Minggu, 07 Mei 2017

Mudik time.....

Yeee udah Sabtu. Seneng deh kalau udah Sabtu. Seneng banget kalau libur (kerja), tapi gajian jangan libur yaaa.. #ups πŸ™Š (hihi maunyaaa)....

Mudik adalah rutinitas yang tidak bisa saya lewatkan di akhir pekan (kecuali kalau ada keperluan atau acara sekolah). Nha, kali ini mudiknya agak beda dari biasanya. Biasanya kalau saya mudik selalu diantar sama Abang-Abang angkot dan Mbah Pakdhe yang pegangannya setir bus. Hari ini... Masih sama sih yang ngantar, hanya saja bus yang saya tumpangi kali ini agak berbeda (ber-AC.. hehe.... ih norak banget deeeh, huhuuu)...


Ya Rabbi, bahagianya... πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…
(Pipiiii tolong dikondisikan)


Bukan bermaksud norak atau gumunan, tapi bus jurusan Purwokerto-Tegal hampir sebagian besar tidak ber-AC, akibatnya ya pengamen naik turun nggak berhenti-berhenti (karena saking banyaknya), bau asap rokok dari penumpang yang kurang bijak tercium dimana-mana, dan ujung-ujungnya membuat tidak nyaman saat di dalam kendaraan...
Nha siang ini saya sengaja menunggu bus di pintu keluar terminal (biasanya langsung nyamperin pangkalan busnya). Tujuannya supaya dapat bus kecil saja, jadi ngantri di terminalnya nggak kelamaan. Hehe...
Setelah kurang lebih 15 menitan menunggu akhirnya nampaklah sebuah bus berwarna hijau muncul dari tikungan jalan (busnya kok kaya jarang lihat ya, pikir saya dalam hati). Dengan hati-hati saya membaca tulisan yang tertempel di bagian kaca depan bus. "Purwokerto-Cirebon-Tegal". Yaaak, begitulah kira-kira tulisannya (this is it.. yang saya tunggu akhirnya datang juga). Tanpa menunggu lama, saya pun akhirnya bergegas naik bus dan memilih letak kursi yang paling strategis (untuk tidur 😁😁😁).
"Kok dingin?" Pikir saya lagi dalam hati... Setelah saya amati baik-baik, ternyata busnya ber-Ac. Heheuuu
#kejadian langkaaa...
#drama dimulaiiii

Meskipun tarifnya lebih mahal dari biasanya, tapi saya suka. Kenapa?
Pertama bebas pengamen (Bukanya saya alergi atau sensi sama pengamen yaaa... Hanya saja ada beberapa pengamen yang agak arogan, bawaanya berasa diancam gitu kalau nggak kasih (recehan), padahal kan jumlah mereka itu banyak sekali yang naik turun, dalam jarak 10 m aja kadang sudah ada 3 pengamen yang naik turun. Selain itu kalau pas yang ngamen perempuan, kadang suka nyinyir kalau nggak dikasih. Dan parahnya (menurut saya) ada yang terang-terangan bilang "ini jalan saya sejak tahun bla bla bla", lalu tanpa menyumbangkan lagu secuilpun si masnya langsung nariki penumpang sambil bilang "hargai suara kami"... (Hey, helloo... Suara yang mana?). Tapi kalau ketemu pengamen yang niat (suaranya bagus dan lagunya bagus, kadang bisa jadi hiburan juga sih dan yang model begini kalau nggak dikasih (karena kehabisan receh), saya suka ngerasa bersalah sendiri... Hoho...

Yang kedua, bebas dari asap rokok (artinya saya bisa bernapas dengan lega). Kebetulan bus yang saya tumpangi kali ini juga agak wangi, jadi sepertinya​ akan betah berlama-lama di dalam bus #eh. Pernah beberapa kali naik bus (AC) membuat (lebih tepatnya memaksa) saya bernapas lewat mulut (sengaja, supaya nggak cium asap rokok) dan bolak-balik tutup hidung. Bisa dibayangkan bagaimana tidak nyamannya. Belum lagi kalau dapat antrian bus malam (setelah mahgrib atau isya), bisa-bisa empet-empetan dengan banyak orang (karena si kernek selalu bilang ini bus terakhir, jadi penumpang membludak). Ditambah aroma dari sekian banyak penumpang, bercampur dengan bau keringat, duuuh sesuatu banget ya, tapi itulah seninya naik bus 😁😁...

Over all, saya tetap (masih) suka naik bus (apapun), ber-AC atau tidak (karena belum bisa dan belum berani bawa motor sendiri πŸ˜…πŸ˜… hehe...).
#udah ah...

Have a nice weekend everybody.... 😊

Minggu, 23 April 2017

Walking around #2



“Ayoooo lekas pulang, jam 10.30 WIB kelasnya mau dikunci lhooooo”, ujar saya pada krucils yang terlihat masih betah duduk di kelas. Kenapa buru-buru sekali? Karena hari ini, kami (para guru) akan berpetualang….. πŸ˜πŸ‘“πŸ˜„πŸ™ŒπŸ™ŒπŸ™Œ
*****
Semua peserta rihlah sudah bersiap di busnya masing-masing dan saya juga sudah bersiap, duduk manis di singgasana saya, hehe…. (total ada 3 bus). Pukul 11.15 WIB perjalanan di mulai. Kami berangkat dari Jatiwinangun, Purwokerto dengan iringan doa safar dari pemimpin bus masing-masing. Perjalanan yang cukup lama untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Diperkirakan setelah berkendara selama kurang lebih 2 jam, kami baru bisa sampai disana. Oleh karena itu, pemimpin rombongan memberikan instruksi untuk singgah di Koreaaa (eh, Kroyaaaa….😁) dan melaksanakan sholat dhuhur sekaligus jamak sholat asar.

What a sunny day….. Panasssss….. (Tapi hati saya tetap adem kok #eh πŸ™Š)
Dari Kroya, kami masih harus menempuh perjalanan kembali selama kurang lebih 30 menit. Sebagai penumpang yang baik, saya sibuk mengamati kondisi jalan selama perjalanan (red: termenung di samping kaca jendela  sambil melihat keluar, lalu berkhayal) sambil sesekali bercerita satu dua hal dengan kawan sebangku untuk memecah kekakuan dan sesekali menanggapi cuit-cuitan lucu dari kawan-kawan.
*****
"Boooooo, what are you doing???" Melihat kebo (kerbau) sedang merumput di dekat jajaran pohon cemara menandakan bahwa lokasi tujuan kami sudah ada di depan mata... Daaaan, benar, kami sudah sampai di Pantai Congot, Cilacap. Hal pertama yang kami lakukan setelah turun dari bus adalah…. menuju tempat makaaaaaan. Makan siang kali ini, kami disuguhi ikan bakar, cah kangkung, lalaban mentimun lengkap dengan sambal terasinya, dan es teh yang tak pernah ketinggalan. Sungguh nikmatnya dunia, menyantap makanan di saat sedang lapar-laparnya… hehe (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan???--- QS. Ar-Rahman: 16).
Usai mengisi perut, kami diberi waktu sekitar 15 menit untuk menikmati keindahan Pantai Congot. Pantai Congot sering disebut juga Pantai Jetis. Ombak di pantai ini tidak terlalu besar dan bukan pantai pasir putih. Meski  tak seindah Indrayanti (menurut saya), tapi bersyukur sudah bisa sampai sini, melihat kemaha-agungan Sang Pencipta yang telah menciptakan alam sedemikian rupa, sedemikian bermanfaatnya.
Tak berselang lama, tiga armada laut (perahu maksudnya) terlihat sudah bersiap untuk mengangkut kami ke hutan mangrove di dekat pantai congot. Penumpang bus 1 naik perahu 1, penumpang bus 2 naik perahu 2, penumpang bus 3 naik perahu 3. Eits, tapi tunggu dulu, ternyata ada sedikit masalah dengan perahu 3, yap, bagian dasar perahunya ada yang sedikit bocor. Oleh karena itu, kami (penumpang bus 3) harus menunggu si abang tukang perahunya menggantinya dengan perahu lain.

Perahu 1 melaju….
Perahu 2 melaju…..
See…………perahu 3 datang, para penumpang bergegas naik dan perahu 3 pun melajuuuu. Sebelum di bawa ke hutan mangrove, kami diajak menikmati keindahan  sekeliling hutan mangrove terlebih dahulu.


Persaingan antar perahu satu dan tiga pun tak dapat dihindari….
“Kejar….kejar….kejar”, begitu sorak sorai dari penumpang yang menyemangati Si Pengendara agar tidak tertinggal. Apa yang terjadi selanjutnya? Di tengah persaingan yang cukup sengit ini, tiba-tiba perahu yang kami tumpangi berdempetan satu sama lain. Oow….. paniknyaaaa……😱😱😱
Rupanya kedua pengendara perahu berbincang lirih dari atas perahu masing-masing. Seusainya, persaingan untuk dapat sampai ke hutan mangrove terlebih dahulu pun dimulai kembali. Cipratan-cipratan kecil antar penumpang juga ikut mewarnai perjalanan ini (oh……paniknya… tak bawa baju ganti, tapi ada yang terpingkal-pingkal lho dengan kejadian ini, heheuuuu).
*****
Perahu menepiiiiii, hutan mangrove sudah di depan kami….😍

Satu persatu penumpang mulai menapaki jembatan kayu, menyusuri hijaunya mangrove, sambil satu-dua kali berhenti untuk berfoto. Selama perjalanan ini mata saya tak pernah lama berpaling dari jembatan kayu. 
 

Dengan hati-hati saya melangkah, mengamati kayu-kayu mana yang harus saya tapaki. Memang satu-dua kayunya sudah mulai rapuh dan beberapa ada yang berjarak jauh (lubangnya terlalu lebaar, jarak antar kayunya terlalu jauh). Di hutan mangrove ini kita bisa mengambil foto dengan background yang hijau atau bisa juga memancing (kebetulan beberapa dari kami ada yang sengaja membawa alat pancing).



*****
Dari hutan mangrove, perjalanan kami lanjutkan kembali ke Pantai Ayah (Kebumen). Dua pantai di dua kabupaten yang berbeda ini terasa sangat dekat sekali. Tak lebih dari 5 menit, kami bisa sampai disana dengan perahu. Turun dari perahu, kami dibekali sebuah kelapa muda yang sedang enak-enaknya dinikmati. Saya pun tak ingin buang waktu. Berbekal sebuah kelapa, saya dan kawan bergegas mencari spot yang paling bagus untuk menikmati senja.

Hari ini pun (masih) senja yang sama…

Aktivitas terakhir yang paling saya suka dari perjalanan ini adalah berlarian di pinggir pantai (sebenernya ini lari gara-gara takut ditinggal rombongan, hihi.. keasyikan foto siiih)….
Dengan berakhirnya waktu yang diberikan oleh ketua rombongan berarti habis sudah petualangan kami hari ini (semoga bersambung di lain waktu, aamiin πŸ˜„). Semua rombongan kembali ke perahunya masing-masing dan juuuuuum…. Kita kembali menyebrang ke Pantai Congot.




Senin, 10 April 2017

Walking around

What a shiny day, Piknik Jum...

Hey, universe...

Kemarin Sabtu, tepatnya tanggal 8 April 2017 pukul 14.23an WIB, saya baru saja mendarat di Jatiwinangun tercinta. Mendarat? Hehe iya habis kemah di Baturaden, bawaannya kaya terbang aja (naik, menanjak terus sih jalannya).

Kebetulan hari ini Si Mpit (temen SMP saya, partner in crime juga #eh 😁😁😁) baru saja seminar di Purbalingga, otomatis pulangnya ngelewatin Purwokerto dong. Alhasil pulang ke rumah ibu nya bareng Mpit deh... Yeeeee dapat tebengan πŸ™ŒπŸ™ŒπŸ™Œ (anak kos mah seneng banget sama hal-hal yang berbau gratis, hihi.. upsπŸ™Š). Nha, terjadilah percakapan di sore itu yang akhirnya menghasilkan kesepakatan untuk walking around bersama di hari Minggunya (asyiiiik... Emang lagi butuh jalan-jalan banget). Kami memutuskan untuk berkunjung ke waduk penjalin. Sebenarnya tempat tersebut sudah terlalu sering dikunjungi, tapi kabarnya ada tampilan baru yang membuat kami penasaran ingin pergi kesana.
******
Minggu yang dinanti pun akhirnya datang juga... Pagi yang biasanya tak bosan datang dengan langit mendungnya, hari ini seolah merestui rencana kami.. yak, langitnya biruuuu, harinya ceraaah. Ah, senangnyaaaa... πŸ˜„

Rute pertama perjalanan kami dimulai dari sini:

Yaaak gerbang pertama dengan tangganya yang berwarna-warni terlihat cantik dengan segala pernak-pernik di sekitarnya. Naungan langit yang berwarna biru pun seolah memanjakan mata, membuat ingin berlama-lama menatapnya.

Satu, dua, tiga anak tangga mulai kami naiki. Daaan....sesampainya di atas, apa yang terjadi?
"Cin, naik perahu yuuuk". Eh, ada yang ngajak naik perahu... Hmmmm, takut sih sebenarnya naik perahu kecil begitu..
"Kamu mau naik perahu?", Saya hanya membalasnya dengan nada datar lalu mengajak Si Mpit ini ke taman jamur (berharap Si Mpit lupa tentang keinginannya untuk naik perahu 😁😁 #tertawa jahat).

Sesampainya di taman jamur, disana-sini terlihat banyak muda mudi, bapak ibu yang tengah asyik mengambil foto. Memang banyak spot bagus untuk mengambil foto disana, sehingga kami pun tak mau ketinggalan, kami langsung mengambil kamera (eh, HP ding), lalu memulai untuk jeprat-jepret sekitar... πŸ“·πŸ“·πŸ“·

Foto candid yang menghasilkan foto pose galau πŸ˜…

Mpit nunggu siapa? 😁

Aku nunggu siapa? 😁

Hari makin panas, berteduh di bawah naungan jamur (buatan) dulu deh...
"Cin, yuuk naik perahu...", Hihi tiba-tiba ada yang inget perahu nih...
Mmmm meski sudah menyampaikan keengganan saya untuk naik perahu lengkap dengan alasannya, ternyata Si Mpit lebih punya kekuatan yang datangnya entah darimana​ (mungkin dari bulan) yang akhirnya membuat saya berkata iya.. huhuhu....

Perahuuuu... 😍😍😍

Nah loh ada yang seneng banget naik perahu

Dengan ragu-ragu, kaki saya pun mulai melangkah masuk ke dalam perahu. Satu dua keluhan, tiga empat rengekan pun mulai keluar dari mulut saya....
Takut 😭😭😭. Itu perasaan saya ketika menunggu perahunya dipenuhi penumpang. Bagaimana tidak takut, perahunya digoyang-goyangkan oleh air tanpa henti, seperti mau oleng saja #eh.

Sekitar 10 menit menunggu, akhirnya kuota jumlah penumpang perahu yang kami tumpangi pun sudah terpenuhi. Bismillahirrahmanirrahim... perahu mulai melaju.. 🚣🚣🚣
Tepian waduk mulai terlihat menjauh, dan lihat tangan saya... Tangan saya terlihat menggenggam erat kayu-kayu penopang atap perahu πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜… (takut jatuh).
Semilir angin, hijaunya pepohonan di seberang, putihnya awan, birunya langit pun seolah bekerja seperti morfin. Mereka memberikan rasa nyaman, mengurangi rasa gelisah, menghilangkan ketakutan saya ketika berada di atas perahu... "Yeeeee, ayooo Pak melaju yang jauh", saya pun mulai ketagihan πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜.
Eits tapi lihat penumpang di belakang, ada yang mengeluh perutnya mual, ada yang merengek minta turun, ada yang memohon agar perahunya segera kembali ke tepian, dan saya? Saya sedang menikmati perjalanan (singkat) ini... πŸ˜‚
******
"Krucuk... Krucuk...", cacing-cacing di perut sepertinya mulai protes... Wajar sih karena memang sekarang sudah mendekati jam makan siang. Akhirnya, seturunnya dari perahu, kami pun memutuskan untuk mencoba kuliner baruuuu πŸ˜„

Taraaaa..... Sampailah kami di WM dekat waduk. Kalau dari tempat parkir, jaraknya sekitar 500 m. WM ini bisa diakses dengan jalan kaki, kendaraan roda 2 atau 4.
Menu yang bisa dicoba disini adalah betutu atau mujaer yg digoreng, dipecak, atau dioblok-oblok, cah kangkung, sayur asem, es teh, es jeruk, dan aneka macam jus.
Nha untuk makan siang kali ini kami memilih betutu pecak (kenapa bukan mujaer? Karena betutu lebih banyak dagingnya, tutur saya kepada Mpit 😁 #ketahuan nih mana yang hobi makan πŸ™Š), cah kangkung, es jeruk, dan nasiiii....
Saking enaknya atau saking lapernya yaaa 😁 sampai-sampai kami tambah nasi #eh πŸ™ŠπŸ™ŠπŸ™Š (tapi masih ada yang tersisa di ceting kok 😸).

Sambal pecaknya enaaak 

Keunikan dari warung makan ini adalah letaknya yang di pinggir waduk (bisa makan sembari menikmati pemandangan) dan ada satu spot foto yang menarik. Nha disitu kita bisa mengambil foto diri kita dengan angle yang cukup bagus (menurut saya). Recomended deh....
Jalan di atas drum ini butuh perjuangan banget (hihi agak lebay, tapi bener, karena kita harus menjaga keseimbangan supaya tidak jatuh).

Sebenarnya masih ingin berlama-lama di waduk, ingin mengikuti rangkaian acara yang kebetulan akan di selenggarakan oleh salah satu komunitas disitu. Tapi apa daya, Si Mpit sudah dicari-cari sama Si Empunya (Ayah Ibunya, maksudnya 😁). Pulang deh...

Ps: semoga ada kesempatan baik lain untuk bisa berkunjung kesini...


Rabu, 05 April 2017

Curhat #1 - Piknik jum....



It’s been a long time yaaa since I wrote πŸ“ my last story…..
Kenapa sih akhir-akhir ini jarang banget nulis, padahal kata Abang apa? Coba diingat (#emot sedih 😣).
“Time flies so fast”, emang.. Emang bener kata pepatah tersebut (#eh itu ngomong-ngomong pepatah bukan yaaa?). Banyak banget cerita tapi rasanya selalu kehabisan waktu untuk bisa nulis (kecuali update status singkat, hehe). Sekalinya punya waktu luang, pasti deh dimanfaatin untuk gain energy.. hehe… bahasa kerennya mah tiduuuurrrr… Gimana enggak? akhir-akhir ini kerjaan  datang silih berganti tanpa henti seperti kerja rodi #eh (Nggak bermaksud ngeluh Ya Allah, enggak…. hanya saja hayati lelah #eh). Mata merah karena keseringan natap layar laptop πŸ’» dan HPπŸ“± (ngecekin WA masuk dari klien #eh) dan parahnya sempet dikira sakit mata, sampai-sampai, sempat beberapa teman takut natap mata saya (hihi yang begini ini malah menggoda untuk ditatap….). Tapi anehnya, efek dari banyaknya kerjaan yang seolah nggak ada berhentinya ini (Alhamdulillah Zah, bersyukuuuur, bersyukuuuur!), malah mengakibatkan timbangan berat badan naik. Biasanya kalau saya nimbang berat badan, si jarum susah banget beranjak dari angka 44. Lha ini, udah hampir lewat angka 45 aja…. Huffft…
Keanehan kedua, ketika flu dan batuk hampir sebulanan nangkring di tubuh saya dan sepertinya enggan beranjak, tiba-tiba menghilang ketika agenda saya makin padat (efek terlalu sering naik turun tangga kali yaaa, latihan pernapasan unconsciously #lol).
Keanehan ketiga, satu persatu hal-hal yang secara nggak sengaja bersinggungan dengan kerjaan, seolah  menuntun jejak saya pada sang idola (membuntuti lebih tepatnya mah…πŸ˜₯). Saya seolah-olah dibawa dan ditunjukkan dunia sang idola, mendatangi tempat-tempat yang pernah dikunjungi sang idola, dibawa berimaji tentang keseharian sang idola (ah, mungkin ini efek baper aja πŸ˜₯).
Nhaaa… balik ke topik yaaaa, efek kerjaan yang bertumpuk-tumpuk ini ternyata secara nggak langsung juga berpengaruh terhadap kerja hormon yang ada di tubuh saya. Rasa uring-uringan, kesel, seneng sebentar terus pengen marah-marah lagi (lingkungannya kadang mendukung banget buat marah-marah sih, hehe #buru-buru istighfar), rasa ingin menyerah lalu ingin berjuang lagi, rasa ingin mengeluh terus sadar lagi (inget kalau Tuhan tidak akan membebani suatu kaum di luar kemampuannya #sayapastibisaaaa). Nha efek hormon dan krooni-kroninya yang udah saya sebutin di atas itulah yang pada akhirnya membuat saya agak malas (lebih tepatnya sih nggak sempat) menulis. Hmmmm sebenarnya sih apalah arti sebuah hormon kalau kita bisa mengendalikannya. Semangat semangat Zah….!!!
Terus inti dari tulisan ini apa Zah? Intinya mah lagi suntuk dan butuh piknik atau sekedar menikmati (menikmati lhooo yaaa, bukan sekedar menyantap) es krim sembari ditiup semilir angin atau sekedar gowes dipagi hari #ngarep.

Selasa, 07 Maret 2017

Hujan ⛈

Sewaktu saya kecil, orang tua saya selalu melarang keras kalau saya hujan-hujanan. Sehingga, seringnya, saya curi-curi kesempatan dengan kawan-kawan saya untuk bermain hujan (Asyiiik siiih 😁). Pulangnya? Kalau tertangkap basah, yaaa….sudah pasti kena omelan. Hehe…
Hal tersebut juga masih sering saya jumpai sekarang ini. Banyak orang tua yang melarang anaknya bermain hujan. Kebanyakan disebabkan karena ketakutan mereka jika bermain hujan, nanti si anak bisa sakit. Masuk anginlah, sakit kepalalah, batuk pileklah. Padahal kalau menurut Pak Ustadz (sewaktu saya ikut kajian, wuidiiih kajian 😎 #kalem ah), sebenarnya hujan itu bukan penyebab penyakit, melainkan “rahmat”. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Asy-syura (42) ayat 28 yang artinya:
 Dan Dialah Yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung, Maha Terpuji. 


Jadi, kalau ada orang yang menyalahkan hujan atas sakitnya seseorang, rasanya hal tersebut kurang tepat ya. Terus bagaimana kalau ada orang yang kehujanan terus sakit setelahnya? Nha kalau ini kita butuh penelitian lebih lanjut. Bisa jadi orang tersebut belum makan sebelum ia kehujanan. Nha bisa jadi karena belum makannnya itulah alasan sakitnya. Atau mungkin memang daya tahan tubuh si orang yang sakit tersebut memang sedang lemah, sehingga ketika terguyur hujan, dia langsung merasa sakit. Apalagi kalau sebelumnya orang tersebut panas-panasan (apaaa daaaah, panas-panasan πŸ˜†).  Suhu tubuh yang semula tinggi (karena panas-panasan), kemudian tiba-tiba terguyur hujan, maka otomatis suhu tubuhnya akan menurun. Nha jika termoregulasi tubuh si orang tersebut kurang tanggap, otomatis perubahan suhu tubuh yang drastis ini juga bisa jadi penyebab sakitnya.
Percaya kalau perubahan suhu yang drastis itu bisa membuat seseorang sakit? Coba deh buat percobaan sama ikan. Caranya?
1. Masukkan ikan 🐠 (bisa pakai ikan mas kecil) ke dalam wadah berisi air hangat
2. Kemudian tambahkan air panas, sehingga suhu airnya meningkat (kira-kira sampai airnya kalau dipegang agak “semelet” gituuu)
3. Masukkan es ke dalam wadah tersebut sehingga suhu air menurun
4. Tambahkan terus es ke dalam wadah tersebut sehingga suhu air menurun drastis 
5. Amati perubahan yang terjadi pada ikan (Kalau dulu saya pernah nyoba, ikannya langsung collapse #ups, soriii Ikan, tenang-tenang di alam sana yaaa…).

Kembali ke permasalahan hujan ya….
Ngomong-ngomong sore tadi saya memang sengaja mengunjungi kediaman salah seorang siswa sembari bersepeda. Ketika berangkat, langit memang agak mendung, tetapi tidak hujan. Saya pikir hujan mungkin baru akan turun selepas mahgrib. Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung menyambangi kediaman Si Krucil ini dengan menyusuri rute (rute yang baru bagi saya) yang sudah diberikan oleh ibunya. Karena rute baru, alhasil banyak tanya sana-sini supaya tidak salah jalan (tapi akhirnya sempat nyasar juga πŸ˜…). 


Ketika salah arah, untungnya tahu jalan pulang πŸ˜„
(Bukan lirik butiran debu)

Persimpangan yang selalu membuat galau 
(Ke kanan atau kiri ya? πŸ˜…)

Nha, sesampainya di kediaman krucil, diajaklah saya ngobrol sama ibunya. Membicarakan tetek bengek yang membuat saya lupa waktu (karena keasyikan). Dan ketika saya melirik ke arah langit, “oh noooo, mendung sekali”. Takut terjebak hujan di jalan, pamitlah saya dengan si ibu. Dan ternyata hujan memang tidak pernah ingkar janji. Sebelumnya ia memang telah memberikan pertanda (mendung), isyarat yang berarti tak lama lagi ia akan datang. Benarlah, baru empat atau lima kayuhan dari gerbang rumahnya krucil, hujan pun datang. Oow… (masa balik lagi??? πŸ˜…) saya nggak mau kalah sama hujan ah, terjaaaang…(kepala yang sebelumnya agak nyut-nyutan semoga nggak tambah parah, mmmmm). 


Tunggu sebentar, ini kenapa habis dipuji, rombongan hujannya makin banyak yang datang yaaa. Hihi...  
Di tengah perjalanan, hujan pun rasanya tak ingin mengalah dengan saya (tambah deraaassss, berteduh deh). Berteduh? Katanya hujan nggak bikin sakit? memang, bukannya takut sakit, tapi kalau hujannya bawa rombongan banyak begini kan bisa bikin baju basah, nha kalau basahnya kuyup, nanti kan jadi tak enak dipandang πŸ˜….



Sepuluh menit, dua puluh menit, hujan tak juga reda. Alhasil saya mencoba bersahabat dengan hujan yang sudah semakin sedikit jumlahnya (bersepeda di bawah guyuran hujan deh judulnya). Kepala saya apa kabarnya? Alhamdulillah nyut-nyutnya sudah tidak terasa. Mungkin karena perasaan senang (saat main hujan), membuat tubuh memproduksi endorphin lebih banyak. Nha Si Endophin inilah yang mungkin menyamarkan rasa nyut-nyutan di kepala, hehe…
Senja, hujan, langit yang mulai gelap, lampu-lampu jalanan yang sudah mulai menyala, ah, rasanya ada yang kurang lengkap.



Kembali ke “hujan”. Jadi kalau masih ada yang menyalahkan hujan atas sakitnya seseorang, saya agak kurang sepaham (ingatkan saya kalau lupa yaaaa). Terbukti, nyut-nyut di kepala saya rasanya berkurang setelah terkena guyuran hujan (yang datangnya nggak terlalu banyak bawa rombongan). Hujan itu rahmat. Hujan juga salah waktu yang mustajab untuk berdoa (buru-buru doa: "Ya Allah, kasih rezeki Ya Allah...", eits salah, yang bener itu...."Allahumma shoyyiban naafi'an - Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat - HR. Bukhari). 
Hujan, waktu yang paling asyik untuk mengenang #eh. Jadi ingat penggalan syairnya sahabat alam:
“Hujaaaan, terjadi karenaaaa…
Air laut menguap, terkena sinar mentariii….
Terbentuklah titik air pada awan
Smakin lama smakin menebal
Dan, akhirnyaaa….aawan taaak sanggup lagiii….menoopaaaang….
Titik-titik air itu…..
Turunlaaah hujan…”

Simpulan dari tulisan saya kali ini adalah:
1. Sesekali perlu main hujan (tapi pastikan dulu, kondisi badan sedang fit saat mau main hujan)
2. Kalau hujan sudah memberi tanda (mendung), bersiaplah (bawa payung atau jas hujan) 
3. Jangan pernah jadikan “hujan” sebagai “kambing hitam” atas sakitnya seseorang, karena sesungguhnya hujan itu adalah rahmat (QS 42: 28)

Minggu, 05 Maret 2017

Semesta Menjawab (Bagian 2)

Cahaya kuning keemasan nampak berpendar rapi dari ufuk barat. Satu dua kilauannya jatuh tepat di pelupuk mata, membuat kedua telapak tangan bergegas untuk menutupnya.

"Mba, sepedaan lagi yuuuk", ajak Si Adik yang lagi-lagi minta gowes. Berhubung cuaca kemarin sore cukup bersahabat dan saya pulang lebih awal dari biasanya (pulang pas asar, termasuk pulang gasik.. 😁) akhirnya saya pun menyetujui ajakan Si Adik Kecil. Karena ban Si Black agak kempis, akhirnya kami memutuskan untuk singgah ke tempat pompa ban terlebih dulu agar performa Si Black dan Si Red (Red: tunggangan Si Adik Kecil) lebih oke di jalanan.

Isi angin duluuuu

"Kita mau kemana yaaah?" pikir kami sore itu. "Nhaaaa, mumpung ada partner nih, coba rute baru yuuuk, tapi jarak dekat saja (karena kebetulan kami keluar sudah agak sore). Kita mulai dari Jl. Ovis terus ke Jl. dr. Angka ya, terus di pertigaan belok kiri lewat jl. A. Yani, naiiik terus, sampai sekuatnya (kebetulan jalannya agak menanjak, hehe)", tutur saya menambahkan.

Setelah menaiki tanjakan.. 😎

Dimanakah ini???? πŸ˜ƒ

Seberhentinya Si Black, kami beristirahat sejenak untuk melepas lelah sembari mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi tempat-tempat yang pernah kami (kami: saya dan Black) singgahi. Keringat pun mulai bercucuran. Yessss, semoga banyak kalori yang terbakar.

Selesai mengambil gambar, kami putuskan untuk kembali ke kos karena hari sudah semakin petang. Yeeeeee... jalanannya menurun, sehingga kami tak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk mengayuh sepeda. Sembribit, eh semilir angin pun seolah membasuh dahaga (eh, menguapkan keringat ding hehe).
Kayuh terusss, terus, sampai akhirnya ada seonggok (#eh) dua baris tulisan yang merayu saya untuk berhenti dan mengambil foto kembali.

Cukup Black yang nampang 😁

Akhirnya ikut nampang juga 😁

Langit terlihat semakin gelap. Gumpalan awan mendung pun nampak semakin berat saja. Sepertinya tidak lama lagi akan turun hujan. Dan benar, keesokan harinya, tepatnya pagi tadi, hujan memang benar-benar turun di waktu subuh (gagal gowes pagi deeeh πŸ˜…). Apa boleh dikata, akhirnya subuh tadi bersahabat kembali dengan selimut dan bantal sejenak, kebetulan memang sedang udzur sholat (alaaah.. alasan mulu nih mba'e... πŸ˜…).

Simpulan: jangan tunda apa yang kamu bisa lakukan sekarang. Jangan tunggu esok. Karena kita tidak pernah tahu, hal apa lagi yang akan terjadi esok hari, yang akhirnya menjadi alasan untuk menunda kembali. πŸ˜„

Sabtu, 04 Maret 2017

Semesta Menjawab

Kemarin sempat nulis kalau sedang kangen sekali ngajak jalan Si Black. Akhir-akhir ini, mendung, hujan, tugas, cucian baju, selalu saja menjadi alasan untuk mengurungkan rencana gowes. Tapi pagi hari ini tidak. Soal-soal sudah dikebut semalam (malah nyaris ganti hari, semalam sepagi berarti #eh). Cucian baju sudah diselesaikan kemarin sore. Hujan juga sepertinya ingin beristirahat sejenak pagi ini (meski akhirnya sempat jatuh butiran-butiran air yang halus, membasahi pipi). Dan memang sedari kemarin si adik kecil (teman kos) merengek minta diajak gowes (setelah hari sebelumnya gagal jogging gara-gara bangun kesiangan 😸😸😸).

Masih agak gelap, tapi ini termasuk kesiangan

Horeeee akhirnya rencana gowes hari ini terlaksana, meski rutenya pendek (mentok ke alun-alun) gara-gara ban depan Si Black agak kempis dan tempat pompa ban belum ada yang buka (harus beli pompa ini mah...). Senang karena setelah hampir dua pekan vakum, akhirnya bisa gowes lagi. Senang juga karena akhirnya punya kawan gowes (lumayan dapat tukang foto gratis πŸ˜…).

Langit masih berkabut
(Pipiiii, tolong dikondisikan)

Sayangnya pagi ini tidak ada kawanan burung yang melintas. Tapi setidaknya kami bisa menghirup udara segar pagi ini.

"Mba ternyata kesel yooo", celetuk si adik. Aduuuh setelah sebelumnya dia minta rute yang agak jauh dan saya nego gara-gara ban Si Black agak kempis, ternyata dia yang ngeluh duluan, hihi (tertawa jahat). Baru terasa kan...

Keringat pun mulai bercucuran. Semoga ada banyak kalori yang terbakar pagi ini... πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯
Semoga, esok pagi, hujan dan mendung tidak datang lagi. Ingin menyambangi burung-burung kecil yang melintas di langit saat pagi hari. Ingin membakar kalori lagi.

#salam gowes
#salam olahraga
#mens sana in corpore sano

Kamis, 02 Maret 2017

Missing gowes already.. 🚲

Senin ketemu Senin lagi, cepat sekali rasanya. Dua pekan terakhir sepertinya terlena (terlena, karena tuntutan) sekali oleh aktivitas di sekolah. Tak ada waktu untuk olahraga, sekedar membakar kalori dalam jumlah sedikit pun rasanya tak sempat ( gak mau disempetin sih). Ya badaaaan... Rasa-rasanya tambah berat saja. Terasa sekali kalau sedang jalan, apalagi naik tangga (#ngaaap). Timbunan lemak sepertinya senang sekali karena bisa lebih lama tinggal di tubuh saya. Tapi efeknya saya yang ngerasain nih, kepala mulai nyut-nyutan, leher mulai pegal-pegal, punggung apa lagi (duuuh orang tua banget siiih).

Akhir-akhir ini setiap berangkat atau pulang sekolah agak sedih rasanya. Setiap melewati garasi, Si Black tampaknya kesepian, melambai-lambai, ingin sekali diusap, diajak keliling menghirup udara segar (aduuh maaf Black, belum bisa.. 😫). Biasanya saya selalu menyempatkan 30 menit di pagi hari untuk mengajak Si Black jalan-jalan. Tapi akhir-akhir ini cuaca kurang mendukung, pagi hari seringnya hujan, sore pun demikian. Ditambah lagi deadline pembuatan soal-soal yang tak bosan-bosannya mengekor, membuat saya betah berlama-lama di dalam kamar, berduaan dengan Si Mesi πŸ’». Alhasil, setiap kali akan tidur malam, saya hanya bisa memandangi foto-foto goweser lain (di grup) yang sudah bolak-balik menaklukkan Baturaden, melanglang buana ke kota-kota sebelah (Lho memangnya saya mau ngajak Si Black kesana? Hehe enggak juga sih, setidaknya pengen bawa Si Black ke alun-alun, atau ke Taman BalKem, sekedar mengamati burung-burung yang biasanya melintas di pagi hari, sekedar menikmati udara pagi yang belum banyak bercampur polutan).

Ah.. Black, I Miss you, already....

Kaki-kaki ini rasanya sudah ingin sekali mengayuh pedal Si Black. Tangan sudah ingin menggenggam stangnya sambil sesekali memainkan bel atau mengganti gigi saat jalanan tiba-tiba naik atau turun, sesekali melempar senyum pada goweser lain, melihat dedaunan yang masih tersipu malu dibawah naungan langit yang masih gelap.

Sehat sehat terus Black, meski akhir-akhir ini jarang tersentuh (Semoga sebelum mudik bisa kencan sama Si Black).

Dengannya selalu menyenangkan πŸ˜„

Simpulan: rajin-rajin olahraga supaya badan sehat ( nggak banyak keluhan pegel dan kawan-kawannya, macam saya... 😁).