eh (Nggak bermaksud ngeluh Ya Allah, enggak…. hanya saja hayati lelah #eh). Mata merah karena keseringan natap layar laptop 💻 dan HP📱 (ngecekin WA masuk dari klien #eh) dan parahnya sempet dikira sakit mata, sampai-sampai, sempat beberapa teman takut natap mata saya (hihi yang begini ini malah menggoda untuk ditatap….). Tapi anehnya, efek dari banyaknya kerjaan yang seolah nggak ada berhentinya ini (Alhamdulillah Zah, bersyukuuuur, bersyukuuuur!), malah mengakibatkan timbangan berat badan naik. Biasanya kalau saya nimbang berat badan, si jarum susah banget beranjak dari angka 44. Lha ini, udah hampir lewat angka 45 aja…. Huffft…
Keanehan kedua, ketika flu dan batuk hampir sebulanan nangkring di tubuh saya dan sepertinya enggan beranjak, tiba-tiba menghilang ketika agenda saya makin padat (efek terlalu sering naik turun tangga kali yaaa, latihan pernapasan unconsciously #lol).
Keanehan ketiga, satu persatu hal-hal yang secara nggak sengaja bersinggungan dengan kerjaan, seolah  menuntun jejak saya pada sang idola (membuntuti lebih tepatnya mah…😥). Saya seolah-olah dibawa dan ditunjukkan dunia sang idola, mendatangi tempat-tempat yang pernah dikunjungi sang idola, dibawa berimaji tentang keseharian sang idola (ah, mungkin ini efek baper aja 😥).
Nhaaa… balik ke topik yaaaa, efek kerjaan yang bertumpuk-tumpuk ini ternyata secara nggak langsung juga berpengaruh terhadap kerja hormon yang ada di tubuh saya. Rasa uring-uringan, kesel, seneng sebentar terus pengen marah-marah lagi (lingkungannya kadang mendukung banget buat marah-marah sih, hehe #buru-buru istighfar), rasa ingin menyerah lalu ingin berjuang lagi, rasa ingin mengeluh terus sadar lagi (inget kalau Tuhan tidak akan membebani suatu kaum di luar kemampuannya #sayapastibisaaaa). Nha efek hormon dan krooni-kroninya yang udah saya sebutin di atas itulah yang pada akhirnya membuat saya agak malas (lebih tepatnya sih nggak sempat) menulis. Hmmmm sebenarnya sih apalah arti sebuah hormon kalau kita bisa mengendalikannya. Semangat semangat Zah….!!!
Terus inti dari tulisan ini apa Zah? Intinya mah lagi suntuk dan butuh piknik atau sekedar menikmati (menikmati lhooo yaaa, bukan sekedar menyantap) es krim sembari ditiup semilir angin atau sekedar gowes dipagi hari #ngarep.