Sabtu, 10 Juni 2017

Tarawih perdana



Tahun ini, tepat dua kali saya menjalani bulan Ramadhan di kota Satria. Ironisnya, malam tadi adalah malam perdana saya melaksanakan sholat tarawih di Mafaza (Masjid Fatimatuz Zahra).
“Aneh ya memangnya kalau belum pernah sholat disitu?” hati nurani saya bertanya. Sebenarnya tidak, hanya saja sangat disayangkan kalau belum pernah mencoba singgah (untuk sholat tarawih) di salah satu masjid ternama (versi saya) di kota Satria ini. Kemarin sore, kebetulan (tanpa sengaja dan tanpa rencana) salah seorang kawan saya (sebut saja Melati) mengajak untuk tarawih di Mafaza. Tanpa berpikir panjang saya pun langsung mengiyakan ajakannya (emang dasar cewe mauan sih saya mah 😁, apalagi kalau diajak-ajak pergi, hihi). Apa yang saya pikirkan ketika berkata “iya”? padahal kalau sholat tarawih disitu katanya durasinya cukup lama. Satu yang saya ingat dari perkataan guru spiritual saya adalah “perbanyak saksi kebaikan”, iya saksi kebaikan. Saya pikir mungkin jalan ini adalah salah satu cara saya agar bisa menambah saksi kebaikan (semogaaa, aamiin). Sehingga tak perlu berpikir lama untuk memutuskan mau atau tidak, saya sih langsung bilang “yess” 😊.
Sepulang merapikan raport, yang kebetulan kemarin memang harus sudah rapi, saya dan Melati bergegas pulang ke kos saya. Buru-buru amat? Hihi ada yang mau buka puasa di lorong perjuangan, jadi kami cepat-cepat meninggalkan tumpukan raport yang sebenarnya belum benar-benar rapi (takut diajakin buka bareng #eh 🙊). Dengan jalan setengah berlari akhirnya kami pun berhasil sampai ke parkiran. Daaan….cussss, meluncur……
Setelah menyelesaikan buka puasa dan sholat mahgrib, kami bersiap untuk ke Mafaza. Jika ditempuh dengan kendaraan roda dua, mungkin membutuhkan waktu 5 – 10 menit. Pukul 06.40 WIB, kami sudah berada di pelataran Masjid. Masih ada waktu sekitar 10 menit sebelum memasuki waktu Isya. Karena ingin berada di posisi paling depan (Kata Melati supaya bisa lihat Imam dan jamaah yang ada di bawah, kebetulan jamaah wanita ada di lantai 2), akhirnya kami pun bergegas memasuki masjid.
Penampakan dari luar masjid 🌃


Ternyata ada bazar bukunya juga (di lapangan depan masjid)

Masya Allah, pemandangan yang indah nampak disana. Dimana? Di tangga masjid, penghubung lantai 1 dan 2. Kenapa? Ada seorang wanita muda berusia sekitar 20an dengan gamis dan kerudung syar’i-nya terlihat sedang sibuk merapikan sampah sisa buka puasa para jamaah (mungkin). Dengan baki berisikan bungkus plastik (bekas takjil) yang dibawanya, Ia nya bolak-balik sembari memastikan area sholat sudah bersih. Masya Allah.... Dalam hati saya berpikir, kayanya saya belum bisa seperti itu (melayani orang banyak), kapan yaa?. Take action dong makanya 🙊...
Oke kembali ke topik. Tak berselang lama, adzan Isya pun berkumandang. Jeda waktu antara adzan Isya dan pelaksanaan sholat Isya memang cukup lama (untung udah dapat bocoran dari Melati, kebetulan Melati memang sering sholat isya dan tarawih disini). Untuk mengisi jeda waktu tersebut, hampir semua jamaah wanita mengisinya dengan tahsin (membaca al-quran). Masya Allah… maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan? Salah satu nikmat yang terkadang orang sering abaikan adalah nikmat taat. Menurut saya, betapa beruntungnya mereka yang Allah karuniai nikmat taat. Kenapa? karena setitik saja kita melakukan kemaksiatan, biasanya ketaatan itu akan menurun dengan sendirinya (pengalaman pribadi yaa? #eh 🙊).


 Menunggu waktu Isya datang
(Lantai bawah masih sepi jamaah)


(Masih) dalam rangka menunggu waktu Isya datang
"tahsin heula... 😊
 (Saya kok sibuk take photo?? Hihi maklum pemula, “gumunan” #eh 😅)

Setelah jamaah terkumpul (udah kelihatan banyak, terutama jamaah laki-laki yang ada di lantai bawah, yang datangnya nyicil #eh), iqomat pun berkumandang. Sholat Isya malam tadi dilaksanakan pukul O7.22 WIB dan selesai sekitar pukul 07.44 WIB. Kok bisa detail gitu tahunya? Hehe iya, saya bolak-balik lihat jam terus. Ba’da sholat Isya, para jamaah berdzikir secara munfarid, kemudian ada yang melaksanakan sholat rawatib ba’diyah Isya. Setelah itu, MC yang bertugas tadi malam membacakan susunan acaranya. Ada beberapa pengumuman program ramadhan terdekat, yang kebetulan (lagi) salah satu programnya membuat saya (agak) tertarik. Agak? Ragu-ragu banget. Hihi lagi-lagi karena saya belum pernah melaksanakan. Program apa ya kira-kira? Mmmmm…. Ssstttttt rahasia…
Tausiyah yang dibawakan oleh Ust. Minto (kata Melati sih itu namanya) begitu mengena dihati. Sehingga, meskipun durasinya cukup lama (yang biasanya saya ikuti cuma 7-10 menit, paling lama 15 menit), telinga saya tetap asyik dan betah berlama-lama untuk mendengarkan. Tausiyah yang sebenernya belum selesai (terpaksa) di akhiri pukul 08.20 WIB, ditandai dengan dibacakannya kesimpulan oleh Ust. Minto (kalau biasanya, jam segitu udah bisa leyeh-leyeh di kos, hehehe) .
Saya mau sedikit berbagi dengan materi tausiyah semalam ah…
Intinya adalah tentang ciri-ciri muhlis dan munafiq. Tapi yang lebih banyak dibahas semalam adalah tentang munafiq (itu pun belum tuntas).
**Ciri-ciri munafiq**
1. Cinta dunia dan jabatan
“Cinta dunia???”, mak jleb. Sepertinya, manusia kaya saya ini masih sangat cinta sama dunia, jangan-jangan saya ….. 🙉🙉🙉
(Semoga selalu bisa berbenah, semoga diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, aamiin).
2. Mendahulukan hawa nafsu
Ciri-ciri orang yang suka mendahulukan hawa nafsu adalah:
a.       Bila berkata, bohong
b.      Bila berjanji, mengingkari
      Ngomong-ngomong soal janji, terkadang (kebanyakan) orang mempersepsikan salah terhadap kata Insya Allah. Pasti pernah kan dengar seseorang yang ketika ia mengucapkan janji, lalu ia berkata "Insya Allah", tapi apa yang terjadi? si lawan bicaranya pasti langsung memfonis kalau si pembuat janji akan melanggar janjinya. Padahal (bagi yang mengerti), sesungguhnya seseorang yang berkata "Insya Allah" itu sebenarnya sudah bertekad untuk menepati janjinya. Hanya saja, untuk pelaksanaan, tetap kuasa Allah yang lebih utama. Ketika kita bertekaad kuat untuk memenuhi janji, ternyata Allah berkehendak tidak, maka (ndilalah) kita tidak bisa memenuhi janji tersebut. Tapi, ingat, bukan berarti seseorang yang berkata "Insya Allah" itu sudah tanda-tanda kalau dia tidak akan memenuhi janjinya yaaa.... Sebagai contoh:
  •       A : Nanti pulang tarawih mampir ke rumah saya ya?
  •       B : Insya Allah yaa
  •       A : (Dalam hati, hmmm tanda-tanda nggak datang ini mah). jangan bilang Insya Allah lah... bilang "Iya" gitu...
  •       B : Iya, Insya Allah...
  •       A : Ihhhh gemesss, jangan bilang Insya Allah, harus bilang "IIYAAA!"
  •       B : Hmmm, Insya Allah.... (gemes balik sama Si A)
  •       B : (Sepulang tarawih) mampir ke rumah Si A ah..... (Nha ternyata ketika hendak ke rumah Si A, perut si B ini mules-mules karena diare. otomastis bolak-balik ke kamar mandi kan? dan pastinya itu melelahkan serta menguras banyak energi, sehingga si B pun akhirnya membatalkan ke rumah si A
  •      A : Hmmmm tau banget, pasti nggak datang beneran kan. cari alasan aja itu bilang diare (😅 agak mendramatisir)
Nha dari cuplikan cerita di atas, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya orang yang berkata Insya Allah itu punya tekad untuk memenuhi janjinya. Hanya saja ada beberapa oknum yang membuat kata Insya Allah itu untuk mainan. Eh, kok mainan? iya, mereka berkata Insya Allah tapi dengan niatan untuk tidak memenuhi janjinya, dan yang seperti inilah ciri munafiq (orang yang berbuat nifaq).
c.       Bila dipercaya, khianat
d.      ………………………………………… (yang keempat, mmmmm…….. apa yaaa??? Mmmm….. #mikir kerasss… 😵😵😵 dan ternyata udah diingat-ingat sambil jempalitan tetep nggak ingat 😞😞😞 #hadeeeh.. Bukti nyata ya, kalau ingatan manusia itu terbatas, nggak sempurna dan kesempurnaan itu hanyalah milik Allah semata.)
3. …………………………………….????
Ciri munafiq yang ketiga… mmm yang ketiga… ciri munafiq yang ketiga… mmmm kan lupa lagiii 😪😪😪
Emang perlu bawa buku catatan sepertinya jika diberi kesempatan singgah di mafaza lagi…. (Semoga yaaa, Aamiin)…

Oh ya ada lagi yang saya ingat:
Ciri munafiq: orangnya gemar berbuat baik, tapi niat dalam hatinya semrawut (jahat). jadi perbuatan baiknya itu hanya sebagai kamuflase saja...
Ciri fasiq: kebalikannya munafiq, orangnya gemar berbuat jahat, tapi hatinya memiliki potensi untuk menjadi baik (iman). Hanya saja jika diibaratkan seperti buah kurma yang daging buahnya bagus tapi kulitnya mengelupas karena busuk, maka lama-kelamaan daging buahnya akan tertular busuknya. demikian halnya dengan fasiq. meski seseorang punya potensi keimanan (untuk menjadi baik), tapi kalau amal perbuatan sehari-harinya jahat, maka dia sangat berpotensi menjadi jahat.
Lalu mana yang lebih baik? fasiq atau munafiq? Naudzubillah, ternyata keduanya sama buruknya.
Dan apabila munafiq bersanding dengan fasiq, maka itu bisa menyebabkan kekafiran seseorang. Naudzubillah ....

Sebagai kesimpulan tausiyah, Ust. Minto menyampaikan bahwa untuk terhindar dari sifat nifaq (atau menjadi munafiq), maka ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, antara lain:
  1. ...?
  2. ...?
  3. ...? (Allahu akbar..... kan... lupa lagiiiiii #kebanyakan maksiat ini... 😭


Tapi sepenangkapan saya, intinya yang bisa kita lakukan adalah:
  1. Perbaiki niat
  2. Mohon perlindungan pada Allah agar dijauhkan dari sifat nifaq, agar tidak menjadi munafiq
  3. Perbanyak sedekah, karena sesungguhnya sedekah itu bisa jadi penghalang keburukan
  4. Bergaullah dengan orang-orang soleh
  5. Senantiasa bertaubat, jangan lelah untuk bertaubat (sebagaimana kita tidak lelah untuk bermaksiat #astaghfirullah....)
  6. Senantiasa memohon ampunan pada Allah
  7. Perbanyak baca Al-qur'an
  8. Perbanyak datangi majelis ilmu
Eh iya, tiba-tiba ingat kesimpulanya Ust. Minto. Agar terhindar dari sifat nifaq (atau menjadi munafiq), maka ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, antara lain:
  1. Datang ke masjid dan ikut sholat jamaah bersama imam (bukan jadi ma'mum masbuk). Allah berfirman: "Barang siapa yang selama 40 hari berturut-turut (200 kali sholat jama'ah) tidak tinggal sholat jamaah bersama imam (artinya tidak masbuk/ datang sebelum imam memulai sholat) di masjid, maka ia terhindar dari sifat munafiq (dan saya yakin itu sangat berat). Itu bagi laki-laki... lalu bagaimana dengan perempuan? Bagi perempuan (yang sholatnya dianjurkan di rumah, dan paling baik di kamarnya sendiri), maka bersegeralah sholat ketika adzan berkumandang (berarti sebelum adzan, ketika sudah mendekati waktu sholat, maka sebaiknya ia mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat, dengan mengambil air wudhu sebelum adzan misalnya.. Saya yakin ini juga berat (bagi saya maksudnya). Wallahu a'lam..
  2.  Perbanyak sedekah
  3. Terlalu banyak ngeshare-ngeshare yang belum tentu kebenarannya. Ustadz Minto said: "Ingat ya, lebih baik jadi anggota dari kebaikan daripada pemimpin (kepalanya) keburukan" (Hihi paham enggak maksudnyaa??? 😁)

Seusai tausiyah, pelaksanaan sholat tarawih pun tiba. Disini sholat tarawih dilaksanakan dengan dua pilihan paket (makanan kali ah pake dipaketin, hehe)…
Paket pertama: 8 rokaat tarawih + 3 rokaat witir.
Paket kedua:  20 rokaat tarawih + 3 rokaat witir.
Untuk sholat tarawih dilaksanakan dua rokaat per salam, sedangkan sholat witir 3 rokaat langsung salam. Kira-kira paket berapa yang saya pilih yaaa?? Heeew, udah ketebak sih, pasti yang paket pertama lah (yang paket pertama aja selesai pukul 09.08 WIB #ups). Harap maklum, namanya juga masih anak-anak, eh pemula maksudnyaa, jadi ya gituuu…hawa nafsunya masih lebih dominan 🙊 (Hmmmm kan... ciri munafiq lhooo..... #Astaghfirullahaladzim)

"Ayuuuk pulang yuuuuk, mau nonton nih 😅". Etdaaah, Azizah....pikirannya nonton mulu....
Akhirnya Melati pun bergegas ke parkiran dan mengambil kuda besinya, lalu mengantar saya ke kos (ngrepotin banget ya sayaaaa???? 😅😅😅 semoga Allah melipatgandakan pahala kebaikan yang begitu banyak untuk Melati, aamiin)

"Eh mba, sesuk ............. ya?" kata Melati...
"Insya Allah", jawab saya...
Mendengar kata Insya Allah, kami pun saling pandang, dan gelak tawa pun tak dapat dielakkan keluar dari mulut kami berdua... hihihi
"Ati-ati, munafiq lhoooo"... (ketawanya makin kenceng....😆)

Udah ah, tamat.... 😅

Tidak ada komentar:

Posting Komentar